Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 13. Apakah aku temanmu?


__ADS_3

Rifa dan Laskar yang sudah selesai memasak, menata makanannya di ruang makan.


" ayo makan, kamu pasti lapar setelah perjalanan panjang kan" ajak Rifa menepuk kepala Laskar.


Laskar menurut dan duduk dikursi menunggu ibunya, Rifa mendecakkan lidahnya melihat anak yang patuh dan sopan ini.


"Ayaaa ayo cepat keluar dan makan"


" Ya aku datang!" balas Leiya menutup laptopnya dan bangkit ke luar kamar.


Mereka bertiga pun makan dengan lahap, sesekali Laskar memelototi ibunya yang tidak mau makan daging. Leiya memang tidak terlalu suka daging tapi ya demi anaknya dia rela makan daging seharian.


Laskar hanya prihatin dengan tubuh kurus Leiya yang seperti akan tumbang jika terkena angin.


Setelah makan selesai, Leiya berinisiatif mencuci piring sendiri, Laskar pergi mandi sedangkan Rifa menonton tv.


"Makasih ya mau menampung ibu dan anakku, nanti setelah aku selesai dengan beberapa urusan aku akan pindah dan mencari pengasuh untuknya, Laskar juga harus pergi ke sekolah. Haiss merepotkan sekali, tidak ada Ibu Wen yang selalu mengurusku lagi"


Rifa mendengus kesal mendengar ucapan sahabatnya.


" Sejak kapan diantara kita harus sopan? Santailah, lagipula aku ini ibu baptis Laskar juga jadi tidak apa-apa untuk mengurusnya. Dia juga anak yang patuh, kamu fokus saja dengan urusanmu dulu"


Leiya yang telah selesai mencuci menghampiri Rifa dan memeluknya dari belakang


" hmm kamu yang terbaik, tidak apa merepotkanmu sesekali, jika seperti ini terus bagaiamana sahabatku mendapatkan pangeran impiannya. Aku tidak ingin menjadi pendosa yang merebut pengantin wanita dari pangeran" kata Leiya kabur dan menjulurkan lidahnya.


Rifa tersipu malu dan memukul Leiya


" Apa-apaan! Pangeran nenekmu! Leiya kemari kau jangan kabur, senang ya meledekku terus" ucap Rifa mengejar Leiya dengan bantal sebagai alat pemukul...........


Leiya melihat Laskar yang sudah tidur di kasur, dia pasti lelah. Belum pernah Laskar melakukan perjalanan sejauh ini, Leiya membereskan pekerjaannya dan pergi tidur bersama Laskar.

__ADS_1


Keesokan harinya Leiya bangun, melihat Laskar yang masih tidur ia tidak membangunkannya dan pergi cuci muka untuk lari pagi. Walaupun Leiya pemalas, ia tetap harus menjaga kesehatan tubuhnya.


Melihat ruangan yang kosong, mungkin Rifa sudah berlari lebih awal. Ia sangat mementingkan penampilannya dan tidak pernah lupa untuk lari pagi dan ke gym.


Saat lari Leiya tidak sengaja melihat Baltic mengendarai sepeda, tumben sekali pikir Leiya. Leiya awalnya ingin memanggil, tapi saat melihatnya turun dari sepeda, Leiya tercengang melihat Baltic berjalan ke arah Rifa membawakannya minum. Sejak kapan kedua orang ini akur?


Leiya menghampiri mereka dan saat melihat Baltic dengan paksa mengelap keringat di dahi Rifa yang menolaknya, ia bertanya-tanya apakah kedua orang ini adalah orang yang sama yang ia kenal?


Rifa yang melihat Leiya datang pun terkejut dan segera mendorong Baltic sampai jatuh terduduk.


"aiyoo, kenapa kamu tiba-tiba mendorongku. Apa aku melakukan hal yang salah lagi fa" keluh Baltic tapi saat dia menengok kearah Rifa menatap, ia melihat Leiya berdiri di sana.


Keduanya terkejut sejenak dan lupa apa yang akan dibicarakan. Leiya pun tidak kalah terkejutnya melihat mereka.


" kalian...sejak kapan kalian bersama? Kamu tidak bercanda?" tanya Leiya ragu karena semenjak sma, mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu. Perubahan sikap ini sungguh berbanding terbalik.


......................


Di dalam rumah Rifa, saat Laskar ke luar dari kamar dan melihat suasana ruangan yang canggung, ia melihat sekeliling dengan bingung.


Rifa melihat penyelamatnya dengan mata bersinar


" ibu baptis akan buatkan susu untukmu sekarang, kamu duduk saja di sini" kata Rifa kabur ke dapur.


Leiya tidak menghentikannya tapi melihat ke arah Baltic meminta penjelasan.


" itu Ay, kenapa kamu tidak bilang kalau sudah kembali. Aku sangat terkejut saat melihatmu loh, ini anakmu ya lucu sekali. Sini nak paman ada permen untuk kamu, ayo makan ini" bujuk Baltic


Laskar tidak memghampirinya dan hanya duduk diam di sebelah ibunya, Baltic yang mengulurkan tangannya merasa canggung dan menariknya kembali. Sepertinya aku tidak bisa pulang sebelum semua beres, Baltic menghela nafas pasrah dan mulai bercerita singkat


" aku sudah menyukainya sejak sekolah dulu, tapi kamu tahu kan kalau dia tidak percaya dengan cinta. Makanya dalam lima tahun terakhir ini aku selalu mengejarnya akhirnya tiga tahun lalu aku melamarnya, dia setuju dan sikapnya sedikit lebih baik kepadaku tapi dia belum setuju untuk menikah" tutur Baltic

__ADS_1


Leiya kaget karena mereka telah bertunangan tiga tahun lalu dan tidak memberitahu dia! Teman macam apa ini


" Lalu kenapa kalian menyembunyikannya dariku? Setidaknya kabarilah walaupun aku tidak datang, aku bisa mengirim hadiah" kesal Leiya


" Itu bukankah kami khawatir denganmu" melirik Laskar yang bermain rubik Baltic melanjutkan dengan lirih


" Kamu sibuk dengan karir dan anakmu waktu itu, bahkan Bibi Wen memberitahu Rifa kalau kamu opname di rumah sakit karena terlalu lelah. Bagaimana kita bisa mengganggumu"


Leiya mendengarkan penjelasan Baltic dan amarahnya sedikit mereda tapi ia tetap kecewa dengan keputusan mereka yang seperti tidak menganggapnya sebagai teman. Melihat Rifa membawa botol susu untuk Laskar, Leiya mengambilnya dan mengajak Laskar ke luar rumah tanpa berkata apa-apa.


"Ayo nak kita cari sarapan di luar, habiskan susumu. Bubu mau ambil sepeda" kata Leiya mengambil sepeda milik Baltic tanpa ijin.


......................


" Bubu, apa kamu marah? Apakah kamu merasa aku menjadi beban bagimu bu?" tanya Laskar hati-hati saat duduk di toko sarapan.


Leiya yang sedang menyiapkan makanan untuk Laskar menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah Laskar.


" Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


" karena jika tidak ada aku, bubu bisa terus bersama ibu baptis dan bahagia, tidak terus bekerja untuk kebutuhanku" kata Laskar dengan kepala menunduk. Leiya mengangkat kepala anaknya dan menatap matanya


"Dengar Laskar, ibu marah kepada ibu baptismu karena sebagai teman, ibu baptismu tidak pernah cerita pada bubu saat mengalami kesulitan ataupun acara bahagianya. Bubu jadi merasa kalau bubu hanya beban untuknya, dia selalu mengkhawatirkan urusan bubu tanpa berkeluh kesah tapi saat dia terpuruk bubu tidak ada disampingnya"


" pamanmu itu pasti sudah membantu ibu baptismu dengan sangat baik sampai meluluhkan hatinya"


"Laskar, tanpa kamu pun bubu tetap akan berpisah dengan ibu baptismu, karena bubu pindah bukan karena kamu tapi ada beberapa hal yang mengganggu bubu. Kamu adalah cahaya dikehidupan bubu dan satu-satunya keluarga bubu. Jadi jangan pernah berpikir yang macam-macam apalagi berpikir untuk meninggalkan bubu, kamu adalah harta paling berharga bubu. Ingat itu" jelas Leiya memeluk anaknya yang merasa tidak aman.


Laskar tersenyum mendengar penjelasan ibunya


"Bubu kamu juga bubu terbaik di dunia, laskar tidak akan pernah meninggalkanmu"

__ADS_1


Leiya merasa hatinya hangat dan meremas pipi bayi Laskar gemas


" oke ayo mulai sarapannya nanti dingin tidak enak"


__ADS_2