Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 70. Apakah kamu bengkok?


__ADS_3

"Apakah kamu lelah?" tanya Arya melihat Leiya yang duduk dengan malas bersandar ke belakang kursi.


" Lelah, tapi itu menyenangkan. Aku akan mencobanya lain kali" jawab Leiya sambil minum air mineral yang dibawanya lalu memberikannya pada Laskar yang duduk di sebelahnya.


" Aku akan mengajak kalian ke tempat yang lebih menyenangkan dari ini" ujar Arya tersenyum lembut


Laskar menatap Arya dengan tidak setuju, " Hari sudah malam ayah, aku tidak ingin bermain lagi" protes Laskar yang sudah mengantuk itu.


Arya tertawa kecil mendengar nada bicara Laskar yang lesu.


" Siapa bilang ayah akan mengajak kalian hari ini? Lain kali kita bisa pergi lagi, besok bubumu mau pulang ke Kota C. Malam ini istirahatlah dengan nyaman" kata Arya dengan nada masam.


Leiya mengangguk membenarkan perkataan Arya, ia memang berencana untuk pulang besok.


" Ayo pulang, aku ingin sekali tidur," ucap Leiya sambil menguap.


Mereka bertiga berdiri menuju pintu keluar, karena Arya harus mengambil mobil di tempat parkir. Leiya dan Laskar memutuskan menunggunya di luar pintu Trans Studio karena Leiya yang malas untuk berjalan ke sana.


Saat Leiya melihat sekeliling, ia tidak menyangka akan melihat hal yang mengejutkan.


Di seberang Trans Studio terdapat bangunan berupa hotel mewah yang sepertinya hotel bintang lima.


Leiya tidak sengaja melihat Yami masuk ke dalam dengan seorang pria! Ia yakin kalau pria itu bukanlah suami Yami yang pernah ia temui di pesta pernikahan mereka.


Lalu kenapa dia bisa ada di ibukota? Apakah keluarga Ning atau keluarga Dio ada di sini juga?


"Bu, ada apa denganmu. Kenapa kamu melamun? Apakah ada sesuatu yang menarik di sana?" tanya Laskar penasaran.


Saat Laskar mencoba melihat ke seberang, Leiya yang tersadar segera membalikkan badan Laskar.


" Tidak ada apa-apa, bubu melihat seseorang yang mirip teman bubu. Tetapi mungkin bubu salah lihat, lupakan saja," ucap Leiya mengibaskan tangannya dengan ringan.


Laskar mendengar penjelasan bubunya hanya mengangguk dan tidak membicarakannya lagi.


" Ayo naik!" kata Arya yang sudah sampai di depan ibu dan anak dengan mobilnya.


Setelah sampai di rumah, Leiya segera tertidur setelah meletakkan Laskar yang tertidur di jalan ke dalam kamarnya.


...****************...


Di sebuah ruangan kerja yang tidak terlalu besar, duduk seorang wanita dan pria saling berhadapan dengan mata yang tidak bisa ditebak. Suasana ruangan begitu menyesakkan.

__ADS_1


" Haris menceritakannya padaku, apakah kamu tidak ingin mengatakan satu katapun padaku?" tanya Gico dengan tatapan lelah.


" Kamu sudah tahu, tidak ada lagi yang bisa aku katakan. Kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan diriku tertangkap oleh tentara negara A" jawab Diya tersenyum tenang sambil memainkan pena ditangannya.


Mendengar jawaban Diya yang acuh, Gico merasa marah dihatinya. Apakah Diya begitu tidak mempercayai dirinya sebagai suami.


" Apa aku begitu lemah dimatamu? Kenapa kamu tidak membiarkan aku terlibat dalam rencanamu,"


Diya merasa hatinya begitu sakit mendengar perkataan Gico dengan ekspresi yang menyakitkan.


" Aku tidak berpikir seperti itu, hanya saja antara keluargaku dan tentara mereka. Itu adalah dendam lama, aku tidak ingin kamu dan Sime mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan"


" Lihat aku! Apakah menurutmu, aku orang yang tidak bisa menanggung kesulitan? Untuk istriku sendiri, aku bisa melakukan apapun," ucap Gico memaksa Diya untuk menatap matanya. " untuk Sime kamu tidak perlu khawatir, ada orang tuaku yang menjaganya"


Diya menghela napas panjang, karena orang tua Gico terlibat. Itu membuatnya merasa tidak aman, ia khawatir mereka akan menggunakan Sime untuk mengancamnya.


" Hal itulah yang tidak ingin aku lihat, apakah menurutmu orang tuamu akan tetap mendukung langkahmu ini? Jangan lupa, mereka juga bagian dari pasukan negara A" kata Diya melankolis, ia bangkit mengambil sebuah berkas di lemari lalu menyerahkannya pada Gico.


" Bawa ini dan baca, setelah kamu mengetahui isinya maka kamu akan tahu alasanku tidak melibatkanmu. Aku hanya ingin satu hal darimu, tolong jaga Sime,"


Setelah membuat keputusan yang entah apakah dirinya akan sesali suatu hari nanti, Diya keluar dari ruang kerjanya.


Setelah melihat Gico yang pingsan, Diya mengangkatnya ke sofa di pojok dan membaringkannya.


Melihat wajah orang yang dicintainya itu, Diya tersenyum sedih. Ia mengecup kening suaminya lalu pergi meninggalkannya sendirian.


Haris yang sudah menunggu dari tadi kini melihat ke arah Diya yang berjalan menghampirinya.


" Sudah selesai?"


" Hmm...ayo pergi" ucap Diya masuk ke dalam mobil dengan mantap.


Haris dengan cepat masuk ke kursi pengemudi dan bergegas melajukan mobilnya meninggalkan rumah Diya di belakang.


Melihat Diya yang memiliki ekspresi kosong, Haris menatapnya dengan khawatir.


" Kamu baik-baik saja?"


Diya menggerakkan kepalanya menatap Haris sambil tersenyum. Tapi, senyumnya tidak mencapai matanya.


" Aku baik, bagaimana keadaan orang tua itu?" tanya Diya mengalihkan pikirannya.

__ADS_1


Haris mengangkat bahunya dan berbicara dengan nada lelah.


" Dia sangat cerewet, jika aku tidak harus mrngantarmu ke tempat orang tua itu. Aku tidak akan pernah berpikir untuk pulang" kata Haris dengan menyedihkan.


Diya tertawa kecil, " Bagaimanapun dia ayahmu, jangan bersikap kasar"


Haris cemberut tidak senang, " Dia selalu menyuruhku untuk menikah setiap kali bertemu, bagaimana aku tidak kesal!?"


" Ya tapi ayahmu benar juga, lihatlah aku sudah memiliki anak begitu besar. Kamu yang seumuran denganku bahkan belum menikah, bagaimana dia tidak khawatir. Katakan, apakah kamu bengkok?" tanya Diya dengan main-main.


Haris merasa ada banyak awan hitam di atas kepalanya yang siap meletus!


" Kamu sangat tidak sopan, tentu saja aku pria lurus! Bukannya aku tidak ingin menikah, tetapi aku belum menemukan wanita pujaan hatiku" jawab Haris melotot ke arah Diya dengan tidak senang.


" Baiklah baiklah. Aku percaya padamu," ujar Diya terkekeh.


...****************...


" Bagaimana? Apakah kamu membawa kabar baik untukku?" tanya Gio pada orang di telepon.


Orang yang ada di telepon mendengus pelan,


" Ya sesuai permintaanmu. Dalam tiga hari aset Perusahaan Miyan Group akan digeledah"


Gio tertawa kecil dalam suasana hati yang baik.


" Itu kabar yang membahagiakan, aku akan mentransfer ke akunmu nanti"


Aston merasa gembira dalam hatinya, tidak sia-sia dirinya berlarian beberapa hari ini untuk menyelesaikan permintaan Gio.


" Oke, lain kali hubungi aku lagi jika kamu membutuhkan bantuan" kata Aston lalu menutup telepon dengan cepat.


Gio memberi isyarat pada bawahannya untuk mendekat.


" Antar aku ke rumah, aku tidak akan melewatkan pertunjukkan yang begitu bagus"


" Baik bos" ujar bawahannya dengan sigap mendorong kursi roda Gio.


Gio yang mengetahui kalau keluarga Pras sedang pergi ke ibukota untuk membahas perluasan perusahaan itu mencibir.


Kita lihat apakah kamu akan bisa bangkit kali ini, Ayah! Gumam Gio dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2