Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 51. Diya?


__ADS_3

" Lalu untuk apa anda berbicara seperti itu padanya?" tanya sopir dengan bingung.


" Hanya bersenang-senang, dia sangat imut. Bahkan berani mengancam untuk meledakkan rumah, apakah tempramennya begitu panas" ujar Kakek Noma puas dengan cucu ini, sudah lama sekali ia tidak berbicara dengan generasi yang lebih muda. Ia merasa senang berbicara dengan Laskar.


" Oh aku lupa menanyakan namanya" kata Kakek Noma dengan menyesal.


" Lupakan, aku bisa mencari tahu nanti. Ayo pulang, aku harus menghubungi cucu perempuanku itu. Entah ada di mana dia sekarang, tidak pulang ke rumah berbulan-bulan hanya tahu main saja" ujarnya mengusap kepalanya yang pusing memikirkan cucu perempuannya yang lebih nakal dari pada Arya.


Leiya yang melihat Laskar masuk segera menyuruhnya untuk mandi dan berganti pakaian.


"Hanya membeli satu susu begitu lama" kata Leiya melihat Laskar menaruh susu yang ia beli ke lemari es.


" ya tadi antriannya panjang bu, aku akan ke atas"


" Pergilah" ujar Leiya yang masuk ke studio desainnya memilih baju untuk dipakai besok.


......................


Keesokan harinya, Leiya tampil simple namun elegan dengan dress renda sleveless warna off white.


Ia menambahkan anting yang simple untuk memadukannya dengan gaun yang ia pakai.


" Laskar hari ini bubu akan memghadiri acara penting, kamu ke rumah paman Long dulu ya. Katakan apa yang kamu inginkan, nanti bubu membelinya dalam perjalanan pulang" kata Leiya menepuk puncak kepala Laskar dengan lembut.


" Aku tidak menginginkan apa-apa bu, kembalilah dengan aman"


Laskar tersenyum menanggapi yang diangguki oleh Leiya dengan senang.


" Oh ya bu, sebenarnya aku bisa di rumah sendirian. Lagipula ada Bi Nar yang akan datang siang nanti, hari ini aku di rumah saja ya" kata Laskar tidak mau ke rumah pamannya karena bosan.


" Baiklah terserah kamu, nanti bubu akan beritahu Bi Nar untuk tidak pulang dan menjagamu hari ini"


Leiya mengangguk setuju, Bi Nar adalah seorang wanita yang Leiya pekerjakan untuk membereskan rumah dan memasak. Sebenarnya ia bisa menjaga Laskar tapi Long yang menawarkan dengan murah hati untuk membawa Laskar ke rumahnya, maka Leiya membiarkan Laskar ke rumahnya.


Lagipula akan lebih aman jika Laskar dijaga oleh orang yang ia kenal baik, tapi karena Laskar memintanya maka Leiya tidak keberatan. Karakter Bi Nar sudah ia lihat dia adalah orang yang sangat baik dan menyukai anak-anak, jadi Leiya setuju dengan Laskar di rumah saja.

__ADS_1


" Aku pergi, jaga baik-baik rumah"


Leiya melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil yang menjemputnya.


Laskar menatap kepergian bubunya dengan tenang lalu kembali ke kamar menyalakan komputer yang Arya belikan untuknya.


" Dimana kamu?"


Laskar nengetik untuk mengirim pesan dan tidak sampai dua detik ada pesan masuk.


" Hei ada apa, aku sedang minum teh di rumah pelanggan" balas Haris dengan cepat


" Datanglah ke rumahku segera" balas Laskar menatap komputer dengan tenang memainkan kubus rubik dengan tangan yang lain


" Tunggu, bawa sample percobaan itu juga"


"Baiklah dua puluh menit lagi aku akan ada di sana" jawab Haris lalu menyimpan teleponnya ke dalam saku lalu beranjak dari tempat duduknya.


" Maaf kawan, aku harus pergi. Semoga harimu menyenangkan" pamit Haris pada wanita di depannya yang ternyata Diya, teman Leiya di negara A.


" Kamu bercanda, hanya kamu wanita yang begitu berani masuk ke kandang harimau. Jika kamu menyerahkanku padanya untuk membersihkan namamu maka aku sudah selesai" kata Haris mencibir dan berbalik pergi


Diya tertawa kecil berdiri dan menepuk pundaknya dengan ringan.


" Ya pergilah, bagaimana aku bisa menghianati satu-satunya temanku. Pergi dan katakan pada anak baptisku kalau aku merindukannya" kata Diya yang dijawab dengusan dari Haris.


Melihat Haris menghilang dari pandangannya, Diya mengubah ekspresinya yang tersenyum sekarang menjadi wajah dingin. Ia membuka laci kantornya dan mengusap foto keluarga tiga orang dengan penuh kasih, apalagi anaknya yang mengenakan seragam militer persis seperti ayahnya.


" Nak, ibu bangga padamu"


Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat, ia mengenakan sepatu bot militer dan seragam hijau tentaranya yang sangat gagah. Janggutnya sedikit panjang, tapi tidak mempengaruhi wajah tampannya.


" Kamu datang?" kata Diya melihat pada suaminya yang menatapnya dengan rumit.


" Jadi apakah itu benar? " tanyanya dengan tangan mengepal erat.

__ADS_1


Diya tersenyum berjalan mendekat dan berhenti satu meter darinya.


" Apakah itu penting? Lakukanlah tugasmu, aku akan bekerja sama"


Gico menutup matanya dengan erat lalu membuka dan menatap wajah istrinya dengan sedih.


" Jadi selama ini apakah kamu menggunakanku? Cinta itu benar atau palsu?" setelah menanyakan pertanyaan yang mengganjal dihatinya, ia tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Hanya senyumnya yang masih tersungging dibibirnya.


" Aku akan mencari semua bukti" kata Gico pergi dengan cepat ia harap semua ini bohong.


Diya yang tadi masih tersenyum sekarang merosot ke tanah dengan lemas dan tatapan kosong, ia melihat tatapan Gico yang menyakitkan. Ia ingin menangis memberitahunya bahwa dia sangat mencintainya, tapi itu hanya akan mempersulitnya menjalankan tugas jadi dia memilih diam.


Perlahan ia berdiri dan duduk kembali ke kursinya dengan tenang.


......................


" Ayo pak kita berangkat" kata Leiya pada pengemudi yang duduk di depan.


" Oke nona,nona gaun anda hari ini sangat cantik. Apakah anda juga akan ikut dalam festival desain nanti? Kudengar akan ada banyak peserta dari berbagai kota. Semoga anda sukses" kata sopir dengan senyum ramah memulai obrolan.


Leiya ingin memgklarifikasi kalau dirinya tidak ikut lomba tapi sebelum ia bicara, paman sopir ini lebih dulu memecahkan masalah dengan sudut pandangnya sendiri.


" tapi melihatmu datang sendirian ke sana, mungkin kamu hanya tamu undangan? Kebanyakan yang ikut itu mewakili sebuah perusahaan terkenal, mereka akan membawa beberapa asisten. Nona jangan kecewa, lain kali anda pasti bisa ikut berpartisipasi" kata pak sopir dengan prihatin.


Leiya hanya bisa tersenyum sopan pada sopir itu, biarkanlah kesalahpahaman indah ini berlanjut.


" Sudah sampai nona, selamat bersenang-senang" kata pak sopir menghentikan mobilnya di sebelah sebuah bangunan yang di seberangnya adalah lapangan terbuka yang sudah di hias sedemikian rupa ada juga karpet merah untuk catwalk untuk acara lomba nanti.


" Terima kasih pak" kata Leiya turun dan melambaikan tangannya pada sopir yang sangat ramah itu.


Melihat plakat untuk juri di depannya, leiya akan masuk ketika seseorang memanggilnya.


" Yo saudari baikku, bagaimana kamu bisa ada di sini? Apakah pria kaya yang kamu kencani membawamu ke sini? Sayangnya kamu tidak bisa masuk tanpa undangan" kata Yami mendekat dan melihat Leiya dengan meremehkan.


Melihat gaun Leiya yang cantik, Yami ingin sekali menghancurkannya karena iri. Leiya ini pasti ditelantarkan di sini oleh pria kaya itu.

__ADS_1


" Bagaimana dengan ini, aku bisa membawamu masuk tapi dengan syarat. Gaun itu aku menginginkannya, kamu bisa memberikannya padaku"


__ADS_2