
Boom
Vas itu pecah dan mengeluarkan asap yang memenuhi seluruhh dapur, Bi Nar langsung pingsan di lantai dapur.
Segera ada satu orang memanjat jendela di dapur memakai masker dan membawa Laskar yang ada di sebelah Bi Nar.
Haris yang baru saja turun melihat pergerakan di dapur segera mengamati dengan cermat, saat melihat Laskar yang dibawa keluar dari jendela oleh orang asing.
Haris siap untuk berlari meninju pria itu, sayangnya ia juga menghirup asap yang membuat tubuhnya lemah. Ia hanya berlari tapi sudah terengah-engah, dan hanya bisa melihat Laskar menjauh.
Tapi melihat dengan cermat, jari-jari Laskar memberi sebuah isyarat. Haris menjadi tenang, ia mengeluarkan telepon dari sakunya untuk menghubungi bawahannya.
Ada tiga orang berpakaian hitam datang dan segera melakukan pembersihan sesuai perintah Haris dan memindahkan Bi Nar ke dalam kamar. Setelah semuanya selesai, ruangan menjadi bersih seperti sedia kala seolah kejadian tadi hanya ilusi.
" Cepat bantu aku, sampai kapan kalian membiarkan aku berbaring di luar!" kata Haris memanggil bawahannya dengan tidak senang.
" Maaf bos"
" Lupakan, ayo pergi dari sini" kata Haris yang segera dibantu kedua bawahannya untuk masuk ke mobil.
Gas itu tidak berbahaya hanya akan membuat orang yang menghirupnya pingsan, aku tidak tahu siapa orang ini yang mencari kematian.
......................
Leiya yang kini berada di mobil Bai entah kenapa merasa gelisah sekali, ia minum air mineral dengan seteguk untuk menghilangkan cemas dihatinya.
" Ada apa?" tanya Bai yang telah memasang sabuk pengaman dan bersiap mengemudi.
" Tidak ada apa-apa, mobilmu bagus juga. Ayo carikan aku satu seperti ini, sangat merepotkan jika harus memesan taksi setiap saat" kata Leiya mengalihkan perhatiannya dan berbicara dengan minat pada mobil Bai.
Bai menyeringai dengan senang hati mendengar permintaan saudarinya.
" Kalau begitu ini untukmu saja, aku punya satu yang sama di garasi. Sudah lama aku tidak memakainya" kata Bai dengan ringan
Leiya kaget dan menggelengkan kepalanya tidak setuju
" Bagaimana bisa gratis, aku akan membayarmu kalau begitu" ucap Leiya dengan cepat mengeluarkan ponselnya untuk mentransfer uang pada Bai.
__ADS_1
" Sudah aku lakukan, cek saja direkeningmu pasti sudah masuk"
Bai hanya bisa menerima uang Leiya tanpa daya, tidak apa-apa ia bisa membeli hadiah lain untuk saudarinya ini.
Bai menyimpan laporan DNA yang sudah keluar di dashboard mobil, ia ingin membicarakan ini jika sudah sampai di rumah Leiya. Jadi Bai dengan sabar menunggu saat itu, ia mengemudi dengan cepat.
Leiya melihat-lihat ponselnya, ternyata Arya telah mengirim pesan tiga jam lalu kalau urusannya akan segera selesai dan bersiap untuk pulang tiga hari kemudian. Ia bertanya apakah Leiya merindukannya.
Leiya tersipu segera memikirkan balasan apa yang bisa ia jawab, orang ini yang jarang mengungkapkan cinta menjadi lebih genit setelah malam itu dan Leiya sedikit tidak terbiasa.
Tapi ia tidak menolak kedekatan Arya padanya, ya tubuh memang lebih jujur daripada mulut (xixixi).
Leiya mengetik lama lalu menghapusnya, sudah beberapa kali. Akhirnya ia hanya mengetik satu kalimat dan mengirimnya.
Bai yang melihat Leiya dengan pipi memerah segera tahu pasti bajingan Arya itu yang mengirimnya pesan, ia memukul setir dengan tidak senang. Untung saja mereka sudah sampai ke rumah Leiya, jika tidak khawatir Bai akan menghancurkan setir ditangannya.
Leiya masuk dan mendapati ruangan yang sangat sepi, mungkin mereka tertidur. Leiya mengajak Bai masuk dan menuangkan air untuknya.
" Aku akan ke atas dulu untuk memanggil Laskar, tidak biasanya dia tidur di jam segini" kata Leiya lalu menaiki tangga menuju kamar Laskar.
" Bi bangun"
Leiya membangunkan Bi Nar dengan cemas, Bi Nar segera membuka matanya dengan linglung. Saat melihat Leiya, Bi Nar segera teringat asap tebal di dapur dan segera memberitahu Leiya dengan cepat.
" Lalu dimana Laskar?" tanya Leiya, ia menggertakkan gigi dengan cemas.
" Nona, aku tidak tahu. Seharusnya aku ada di dapur bersama Laskar entah bagaimana aku bisa berada di kamar tidur" jawab Bi Nar dengan bingung.
Bai mengikuti Leiya ke kamar tamu saat melihatnya turun dengan tergesa-gesa, mendengar penjelasan Bi Nar. Bai menepuk Leiya untuk menenangkan.
" Ayo ke dapur mungkin akan ada petunjuk tersisa"
Segera mereka mencari semua yang ada di dapur, Leiya melihat ada secarik kertas di bawah panci. Segera ia berlari menghampiri dan membuka surat itu.
Setelah membacanya dengan cermat, Leiya sangat marah hingga meremas kertas sampai kusut.
" Haris!! Kamu sangat berani!" geram Leiya.
__ADS_1
" Apa yang kamu temukan?"
Bai mendekat saat mendengar kutukan rendah dari Leiya, ia melihat kertas di tangan Leiya dan segera membacanya.
Tertulis di sana Laskar melakukan percobaan lagi dan mengacaukan dapur jadi dia pergi dengan Haris karena takut Leiya marah padanya.
Bai menatap surat itu dengan mata dalam, ia meletakkannya di meja dan mengambil gelas air. Setelah mengisinya, ia segera menyerahkannya pada leiya.
" Tenanglah, bukankah berarti Laskar aman. Tidak perlu marah dan telepon dia"
Leiya menerima gelas air itu dan meminumnya dengan sekali teguk untuk melampiaskan marahnya.
" Ya kamu benar, aku akan menelponnya sekarang. Bajingan ini sengaja membuatku mati muda!"
Leiya keluar dari dapur diikuti Bai, mengambil telepon di dalam tas yang ia taruh di kursi ruang tamu dan segera memutar nomor telepon Haris.
Segera ada balasan dari pihak berlawanan, sepertinya ia tahu akan mendapat telepon jadi segera mengangkatnya.
" Bajingan kau Haris, dimana bocah bau itu biar aku beri kalian berdua pelajaran. Kembalilah segera!" raung Leiya dengan keras di telepon.
Haris yang sekarang berada di helikopter segera menjauhkan teleponnya dari telinganya, apakah Leiya ingin membuatnya tuli.
" Hei nona maafkan aku, anak baumu sekarang sedang tidur aku tidak berani membangunkannya. Kamu tenang saja, beberapa hari ini aku akan menjaganya"
"Dia akan melakukan beberapa eksperimen lagi, jadi jika kamu tidak ingin rumahmu meledak jangan menyuruhnya kembali, dia akan kembali sendiri nanti"
Setelah mengatakan beberapa kalimat, Haris segera menutup telepon. Ekspresinya kembali menjadi dingin.
" Bos pelacak itu berhenti di koordinat 5⁰23'29.5"S 105⁰16'35.4"E, apakah kita akan turun ke sana?"
Haris melihat titik koordinat dilayar dan memperbesar, itu adalah dermaga di pinggir kota yang sedang dalam masa sibuk.
" turun sedikit jauh, jangan mengagetkan ular itu"
" Baik bos"
Segera pilot mendaratkan helikopternya di hutan dekat dermaga, helikopter Haris adalah helikopter yang sudah diinstal menggunakan mesin baru. Jadi suaranya tidak akan terdengar dengan keras.
__ADS_1