
Setelah 5 tahun kemudian....
Malam hari,
Leiya dalam perjalanan pulang dari kantornya, ia sekarang sudah berkembang menjadi fashion desaigner yang cukup terkenal. Karyanya juga pernah masuk dalam Milan fashion week yang merupakan acara terbesar dari semua fashion show di seluruh dunia, banyak desainer yang bercita-cita diterima di acara ini.
Karena desain Leiya yang unik dan berbeda dari visi studio Diya, ia merelakan Leiya untuk membuka studio sendiri dengan syarat Leiya harus sesekali membantu jika terjadi keadaan darurat.
Diya menyarankan Leiya untuk membuka studio dinegara asalnya saja karena desainnya yang otentik dengan negaranya, jika Leiya membuka di negara A bukankah pasar akan direbut olehnya. Ini seperti mempromosikan desain negara bintang di negara A, ini saja sudah terkenal kalau Leiya terlalu lama maka semua desain asal negara A akan tidak menguntungkan.
Leiya yang ditolak merasa sedih, pada akhirnya ia harus kembali ke negaranya. Sejauh apapun kamu pergi kamu harus kembali pulang, Leiya pergi ke bar mengajak Boy untuk melampiaskan ketidakbahagiaannya.
" Yo ada apa dengan tuan putri, tidak bahagia? Bagaimana bisa kamu yang sudah menjadi ibu masih ke tempat seperti ini, jika Laskar tahu dia akan marah kepadaku. Berhenti minum oke" kata Boy menatap Leiya yang mabuk
" Heh berisik sekali kamu! Diamlah temani saja aku minum, dia bukan ayahku kenapa aku harus mendengarkannya? Bukankah dia yang harus mendengarkan aku karena aku ibunya. Apakah dunia ini sudah terbalik?" kata Leiya memukul dadanya dengan sedih
" Oh dan siapa kamu, kenapa wajamu jelek sekali. Aku ingin pria tampan, minggir kamu jangan menghalangi aku untuk mencari pria tampan" kata Leiya terhuyung-huyung mendorong Boy yang masih kokoh berdiri di depannya. Leiya berpikir apakah ini dinding dan bukan orang? Sangat sulit memindahkannya.
Boy menatap Leiya dengan kesal, ya Leiya tidak seseram yang Boy kenal dahulu. Setelah lama mengenalnya, Boy merasa seperti pengasuh bayi untuk Leiya. Untung pacar-pacarnya tidak melihat hal-hal konyol yang dilakukan Leiya padanya, jika tidak maka dia sudah mati.
ding..ding..ding
Mendengar suara panggilan telepon, Boy menepuk dahinya benarkan pasti bocah Laskar itu. Siap-siap untuk dikambing hitamkan lagi hm.
" Paman! Kenapa membawa ibuku ke tempat seperti itu lagi!! Aku tunggu sepuluh menit ibuku harus sudah kembali" ancam Laskar pada Boy dan menutup panggilannya.
Boy sakit kepala dengan duo ibu anak ini, sungguh menyakitkan baginya menjadi teman satu-satunya Leiya di sini.
Akhirnya Boy menggendong Leiya seperti karung dan membawanya pulang.
__ADS_1
" Lihat aku sudah membawanya pulang, urus ibumu agar tidak mengganggu kencanku lagi" kata Boy pada Laskar
Laskar melirik Boy dengan tidak senang
" Bukankah paman sudah berkencan lima kali hari ini, jangan menyalahkan ibuku untuk hal yang paman lakukan yang tidak bermoral. Apakah paman ingin aku mengirim bukti perselingkuhan paman ke setiap wanita-wanita itu"
Boy melotot ke arah Laskar dengan tidak puas dan menunjuk Leiya ditempat tidur
" bukankah kamu seharusnya berterima kasih padaku, sudahlah kalian ibu dan anak sama saja. Aku pulang dulu, jangan macam-macam dengan wanita-wanitaku tahu kalau tidak...kalau tidak... aku akan"
Laskar menatap Boy menunggu ia melanjutkan apa yang dikatakannya
" sudahlah aku pamit dah" kata Boy buru-buru pulang takut Laskar benar-benar melakukan yang ia katakan.
......................
Leiya bangun dan merasa sakit dikepalanya, mengingat bahwa dia mabuk lagi,Leiya merasa bersalah dihatinya melihat muka anaknya yang cemberut.
" Iya...maafkan bubu ya nak, bubu tidak akan mengulanginya lagi. bubu janji besok-besok tidak mabuk lagi" bujuk Leiya
" hmm berapa kali kamu berjanji bu dan kamu tidak menepatinya, sepertinya alat pelacak yang aku buat untuk bubu tidak cukup. Biar nanti aku pikirkan benda apa yang bisa membuat bubu tidak berani lagi ke tempat itu" pikir Laskar kembali ke kamar.
Leiya menghela nafas pasrah dengan tingkah putranya itu, untuk menjadi ibu tunggal memang tidak mudah. Dia harus bekerja yang mengharuskannya bersosialisasi dengan kolega kerja tentu tidak dapat dicegah untuk minum sedikit.
Anak itu anak yang cerdas, sudah bisa membaca dan sangat tertarik dengan komputer yang selalu dibawa Sime padanya. Ia pun menjadi dewasa untuk tidak merepotkan ibunya dan selalu berperilaku baik.
Yang saking baiknya sampai ia sering meretas telepon Leiya ataupun orang-orang disekitarnya untuk melacaknya. Leiya sangat marah waktu itu dan menyita semua gadget milik Laskar karena anak sekecil itu sudah bisa meretas telepon, siapa yang tidak takut.
Sejak itu Laskar beralih mengotak-atik mesin komputer yang rusak, dan berbagai benda hingga ia pernah mengalami sengatan listrik, benda meledak, sampai tangannya lebam.
__ADS_1
Entah sifat siapa yang diikutinya hingga tidak kenal takut dan sakit, membuat Leiya ketakutan dan sampai berkonsultasi ke psikologi. Dan memang anaknya tidak normal, ia memiliki IQ 225 yang menjadi pr bagi Leiya untuk mendidiknya menjadi orang baik.
......................
Leiya menelepon Rifa untuk memberitahunya tentang kepulangannya ke negara bintang, Rifa senang mendengarnya karena sudah beberapa tahun tidak melihat sahabatnya itu dan siap menjemputnya dari bandara.
Leiya berkemas bersama Laskar dan bersiap-siap untuk naik pesawat yang jam penerbangannya sore, mereka berpamitan dengan Ibu Wen yang tidak mau ikut pergi karena kondisinya yang sudah tua tidak mau bolak-balik naik pesawat. Sedangkan Sime dia sedang berada di rumah kakek neneknya di wilayah komplek militer, ia akan meneruskan jasa ayahnya.
Sesampainya di bandara negara Bintang dan menghirup udara negara ini lagi, Leiya merasa nyaman dan menantikan kehidupan barunya yang mungkin tidak akan semulus saat di negara A.
Rifa melambaikan tangannya melihat kedatangan Leiya dan memeluknya dengan erat
"Ayaa! aku sangat merindukanmu" kata Rifa senang dan mencubit pipi chubby Leiya.
"khmm Rifa tolong jaga gambarmu di depan anakku" bisik Leiya
Rifa menurunkan tangannya dengan canggung dan melihat Laskar dengan mata berbinar
" Hallo Laskar, aku teman ibumu. Namaku Rifa, tidak disangka kamu sudah sebesar ini dengan cepat, dulu aku hanya melihatmu saat kamu lahir saja dan itu sangat kecil. Ayo masuk ke mobil nanti aku traktir makan, mau makan apa kamu nanti biar aku yang masak" ucap Rifa membawa Laskar ke mobil meninggalkan Leiya untuk memindahkan barangnya sendiri ke bagasi.
"Huftt dasar Rifa!"
Sesampainya di apartemen Rifa, Leiya meletakkan barang-barangnya dan keluar untuk melihat bagaimana Rifa dan Laskar yang sibuk di dapur.
" Apakah perlu aku bantu?" tanya Leiya
Rifa yang sedang asik bersama Laskar tidak menghiraukan Leiya dan berkata sembarangan
" Terserah kamu mau apa, jangan mengganggu aku membangun hubungan baik dengan Laskar"
__ADS_1
Leiya mengangkat bahu dan memeriksa komputernya, alasan Leiya setuju kembali karena ia mendapat email dari Perusahaan Altair yang merupakan perusahaan terkenal untuk mempekerjakannya dan juga email anonim yang mengaku tahu tentang orang tuanya.