Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 29. Bai


__ADS_3

Leiya bangun dengan linglung, kepalanya sedikit pusing. Ia meraba-raba di sampingnya kenapa sangat hangat? Tunggu ini wajah manusia, Leiya membuka matanya dan saat melihat ke samping ia sangat terkejut.


" Aaah, kamu...kenapa kamu di kamarku!" kata Leiya menyeret selimut ke dirinya


Arya yang terbangun dari tadi melihat ke arah Leiya sambil tersenyum


" Nona lihatlah sekeliling, kamar siapa ini"


Leiya melihat ruangan ini yang asing segera menyadari kalau ini bukan kamarnya, melihat Arya yang bertelanjang dada Leiya cemas segera mengintip ke dirinya sendiri. Melihat pakaiannya yang telah diganti Leiya panik.


" Kamu, apa yang telah kamu lakukan!" katanya dengan ekspresi gugup


" Bagaimana menurutmu?" tanya Arya balik dengan senyum yang tidak bisa ditebak


" Leiya, bagian tubuhmu mana yang belum aku lihat? Kita bahkan sudah mempunyai anak bersama" kata Arya menggodanya


Leiya marah melempar barang di sekitarnya ke arah Arya


" Dasar mesum!" ujar Leiya lalu bangkit ke kamar mandi


Leiya melihat ke cermin kamar mandi, ia lega tubuhnya baik-baik saja. Tapi bagaimana dia bisa memakai kemeja Arya? Sudahlah ayo keluar dulu.


Arya melihat Leiya keluar dan tersenyum padanya


" Sudah? Ayo turun sarapan sudah disiapkan" kata Arya keluar dari kamar diikuti Leiya yang terus menunduk.


" Aduh! Kenapa kamu berhenti tiba-tiba" kata Leiya kesal karena kepalanya yang membentur punggung Arya


" Makanya jangan berjalan dengan mununduk" ucap Arya lalu memegang tangan Leiya dan melanjutkan berjalan, Leiya mencoba melepas tangannya tapi tidak bisa.


Setelah sampai di ruang makan, ada paman toni yang sedang menyajikan makanan. Melihat mereka turun, paman toni tersenyum menyapa lalu balik ke dapur.


" Minum sup mabuknya dulu supaya tidak sakit kepala lagi" kata Arya menyodorkan mangkok


Leiya menurut tidak banyak bicara, tiba-tiba ia teringat anaknya Laskar. Seharusnya hari ini dia sekolah


" Dimana Laskar?"


" Tenang saja, dia sudah berangkat sekolah"

__ADS_1


" oh, kalau begitu bukankah aku juga harus berangkat kerja, aku harus pulang ganti baju" kata Leiya yang ingin kabur


Arya mencegahnya pergi dan berkata


" Bukankah bosmu ada disini, selesaikan makanmu nanti aku antar pulang"


" oh" jawab Leiya pasrah


Arya mendengus melihat Leiya yang ingin melarikan diri, jadi sepertinya sudah kebiasaannya untuk membuang sesuka hati setelah digunakan. Seperti lima tahun lalu.


......................


Bai mengendarai mobilnya menuju panti asuhan kasih bunda, ia dengan senyum menyambut anak-anak dan membagikan makanan yang dibawanya lalu pergi menemui dekan dikantornya.


" Bai tumben mencariku, apakah kamu butuh sesuatu?" tanya Dekan karena biasanya Bai langsung pergi setelah melihat anak-anak.


" Dekan aku ingin bertanya apakah dua puluh lima tahun lalu kamu menemukan bayi ini" tanya Arya menyerahkan sebuah foto.


Dekan mengambil foto itu dengan penasaran, di sana ada foto sepasang bayi.


" dua puluh lima tahun waktu yang sangat lama, aku bahkan tidak ingat. Tapi waktu itu ada insiden besar terjadi, banyak bayi-bayi yang diculik dan ditemukan polisi. Ada dua bayi yang terlambat dijemput orang tuanya akhirnya dititipkan disini"


" Tapi hanya satu bayi yang diambil, sedangkan yang lain diadopsi. Aku tidak tahu apakah bayi yang kamu cari mungkin salah satu dari mereka" jelas Dekan tentang kejadian itu, ia sangat ingat dengan jelas karena para pedagang yang hampir menyusup dan mengebom panti ini.


" Lalu Dekan apakah kamu ingat orang tua yang mengadopsi bayi itu? atau alamatnya"


Dekan berpikir sejenak lalu bangkit membuka lemari dokumen, setelah beberapa saat ia menemukan apa yang dicarinya.


" Ini alamat rumahnya, mungkin mereka sudah pindah. Bagaimanapun sudah lama sekali" kata Dekan menyerahkan secarik kertas yang menguning.


" Terima kasih Dekan, kalau begitu Bai pamit dulu" pamit Bai beranjak pergi


" Tunggu, ini bawakan buah sawo untuk ayahmu. Kebetulan aku baru memetiknya masih segar" kata Dekan menyerahkan sekantong plastik buah kepada Bai.


Bai menerimanya dan pamit pergi, ia menyimpan kertas itu dengan hati-hati di dalam sakunya.


" Ayah aku pulang, ini buah dari Dekan untukmu" kata Bai menyerahkan sekantong plastik buah


Rama menerimanya dan langsung menuju dapur untuk menyajikannya.

__ADS_1


" Dekan tua itu tahu saja kalau aku sedang mencari sawo, ayo Bai makan bersama"


Bai menggelengkan kepalanya menolak dan hendak pergi lagi.


" Kenapa kamu selalu bepergian akhir-akhir ini, sekarang temanilah orang tua ini makan. Kamu bisa pergi lagi nanti" kata Rama kesal dan duduk di halaman, Bai dengan pasrah duduk di sampingnya.


" Lihat ini sangat lezat, memang Dekan tua itu sangat jago dalam menanam buah. Tidak sia-sia aku menyelamatkannya waktu itu" ujarnya dengan senang hati.


Bai ikut memakan buah itu dan memandang halaman luasnya dengan tenang.


Setelah beberapa saat menghela nafas, Rama akhirnya berbicara dengan sedih


" Bai apakah kamu menyalahkan ayah?"


Bai mengangkat alisnya heran dan menatap ayahnya sambil tersenyum


" Bagaimana bisa, ayah kamulah yang sudah membesarkanku menjadi sekarang ini. Tentang saudara perempuanku jika memang ditakdirkan maka kami pasti bertemu, aku tidak akan menyerah mencarinya. Belum terlambat sekarang ayah" kata Bai memutar cincin dijarinya.


Rama menghela nafas lelah, entah keputusannya untuk memberitahu kebenaran kepada Bai itu apakah sudah tepat


" Pergilah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan mencari teman lamaku" kata Rama melambaikan tangannya.


Bai menatap wajah sedih ayahnya dan merasa bersalah, memang setelah mengetahui kebenaran dia terlalu fokus mencari saudaranya dan tidak terlalu memperhatikan ayahnya.


" Ayah maafkan aku karena tidak menyempatkan waktu untukmu, akhir minggu ini aku akan membawamu ke lelang amal. Jaga dirimu jangan terlalu banyak minum" kata Bai lalu berdiri pergi


Rama melihat Bai pergi lalu memalingkan mukanya, ia melanjutkan makan buah dengan pikiran yang tidak menentu.


Bai menatap rumah di depannya, rumah itu sangat sederhana tapi masih terawat dengan baik. Bai turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah itu.


" Permisi apakah ada orang" kata Bai


Setelah mengetuk beberapa lama tidak ada yang menjawab, tetangga di sebelahnya yang mendengar pun keluar.


" Tuan, pemilik rumah itu sedang bekerja. Tidak ada orang" kata ibu di sebelah


Bai mendesah yah hari ini bukan hari keberuntunganku


" Maaf bu kalau boleh tahu, apakah mereka memiliki anak perempuan seusia saya?" tanya Bai dengan hati-hati

__ADS_1


" Oh ya mereka punya, tapi aku tidak tahu dimana dia. Dengar-dengar sudah dijemput keluarga asalnya, mereka hanya orang tua angkatnya" ujar ibu itu memberitahu


Bai yang tidak mendapat informasi berguna segera pergi dan berterima kasih pada ibu itu, mungkin malam ini ia bisa ke sini lagi, pasti pasangan itu ada di rumah.


__ADS_2