
Hari ini, Raya membawa Bai ke semua tempat yang pernah mereka habiskan waktu bersama-sama.
Walaupun Bai tetap diam disepanjang jalan dengan wajah berkerut, Raya tetap berbicara dengan harapan Bai akan mengingatnya.
Untung saja harapannya tidak sia-sia, Bai ingat setelah sekian lama Raya mengeluarkan seluruh kata-kata yang penuh nostalgia.
Haris mendecakkan lidahnya melihat ke dua pasangan yang seperti dimabuk cinta itu menghampiri warung seafood bergandengan tangan.
" Membosankan sekali, kenapa mereka tidak bertengkar?" ujarnya menghela napas kecewa.
Ponsel di sakunya berdering, Haris dengan cepat mengambil ponselnya untuk mengangkat telepon yang masuk.
" Ada apa? Jika itu tidak penting akan aku pukul kau!" kata Haris tidak senang karena liburannya terganggu.
" Bos jenderal negara A ingin bertemu denganmu" jawab bawahannya dengan cepat karena takut Haris tiba-tiba menutup telepon tanpa menjawab.
" Ais sialan! Kenapa dia cepat sekali menemukanku, aku akan segera kembali"
Haris menutup teleponnya setelah menjawab pernyataan bawahannya, ia memukul dahinya dengan tidak sabar.
" Diya ini membuat masalah saja untukku! Bahkan sekarang suaminya mengincar informasi dariku"
"jika bukan karena persahabatanku dengan Diya yang mendalam sudah lama aku ingin mengebom markas mereka sejak lama" gerutu Haris dengan ekspresi tidak senang karena tidak ingin melihat wajah tentara negara A.
Setelah puas menggerutu dan memaki orang-orang itu, Haris bangkit menepuk pasir ditubuhnya lalu berjalan perlahan menuju mobil yang sudah siap menjemputnya di pinggir jalan.
......................
Leiya yang bersama Laskar di kamar sekarang sudah tidak bisa tidur lagi, ia bangun berjalan ke bawah untuk mengambil air minum.
Di bawah, Leiya melihat Arya yang masih sibuk dengan laptop dan ponselnya. Entah kapan Arya membuang kemeja robeknya dan menggantinya dengan yang baru, lengan kanannya yang masih diperban terlihat dengan jelas.
" Kenapa kamu begitu sibuk, istirahatlah sebentar" kata Leiya mengerutkan kening tidak senang dengan Arya yang tidak memperhatikan kesehatannya sendiri.
Arya mendongak, melihat Leiya yang turun Arya tersenyum menatapnya sejenak
" Aku akan istirahat nanti, ada beberapa dokumen penting yang harus ditanda tangani. Jika kamu lapar maka minta saja paman pengurus rumah tangga membuatkanmu makanan yang kamu suka" kata Arya lalu melanjutkan membaca dokumen-dokumen di laptopnya.
__ADS_1
Leiya mendengus, ia berjalan mendekati Arya dan menutup laptopnya
" Makanlah denganku, aku tahu kamu tidak makan semalaman. Jangan membuat tubuhmu rusak, kamu bukan robot" ujar Leiya berbalik ke ruang makan dengan isyarat agar Arya mengikuti.
Ia tahu semalam setelah dirinya bertengkar dengan Arya, ia pasti langsung pergi mencari Laskar terbukti dengan kemejanya yang tidak diganti. Jadi Leiya dengan enggan memaafkan Arya yang membuatnya pingsan.
Arya menghela napas pasrah mengikuti Leiya ke meja makan dan duduk di sebelahnya, di meja sudah ada makanan yang paman pengurus rumah tangga buat untuk makan siang.
" Bukannya aku tidak mau istirahat, dengan jabatan CEO yang memiliki ribuan karyawan di bawah perusahaan, merupakan tanggung jawab yang sangat besar bagiku agar tetap membiarkan perusahaan berjalan dengan lancar. Jadi aku terkadang lupa untuk makan" kata Arya yang tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak mencintai tubuhnya, dia juga akan berolahraga di sela-sela waktu luangnya.
Mendengar perkataan Arya membuat Leiya menghela napas berat.
Siapa bilang menjadi CEO perusahaan begitu mudah? Perlu pemikiran yang cerdas dan kondisi yang baik untuk menjalankan perusahaan.
Jika tumbang sedikit saja pasti akan ada beberapa orang yang mengacau, menyedihkan sekali. Lebih baik menjadi karyawan kecil yang menikmati gajinya sendiri dan bersenang-senang setelah pulang bekerja.
" Kalau begitu mulai sekarang kamu harus makan tepat waktu, jangan sampai Laskar kehilangan ayahnya di usia dini" kata Leiya berkomentar dengan menyuap sesendok besar nasi ke mulutnya.
Arya tersenyum senang karena Leiya yang mulai perhatian padanya, ia menatap wajah Leiya yang sedang makan itu dengan tatapan membara.
Arya menatap tanpa daya dan mengangkat tangan kanannya.
" Tanganku terluka bagaimana aku bisa makan? Aku tidak pandai menggunakan tangan kiri" keluh Arya dengan tatapan menuduh pada Leiya karena makan sendirian dengan lahap tanpa memperhatikan kondisinya.
Leiya tidak bisa tidak meleleh dengan wajah duplikat Laskar yang begitu imut, ia secara tidak sadar mencubit pipi Arya dengan gemas.
" Aku akan menyuapimu"
Leiya menyuapi Arya dengan sendok miliknya tanpa disadari lalu memakan miliknya sendiri.
Arya tersenyum puas, ia makan dengan lahap sambil terus melihat ke arah Leiya.
" Jika kamu terus menatapku aku tidak akan mengurusmu lagi" keluh Leiya yang malu karena Arya yang terus menatapnya.
" Baiklah aku tidak akan menatap lagi" kata Arya tertawa kecil.
Setelah mereka selesai makan, Laskar terbangun karena lapar dan bergegas ke bawah. Melihat kedua orang tuanya yang sudah selesai makan, Laskar duduk di samping bubu dengan tenang.
__ADS_1
" Bubu aku lapar" kata Laskar menatap kedua orang tuanya dengan tersenyum tipis, ia juga senang karena sudah lama sekali dirinya juga ingin memiliki keluarga yang lengkap seperti anak-anak lainnya.
Sekarang setelah melihat ayah kandungnya benar-benar mencintai dirinya dan juga bubu, Laskar juga mulai menerima Arya di dalam hatinya.
" Oh bayi kesayanganku lapar, bubu ambilkan kamu makan sebentar" kata Leiya beranjak ke dapur untuk menyiapkan sup ayam
Arya menatap putranya dengan senyuman
" Aku tidak tahu kamu begitu pemberani" kata Arya memuji Laskar karena sikap tenangnya saat berada di pulau
" Tentu saja, aku seorang pria tidak boleh takut. Aku harus melindungi bubu" kata Laskar membusungkan dadanya bangga karena dipuji
" Tapi ayah jika kamu ingin menikah dengan bubu kamu harus mendapat persetujuan dari nenek Wen" ucap Laskar memberi ayahnya bocoran rahasia.
Arya yang sedang membersihkan piring kotor segera menghentikan gerakan tangannya, ia menoleh ke Laskar dengan wajah tertegun
" kamu...kamu panggil aku apa?"
Laskar yang melihat tingkah bodoh ayahnya hanya memutar matanya
" Ayah apakah kamu sudah demensia begitu awal, kalimat baru saja aku ucapkan kamu bahkan tidak mengingatnya"
Arya tertawa dengan bodoh mendengar Laskar memanggilnya ayah sekali lagi.
Leiya yang keluar dari dapur melihat senyum bodoh Arya pun mengangkat alisnya dengan bingung.
" Nak ada apa dengan ayahmu? Apakah dia sudah tidak waras?" tanya Leiya sambil meletakkan piring makanan di depan Laskar.
" aku tidak tahu, tanyakan saja padanya" kata Laskar mengangkat bahu, ia menyendokkan makanan ke dalam mulutnya tidak memperhatikan ayahnya lagi.
Leiya berjalan ke arah Arya dan menepuk pundaknya.
" Apakah kamu butuh air?"
Arya yang tadinya masih tersenyum bodoh segera sadar, ia memeluk Leiya dengan erat untuk melampiaskan kebahagiaannya.
" Laskar baru saja memanggilku ayah!"
__ADS_1