
Keesokan harinya, Leiya berangkat ke kantor. Ia secara resmi mulai bekerja di sana.
Melihat ruangan tempatnya bekerja, Leiya mengangguk puas. Ia mulai mengerjakan desainnya yang telah disetujui.
Karyawan di sana melihat-lihat dengan ingin tahu, banyak yang mengenal desainer Anti dan merasa beruntung melihatnya mendesain baju langsung di depannya.
Ara yang mengantar barang ke ruang Anti tidak ingin pergi, ia ingin belajar darinya. Entah apakah dia bisa beruntung.
Leiya yang merasa diperhatikan pun mendongak
" Apakah ada yang lain?"
Ara tersipu dan berbicara dengan gugup
" Bisakah aku melihatnya di sini? aku tidak akan mengganggumu, dan jika perlu bantuan panggil saja aku"
Leiya mengangguk menyetujui dan terus melakukan pekerjaannya.
Ara tersenyum senang dan terus memperhatikan Leiya bekerja, ia melihat jahitan Anti sangat unik, memiliki pola rumit yang sangat detail. Ara terkadang bingung karena teknik menyulam Anti yang belum ia pelajari, untung saja Anti orang yang ramah, ia mengajarkan kepada Ara langkah-langkahnya dengan mudah dipahami.
Leiya memberi kesempatan pada Ara untuk mencoba apa yang diajarkannya, Ara merasa senang sekali
" bisakah aku?"
" ya tentu, kemari dan sulam bagian ini" kata Leiya menunjuk bagian lengan.
Ara mengangguk dan mencoba dengan hati-hati takut merusak desain Anti yang cantik ini.
Leiya melihat hasilnya dan mengangguk
" tidak buruk, dalam perusahaan ini pasti tidak terlalu banyak yang menggunakan sulaman. Kebanyakan memakai mesin jahit karena banyaknya pesanan, kamu sudah menguasai dasar-dasarnya dengan baik hanya perbanyak berlatih"
"Aku selalu menggunakan sulaman di bagian-bagian tertentu, lihat bukankah lebih halus saat kamu menyentuhnya. Walaupun terlihat tidak berbeda dengan buatan mesin jahit, ini lebih nyaman dipakai" jelas Leiya
Ara mengangguk menyetujui, ia sangat berterima kasih kepada Anti karena mau mengajarinya.
Tidak terasa sudah waktunya makan siang, Ara pergi membawakan makanan untuk Anti dan segera kembali ke tempat duduknya untuk makan.
Leiya makan dengan lahap, makanan di sini tidak buruk. Ia melihat-lihat teleponnya membaca artikel terbaru, saat melihat berita terbaru diberanda ia tertegun.
Berita teratas menunjukkan transaksi hitam beberapa platform online, sekarang polisi sedang melakukan penggledahan menyeluruh siapa pun yang terlibat.
Leiya terkejut karena ia ingat dengan jelas platform-platform inilah yang menyebarkan berita buruk tentangnya sampai tidak bisa tidur.
__ADS_1
Mungkin Yami yang membayar mereka untuk menyerangnya secara online, melihat mereka sekarang dalam keadaan menyedihkan. Leiya dalam suasana hati yang baik.
Setelah selesai makan, ia melanjutkan pekerjaannya dengan cepat.
" Hallo pak presiden" sapa Leiya yang mau pulang kerja dan bertemu presiden Arya di depan lift.
" hallo, bagaimana hari pertamamu bekerja apakah semua berjalan lancar?" tanya Arya menaiki lift yang sama dengan Leiya
Leiya menyapa dengan sopan, ia tidak berharap Presiden akan menaiki lift yang sama. Bukankah ada lift ekslusif untuknya?
" Ya semuanya baik, terimakasih pada anda karena menyiapkan fasilitas dan tim yang baik" kata Leiya sopan
" Seharusnya" ujar Arya
Setelah itu suasana menjadi hening, inilah yang tidak disukai Leiya dari presiden ini. Membawa suasana canggung, Leiya tidak tahu harus berkata apa.
Tiba-tiba lift bergetar, Leiya panik segera mencari pegangan yang ternyata lengan Arya, Leiya segera melepasnya setelah getaran berhenti
" Maaf presiden saya tidak bermaksud apa-apa"
Arya memandang dengan acuh dan segera memalingkan muka
" Tidak masalah"
Leiya membuka matanya dan melihat ke samping menatap presiden dengan penuh syukur.
" berdiri dengan benar dan pegang dinding lift, jangan panik" perintah Arya
Leiya mengangguk menuruti tapi kenapa tangannya tidak dilepas dari pinggangku? Hentikan! Pikiranku sudah kacau, mungkin presiden hanya tidak ingin melihatnya mempermalukan diri sendiri.
Tidak lama lampu lift padam, Arya sudah memencet tombol darurat dan menunggu teknisi untuk segera menyelamatkan mereka. Tapi ia mendengar nafas Leiya yang tidak stabil
" Anti apa kamu baik-baik saja" kata Arya khawatir
Leiya merasa sesak didadanya melihat sekelilingnya yang gelap gulita, ia mencoba yang terbaik untuk tenang
Arya merasa Leiya tidak benar, nafasnya sangat cepat, tanpa berpikir panjang ia memeluk Leiya ke depan dadanya.
" Tenanglah tidak akan terjadi hal apapun selama aku di sini" ujarnya mengelus punggung Leiya.
Leiya akhirnya tenang di bawah kenyamanan darinya, tapi Leiya masih memegang bajunya dengan erat.
Selang beberapa menit akhirnya pintu lift terbuka, Arya memegang Leiya dan berjalan ke luar.
__ADS_1
"Tuan apakah anda baik-baik saja" tanya sekertaris setelah melihat arya ke luar, melihat wanita dipelukannya. Sekertaris terkejut sejenak dan kembali tenang
"Siapkan mobil, ayo pergi ke rumah sakit"
" Tuan apa kamu terluka? Segera aku akan mengaturnya" katanya terburu-buru
Leiya yang sudah sadar dari keterkejutannya ingin melepaskan diri tapi digenggam erat oleh Arya
" Ayo aku antar kamu ke rumah sakit"
Leiya menggelengkan kepalanya
" Presiden aku baik-baik saja, aku hanya perlu menenangkan diri. Kamu.. Tolong lepaskan aku"
Arya menurut dan melepasnya, tapi Leiya yang kakinya berubah menjadi jelly akan jatuh lagi. Untung segera ditangkap kembali oleh Arya.
" Jika kamu tidak ingin ke rumah sakit maka aku akan mengantarmu pulang" kata Arya sudah menggendong Leiya ke mobil.
Leiya yang tidak siap hanya bisa membenamkan wajahnya didadanya, ia merasa malu sekali sampai telinganya berwarna merah.
Sesampainya di rumah Rifa, Leiya menghela nafas lega
" Terimakasih presiden untuk hari ini, saya minta maaf tentang perilaku saya sangat tidak sopan tadi" kata Leiya membungkuk
" Tidak apa-apa, kembali dan istirahatlah. Aku pergi" kata Arya sopan dan menyuruh sopir mengemudi
" Baiklah hati-hati" kata Leiya melihat mobil itu berjalan pergi.
Leiya yang harus menaiki lift lagi merasa lemas, untung ada beberapa orang di dalam lift, dan tidak mungkin setiap lift rusak. Kemungkinan lift rusak dan menyebabkan kematian hanya 0,000015 persen di dunia.
Setelah menenangkan dirinya, leiya tidak lagi panik dan masuk dengan orang lain.
Setelah akhirnya sampai di rumah, Leiya langsung merobohkan dirinya di sofa. Setelah kelelahan secara fisik dan mental ia tertidur.
Sebelum tidur, ia berpikir sepertinya masalah ini tidak boleh ditunda, ia harus segera konsultasi dengan psikolog.
Laskar ke luar dari kamar dan melihat ibunya tertidur, ia tidak berdaya dan segera membantu ibunya merapikan tas kerja dan lainnya ke kamar.
Melepaskan sepatu dan kaos kaki bubu dan meletakkanya di rak, membawa baskom kecil untuk membasahi wajah bubunya dan membasuh kakinya.
Ia belajar semua ini setelah melihat nenek Wen melakukannya, sekarang nenek Wen tidak ada maka hanya dirinya yang bisa mengurus bubunya.
Setelah melakukan serangkaian hal itu, ia kembali ke kamar bermain dengan ponselnya.
__ADS_1