
" Tunggu Aya, bisa bantu aku? Sepertinya tanganku tergores sesuatu" kata Bai menunjukkan lengan kirinya yang sedikit berdarah.
" Kenapa kamu begitu ceroboh, akan aku ambilkan kotak p3k dulu. Tunggu sebentar"
Leiya beranjak ke sudut ruangan dan mengambil sekotak p3k yang ada di lemari.
" Ini cepat obati sebelum terinfeksi" kata Leiya menyerahkan kotak p3k pada Bai.
" Bisa tolong gulungkan kemejaku"
Leiya mengangguk dan menggulungkan lengan kemeja Bai
" Aww"
"Maaf maaf, sepertinya rambutmu tersangkut ke kancing bajuku. Kenapa kamu tidak mengikatnya" kata Bai dengan ekspresi minta maaf
" Ya tidak apa-apa, aku memang terlalu ceroboh. Ini sudah aku gulungkan, cepat obati aku akan ke atas dulu"
Bai mengangguk dengan tenang membuka kotak p3k dan membungkus lengan kirinya yang ia gores sendiri dengan pisau kecil.
Leiya berjalan ke atas dan melihat Laskar yang duduk diam menatap Arya yang memiliki ekspresi kusut.
Melihat suasana di dalam ruangan yang hening, Leiya segera mengerti kalau panggilan Arya hanya untuk mengalihkannya. Kenapa kamu begitu bodoh, sejak kapan Laskar masih menangis.
Arya yang terus melihat ke pintu segera bangkit menyusul Leiya yang akan pergi dan memegang lengannya.
"Aku salah"
Leiya yang tadinya ingin marah melihat Arya seperti ini, hatinya tidak tahan. Ia menghela napas keras.
" Sudahlah, bawa Laskar turun. Aku akan membuatkannya susu"
Arya segera mengangguk senang, langsung membawa Laskar turun bersama Leiya.
Bai melihat Leiya turun dan di belakangnya ada Arya dan Laskar.
Arya segera meletakkan Laskar di sofa dan bangkit menuju dapur menghampiri Leiya yang sedang membuat susu.
"Hallo Laskar, bagaimana kabarmu. Kali ini paman membawa hadiah untukmu, lihat dan bukalah" kata Bai menyerahkan sebuah bingkisan.
Laskar mengambil hadiah dari Bai dan membukanya, di dalam terdapat sebuah dokumen.
" Apa ini paman?"
" Saham Bar Singu, ibumu memiliki 20 persen saham di sana. Kini aku memberimu 5 persen dari saham yang aku miliki" kata Bai menjelaskan.
Meskipun hanya 5 persen, dengan kondisi Bar Singu yang telah berkembang pesat. 5 persen ini bisa menghasilkan beberapa ratus juta.
" Terima kasih paman" kata Laskar mengucapkan terima kasih dengan tersenyum.
" Gunakan dengan baik, paman akan pergi terlebih dahulu" ucap Bai bangkit menuju dapur untuk berpamitan dengan Leiya.
" Leiya aku pergi dulu ya, masih ada urusan"
" Baiklah, kamu tidak mau makan dulu? Bukankah kamu mengatakan ingin membicarakan suatu hal yang penting" kata Leiya mengangkat alisnya dengan tatapan bertanya
" Lain kali aku akan datang lagi, hari ini masih ada urusan mendesak. Aku pergi ya"
__ADS_1
" Okelah" ujar Leiya memberi tanda ok dengan tangan kanannya.
Arya mendengus ke arah Bai dan mengabaikannya.
" Apa ini?" tanya Arya pada Laskar melihat sebuah dokumen dalam kotak.
" Oh itu hadiah dari paman Bai, dia berkata itu adalah dokumen transfer saham"
Arya melihat dokumen itu dan mencibir
" Kamu adalah anakku, aku bisa menyerahkan seluruh Perusahaan Altic padamu. Hadiah kecil ini tidak ada apa-apanya" ucap Arya meremehkan.
Leiya memutar matanya jengah, ia menyerahkan sebotol susu untuk Laskar yang masih hangat.
" Itu adalah hati Bai, jangan meremehkan pemberian orang lain"
Arya hanya mengangguk tidak berani membantah.
" Ya kamu benar"
Bai membuka pintu mobil dan betapa kagetnya ia saat melihat Raya yang berjongkok di kursi pengemudi.
"Ada apa denganmu?" kata Bai dengan dahi berkerut.
" Ussstt cepat masuk dan tutup pintunya"
Raya segera bergeser dan memberi isyarat pada Bai agar cepat.
" Apakah kamu dikejar anjing?" cibir Bai pada tindakan Raya yang tidak masuk akal.
" Kamu anjing!" ketus Raya dengan mulut bau Bai.
" Apakah kamu ke sana mencari pemukulan, aku bisa memenuhimu. Kenapa harus jauh-jauh ke sini" kata Raya tidak senang
Bai memelototi Raya dan membalasnya dengan cemberut
" Siapa yang berani memukulku, aku melakukannya sendiri"
" Tunggu, kamu bilang ini rumah kakakmu?" tanya Bai tiba-tiba teringat yang diucapkan Raya diawal yang diangguki oleh Raya
" Kakakmu Arya?"
Raya menganggukkan kepalanya lagi.
" Sialan! Arya ini memang sangat licik" kata Bai marah memukul setirnya.
Saudara perempuannya pasti tertipu dengan muka Arya yang munafik, bagaimana dia begitu mudah dibodohi.
Raya melihat ponselnya dengan sedih,sayang sekali ia tidak memfoto apapun. Hilang sudah harapannya untuk memeras uang dari kakeknya.
Bai mengendarai mobilnya menuju kasino dengan cepat.
Setelah sampai, ia langsung masuk tanpa melihat Raya
" Ini sample ambil dan lakukan tes DNA" kata Bai menyerahkan sebuah tas pada El
Leiya tidak akan percaya apa yang dikatakannyaa tanpa bukti, maka Bai hanya bisa mencuri sample Leiya dengan diam-diam.
__ADS_1
" Baik" jawab El mengambilnya dan pergi.
Raya sudah menghilang entah kemana, Bai tidak peduli dan melanjutkan mengurus pekerjaannya.
......................
Arya yang akan segera pergi sekarang sangat tidak senang karena mengingat ucapan Bai yang berkata dia akan datang lagi.
Tapi pekerjaannya sangat penting, ia hanya bisa pergi dengan berat.
"Ay aku akan pergi sekarang, kamu jangan dekat-dekat dengan Bai itu"
" Dia hanya temanku, bagaimana kamu bisa memakan cukanya. Pergilah jaga diri baik-baik"
" Hmm aku akan" kata Arya senang karena Leiya memperhatikannya
"Laskar, ayah akan pergi dalam perjalanan bisnis. Kamu jaga baik-baik ibumu" kata Arya menepuk kepala Laskar
" Tentu saja aku tahu tidak perlu kamu mengingatkannya lagi" kata Laskar
" Kalau begitu aku pergi, sampai jumpa"
......................
" Bagaimana apakah persiapan untuk festival sudah siap?" tanya Dio pada Yami
" Tentu, lihatlah" kata Yami menunjukkan baju-baju yang sudah jadi
" Ya ini cantik" ujar Dio puas dengan pekerjaan Yami.
" Kamu telah bekerja keras"
" Tidak apa, aku senang" kata Yami dengan bangga
" Nanti akan ada panitia mengecek ke sini, biar aku tunjukkan karyamu ini. Dia pasti akan kagum"
" Hmm Tentu saja"
toktoktok
"Lihat, itu pasti orangnya. Aku akan menyambutnya" kata Dio beranjak dari kursinya
Seri masuk dan di sambut oleh kedua pasangan itu dengan senyum, sebenarnya ia sangat malas datang ke sini karena saat perjamuan itu mereka menjelek-jelekkan Anti! Siapa yang tahu ternyata Anti tinggal dalam keluarga seperti itu.
Ya Seri adalah penggemar berat Anti, dia belajar desain ingin suatu hari nanti bertemu idolanya.
Sekarang ia harus bertanggung jawab untuk acara festival busana, jika dia bertanggung jawab dengan baik maka dia pasti bisa mengajukan promosi ke departemen desain.
" Selamat datang nona, perkenalkan ini istriku Yami, dia yang merancang gaun perusahaan kami untuk festival" kata Dio memperkenalkan Yami pada Seri
Seri hanya mengangguk sopan, demi pekerjaan dia harus tetap profesional.
" Apakah semua sudah dipersiapkan dengan baik?" tanya Seri mengeluarkan buku catatan dan pena
" Tentu saja nona, apakah anda ingin melihat baju festival kami?" tanya Dio dengan senyuman
" Boleh" Seri setuju dan mengangguk
__ADS_1
" Ayo lewat sini"
Dio menunjukkan arah dan diikuti oleh Yami dan Seri.