Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 56. Firasat buruk


__ADS_3

Laskar bangun dan mendapati dirinya di kamar yang asing, ia melihat sekeliling untuk mengamati ketika seorang pria tiba-tiba masuk.


Laskar menatapnya dengan mata polos


" Paman dimana ini, apakah bubu sudah pulang?" tanya Laskar


Samuel tertawa kecil, anak ini tidak sedikitpun takut dengan orang asing. Entah terlalu pintar atau terlalu bodoh.


" Tentu saja ibumu sudah pulang, ia pasti sekarang tidur sangat nyenyak. Kamu bermain dengan paman sebentar sebelum ibumu menjemputmu" jawab Samuel menyerahkan sepiring makanan.


" Makanlah, kita masih dalam perjalanan. Jangan sampai kamu mati kelaparan"


Samuel pergi setelah menyerahkan makan pada Laskar, ia hanya ingin melihat rupa anak Arya ini. Sepertinya tidak terlalu pintar, mungkin karena dibesarkan oleh ibunya yang bodoh jadi iq nya menurun.


Laskar segera membuka gorden jendela dan ternyata dia sekarang ada di atas kapal, semua barang-barangnya diambil kecuali sepasang baju ini dan sepatu miliknya.


Laskar yang lapar segera memakan roti dan susu yang ada di piring, ia memakannya dengan perlahan.


Jika itu anak biasa pasti sudah menangis ketakutan karena di tinggal sendirian di tempat yang tidak dikenal.


Tapi Laskar sudah terbiasa, apalagi bibi Diya dan pamannya Haris terkadang membawanya dalam misi.


Mengamati lingkungan yang asing, Laskar tidak memiliki tempat untuk melarikan diri. Apalagi dirinya tidak pandai berenang, ia hanya bisa dengan patuh menunggu kabar dari pamannya Haris.


......................


Leiya bangun dari tidurnya saat mendengar Arya yang turun ke bawah, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Leiya selalu memiliki firasat buruk bahwa akan ada sesuatu yang terjadi.


" Kenapa kamu kembali? Bukankah kamu bilang tiga hari lagi" tanya Leiya melihat Arya yang berdiri diam di ruang tamu.


Arya segera tersenyum berbalik untuk memeluk Leiya


" Hanya merindukanmu"


Leiya memutar matanya jengah, orang ini tidak ada habisnya. Padahal mereka selalu berkomunikasi lewat telepon.


" Hari ini aku harus melakukan sesuatu, bagaimana kalau kamu ikut aku ke ibukota. Lebih baik di sana bersamaku daripada di sini sendirian" kata Arya dengan dagunya bertumpu di puncak kepala Leiya, ia memeluk Leiya dengan erat menunggu jawabannya.


" Hmm baik, aku juga ingin jalan-jalan" jawab Leiya yang mungkin harus healing untuk meredakan kecemasannya.


Arya tersenyum puas lalu menarik tangan Leiya ke atas untuk membantunya berkemas.


Leiya yang melihat Arya membantu mengatur koper menjadi tersipu dan segera mendorongnya keluar, apakah dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Leiya juga harus menyiapkan **********, bagaimana bisa dia laki-laki dengan tidak tahu malu membuka lemari pakaian perempuan.

__ADS_1


Arya hanya tertawa dan menurut menunggu di luar, setelah melakukan panggilan telepon dengan singkat.


Arya berjalan dan membuka pintu kamar Laskar, ia menyalakan lampu segera ruangan itu menjadi terang.


Melihat komputer yang telah digunakan Laskar dan menghidupkannya, di sana terdapat catatan milik Laskar.


Ternyata ia sudah mempunyai firasat karena diikuti oleh beberapa orang asing belakangan jadi dia menyuruh bubunya agar tidak pergi ke rumah Long karena takut Aning akan terbawa juga.


Ia juga membuat pamannya Haris membawa sebotol cairan ke rumahnya dengan tergesa-gesa untuk alat pertahanan diri. Kemarin karena kemunculan kakek Noma, Laskar tahu pasti tidak lama lagi mereka akan bertindak agar kakek Noma tidak mengetahui pergerakan mereka.


Dia bahkan meninggalkan jejak kalau itu benar terjadi, dia telah menanamkan chip pada tubuhnya sendiri agar orang mudah mencarinya.


Arya tersenyum melihat rencana anaknya, walaupun dia bangga tapi dalam hati kecilnya ia juga sedih. Anaknya sangat pintar, peran apalagi yang dibutuhkan olehnya pada ayah murahannya ini.


Setelah mengunduh file di dalamnya, Arya meraba-raba laci dan menemukan sebotol cairan. Ia segera menyimpannya di dalam saku jas.


Arya berjalan mematikan lampu kamar dan menutup pintu kamar Laskar, ia berdiri di depan kamar Leiya menunggunya keluar.


" Ayo pergi"


Keduanya masuk ke dalam mobil dan bergegas ke ibukota.


" Aku tidak tahu apakah Laskar sudah makan, aku harus menelpon Haris" kata Leiya tiba-tiba terpikir anaknya, ia meraba-raba sekitar tapi tidak menemukan ponselnya.


" Tadi ada di meja ruang tamu"


Leiya menepuk jidatnya segera mengambil ponsel itu.


" Ya tadi Bai mendorongku untuk istirahat, aku lupa kalau ponselku masih di meja. Terima kasih" ucap Leiya dengan bersyukur


" Untuk apa Bai ke rumahmu?" tanya Arya dengan wajah gelap


" Hanya mengantarku pulang dari festival, tadi ada sedikit kekacauan jadi aku setuju pulang dengannya" jelas Leiya sambil menekan tombol panggilan ke Haris.


Tapi Haris tidak mengangkatnya hanya ada suara sistem yang menjawab.


" Kenapa dia ada di luar area, apa dia membawa Laskar ke Moshi lagi"


" Moshi?"


" Ya dia dulu sering membawa Laskar ke sana untuk bermain-main" jawab Leiya.


Moshi adalah arena tembak dan arena pacuan kuda ada juga permainan seperti billiard di sana.

__ADS_1


" Mungkin mereka sedang bersenang-senang, jangan telepon lagi" kata Arya dengan ringan


" Hmm yah aku akan menelpon lagi nanti"


......................


Raya yang baru saja terkena omelan kakeknya dalam suasana hati yang buruk, ia harus pulang ke ibukota untuk berkencan. Kenapa kakeknya sangat mendesaknya untuk menikah! Ohhhs


" Dimana bosmu?" tanya Raya pada manajer di kasino.


" Dia pergi ke festival dari pagi, seharusnya sudah pulang, tapi aku tidak tahu kemana bos pergi lagi" jawab manajer dengan hormat, ia tidak berani meremehkan wanita ini yang selalu di samping bosnya.


Raya menjadi bertambah badmood, ia memesan sebotol bir dan minum di sana sendirian.


Manajer itu memandang Raya dengan raut muka yang salah


" Katakan saja jika ada yang ingin kamu katakan, kenapa menatapku seperti itu" kata Raya memelototi menajer dengan tidak senang.


" Itu sebenarnya bos kami tadi menyuruh menyelidiki lokasi suatu nomor"


Raya segera bersemangat menatap manajer dengan berbinar


" Katakan di mana?"


Manajer mengeluarkan kertas dan pulpen lalu mencatat koordinat lokasi itu dan menyerahkannya pada Raya.


" Terima kasih pak tua, aku akan mentraktirmu sebotol bir. Minumlah" kata Raya menyerahkan bir di tangannya pada manajer lalu berlari ke luar.


Manajer itu melirik teman di sampingnya


" Apakah aku setua itu?"


Bawahannya segera menggelengkan kepala dan memujinya


" Tidak pak manajer, anda masih seperti anak muda berumur dua puluh tahun"


Manajer puas dengan jawaban mereka dan minum bir dari Raya tanpa sadar.


Tapi ternyata kaleng itu kosong, manajer segera membuang bir itu ke tempat sampah dengan kesal.


Yah dia wanita bos, siapa yang berani memukulnya.


Raya mengemudi sesuai alamat yang diserahkan manajer dengan cepat, ia menyalip kendaraan di depannya tanpa melambat. Untung saja jalanan tidak terlalu ramai.

__ADS_1


__ADS_2