
Bai masuk ke dalam mobil dan menyalakannya, ia mengendarai mobilnya menuju hotel.
Di tengah perjalanan, Raya bangun dengan linglung. Ia hendak membuka pintu mobil dan keluar yang langsung ditahan oleh Bai. Untung saja ini di lampu merah
" Kenapa kamu begitu merepotkan! Apakah tidak ada orang lain yang bisa kamu cari, kenapa selalu aku!" geram Bai yang ditanggapi dengusan Raya
" Putih kecil, kenapa kamu sangat tidak berperasaan. Aku sudah menunggumu bertahun-tahun dan kamu tidak datang, hatiku sangat sakit" kata Raya menangis dan memukul dadanya
Bai menatap Raya dengan mata gelap, ia menarik napas dalam-dalam segera melajukan mobilnya dengan cepat.
" Silahkan tuan apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis hotel tersenyum ramah.
" Saya mau check in, single room untuk satu malam" kata Bai mengeluarkan kartu identitas dan kartu debitnya untuk membayar.
Ia mengambil dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggendong Raya seperti karung.
Resepsionis dengan cepat mengaturnya dan memberikan Bai kartu kamar.
Setelah masuk ke dalam, Bai meletakkan Raya di sana dengan kasar dan hendak pergi tapi merasakan sudut bajunya dicengkeram dengan erat.
"Putih kecil, jangan tinggalkan aku. Kenapa kamu suka sekali melarikan diri, jangan tinggalkan aku sendirian. Aku takut" gumamnya dengan mata tertutup.
Bai menarik bajunya tapi tangan Raya dengan kuat tidak ingin melepaskan, dengan dengusan Bai duduk menarik kursi ke sebalah tempat tidur dan memandang Raya dengan kesal.
Putih kecil siapa lagi dia? Bai yang tidak tahu apa-apa sekarang menjadi seperti ini karena putih kecil siapalah itu, jika dia tahu orangnya. Bai pukul dia untuk menjaga wanitanya sendiri dan tidak merepotkan orang lain. Mungkin dia hanya laki-laki berambut kuning yang Raya temukan sebagai pacar.
Bai mengeluarkan ponselnya dan memainkan game dengan bosan, saat ia melihat Raya secara tidak sengaja, ia melihat kalung yang dipakai Raya keluar dari pakaiannya. Bai tertawa melihat karena model kalung yang sangat jelek, hanya tali hitam dan sebuah bandul bundar yang cembung. Bai tidak menyangka Raya akan memakai kalung murahan.
Melihat mata Raya yang berair, Bai menatap dengan bingung. Masih menangis juga? Bai yang tidak pernah melihat perempuan menangis tidak tahu harus berbuat apa, ia dengan linglung hanya menyeka air matanya dengan jarinya.
__ADS_1
Raya yang tidur tiba-tiba terbangun, ia melihat Bai yang ada di sampingnya dan tangisannya menjadi lebih kencang. Ia bangun dan memeluk Bai dengan erat
"Wohoooo....kamu tidak mati putih kecil, aku sangat takut"
Tubuh Bai kaku, ia ingin segera mendorong Raya tapi tangannya tidak bergerak.
" Putih kecilmu tidak mati, akulah yang mati tercekik olehmu!" kata Bai kesal
Raya mendengar suara Bai pun tertegun, ia melepaskan pelukannya dan duduk meringkuk di tempat tidur.
" Ya, kamu bukan dia. Dia tidak akan berkata kasar padaku" kata Raya dengan sedih membenamkan kepalanya
" Sebaiknya kamu pergi tinggalkan aku sendiri, wajahmu sangat jelek yang membuatku ingin terus menangis" sambungnya
" Siapa juga yang mau terus disini, jika bukan karena kamu tidak melepaskan bajuku maka aku sudah lama pergi" setelah mengucapkan kata-kata itu, Bai pergi keluar meninggalkan Raya sendirian.
" Kenapa kamu tidak ingat denganku? Bukankah kamu berjanji jika kita bertemu lagi, kamu akan mengajakku berkeliling. Lalu bagaimana kamu bisa lupa janjimu" kata Raya dengan isakan kecil kembali meringkuk memeluk kedua kakinya.
Bai yang meninggalkan Raya merasa sedikit khawatir dihatinya, entah kenapa Bai tidak senang melihatnya menangis. Ia menelpon anak buahnya untuk menjaga Raya dan melaporkannya jika Raya sudah keluar dari hotel.
......................
Leiya sekarang berada di dalam mobil Arya, dia akan pergi ke pesta amal yang diadakan di ibukota. Perlu setengah jam perjalanan dari kota Y ke kota C, Laskar dititipkan bersama Long untuk bermain bersama Aning.
Pesta ini adalah pesta yang diadakan orang-orang kaya, mereka menyumbangkan suatu barang yang berharga dan akan dilelang di dalam pesta. Uang hasil lelang akan disumbangkan ke pusat layanan untuk didonasikan.
Leiya menyumbangkan salah satu baju desainnya yang berharga, itu adalah gaun dengan gaya retro dan motif khas negara bintang. Gaun ini adalah gaun yang pernah Leiya bawa dalam Milan Fashion Week.
" Bukankah aku sudah bilang akan ada orang yang menjemputku, kenapa kamu memaksa sekali aku ikut denganmu" gerutu Leiya pada Arya yang sedang mengemudi.
__ADS_1
"Tentu saja aku harus memastikan kamu selamat sampai di sana, dan apakah kamu akan menggandeng pria lain untuk menjadi pasangan di pesta amal? Aku bahkan belum memegang tanganmu, bagaimana pria lain bisa?" jelas Arya dengan tidak tahu malu
" Narsis, sepertinya presiden kita tidak terlalu sibuk sampai memikirkan hal-hal konyol" ejek Leiya mengingat saat pertama kali bertemu Arya, dia selalu mengadakan pertemuan bisnis beberapa kali. Sekarang jika dilihat presidennya sudah seperti pengangguran yang terus menguntitnya.
Arya terkekeh kecil menatap Leiya dengan senyum di matanya
" Bukankah ini demi masa depanku, jika aku tidak melakukan hal-hal ini mungkin istriku akan kabur" kata Arya dengan suara rendah.
Leiya tersipu, pipinya memerah. Ia memelototi Arya dengan tidak senang
" Siapa istrimu!"
" Bukankah sudah jelas?" goda Arya tertawa kecil
" Aku tidak peduli lagi padamu! Pria narsis" gerutu Leiya memalingkan mukanya menghadap ke luar jendela, ia memegang pipinya dengan kedua tangan dan menepuknya dengan ringan.
Arya sekarang sangat berbahaya, Leiya merasa jika terus seperti ini hatinya akan meleleh. Ia dengan cepat menepuk dahinya.
Sadar Leiya, sadar! Pernikahan hanya kuburan, jangan sampai kamu terpesona olehnya dan melangkah masuk dalam kesengsaraan dunia!
Setelah tenang, Leiya kembali dengan ekspresi yang biasa.
Arya dengan tenang mengamati reaksi Leiya di sebelahnya, melihatnya bolak balik menepuk pipi, dahi sampai pahanya. Ia menggelengkan kepala dan melanjutkan fokus menyetir.
Setelah sampai ke tempat pesta, Leiya disambut oleh temannya itu yang menunggu di luar. Ya Leiya tiba lebih awal agar tidak menjadi pusat perhatian, dengan Haris temannya yang sangat konyol. Leiya khawatir dia akan mengenalkannya ke seluruh dunia.
Leiya turun dari mobil disusul Arya yang langsung mengenakan mantelnya pada bahu Leiya yang terbuka, Arya tidak menyangka teman Leiya ini laki-laki, ia dengan cepat menutup bahu Leiya agar tidak dilihat oleh orang lain.
Leiya tidak senang dengan perilaku Arya, ia mendorong mantelnya agar jatuh tapi Arya memegangnya dengan erat. Karena usahanya yang tidak berhasil, Leiya hanya bisa memelototi Arya di sampingnya dengan ganas.
__ADS_1