
" Kamu tahu bagaimana Raja Senjata meninggal?" tanya Haris menatap Gico dengan raut muka yang tidak bisa dibaca
" Dia dibunuh bersama istrinya saat sedang liburan bersama keluarganya, untung anaknya selamat"
" Pembunuh itu begitu kejam, merusak mobil yang mereka tumpangi"
Gico mendengarkan cerita Haris dengan tenang, ia bertanya-tanya apa hubungan kecelakaan keluarga Raja Senjata dengan Diya istrinya.
" Dimana anak Raja Senjata itu? Kenapa harus Diya yang menjadi Raja Senjata berikutnya?" tanya Gico mengerutkan keningnya
Haris mencibir disudut mulutnya, ia menatap Gico dengan meremehkan
" Diya adalah anak mereka, bagaimana lagi dia bisa duduk diposisi Raja Senjata kalau dia tidak memiliki hubungan dengan Raja Senjata, apalagi dia seorang wanita. Diya telah melakukan pelatihan yang keras sejak kecil hanya untuk posisinya saat ini" kata Haris memandang Gico seperti orang bodoh, hal sepele seperti itu saja ia tidak bisa menebak.
Gico tertegun mendengar perkataan Haris, ia menatap Haris dengan tidak percaya.
" Bagaimana mungkin, Diya memberitahuku kalau orang tuanya hanya pegawai biasa. Bagaimana dia bisa berbohong padaku!?" kata Gico dengan tidak percaya.
Haris memperhatikan reaksi Gico dengan tenang
" Itulah kebenarannya, aku sudah mengatakan hal yang kamu inginkan. Sekarang pergilah, aku ingin istirahat" kata Haris memutar kursinya membelakangi Gico.
Gico yang masih linglung keluar dari tempat Haris, ia bahkan tidak tahu bagaimana ia keluar.
Gico tidak mengerti mengapa Diya menyembunyikan hal sebesar ini darinya, apakah dia tidak percaya pada dirinya jika ia bisa menyelesaikan masalah yang Diya hadapi.
Setelah mendengar perkataan Haris, Gico memutuskan untuk pulang dan meminta penjelasan dari istrinya itu.
Haris melihat keluar jendela dan mengawasi Gico yang keluar dengan mobilnya itu dengan tatapan kebencian.
" Jika bukan karena Diya, aku sudah memusnahkan keluargamu sejak lama" kata Haris dengan permusuhan yang jelas dimatanya, berbeda sekali saat ia menyapa Gico dengan memanggil kakak ipar begitu lembut diawal.
...****************...
" Cepat duduk, aku tidak memiliki banyak waktu" ujar Leiya memerintahkan Arya duduk di kursi ruang tamu untuk mengganti perban dilengannya.
__ADS_1
Arya menurut, ia duduk dengan patuh sambil melihat Leiya yang sibuk mengganti perbannya.
" Memangnya kamu mau kemana? Kenapa terburu-buru?" tanya Arya
" Tentu saja aku harus kembali ke rumah, tidak bagus jika aku terlalu lama di sini" jawab Leiya yang masih fokus mengganti perban Arya tanpa memperhatikan kalau wajah Arya sudah menjadi hitam seperti pantat wajan.
" Kenapa tidak bagus? Kamu bisa tinggal di sini selama kamu mau"
Gerakan tangan Leiya menjadi lebih kuat mendengar perkataan Arya yang tidak tahu malu dan membuat Arya meringis kesakitan.
" Aku orang yang sangat sopan, bagaimana bisa aku tinggal ditempat orang lain begitu lama. Lagipula kita hanya sebatas orang tua Laskar, sangat tidak pantas jika aku terus berada di rumahmu. Apa kata orang nanti, aku akan dianggap memanfaatkanmu. Tuan muda yang kaya" kata Leiya tidak setuju dengan perilaku Arya
" Apakah aku orang asing dalam pandanganmu?" tanya Arya dengan nada tenang
Leiya sedikit takut dengan ketenangan Arya, sikap itu hanya ia tunjukkan saat sedang serius bekerja. Sudah lama Leiya tidak melihat Arya menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Yaah... Kamu ayah Laskar, bagaimana bisa menjadi orang asing" jawab Leiya dengan hati-hati
Melihat perban yang sudah selesai ia balut, Leiya segera membuat alasan untuk melarikan diri dari situasi yang canggung ini.
Sesampainya di depan pintu kamar, ia segera membukanya untuk masuk ke kamar.
" Mengapa kamu ada di sini?" tanya Leiya terkejut saat melihat Arya yang juga masuk ke kamar.
Arya tersenyum kecil, ia berjalan ke kasur dan duduk di atasnya.
" Ini kamarku, apakah kamu lupa? Lagipula tujuan awal kamu di sini untuk berlibur kan? Jadi kenapa terburu-buru untuk kembali, aku akan mengajak kamu dan Laskar mengelilingi ibukota. Bersiaplah"
Mendengar perkataan Arya, Leiya baru ingat ia memang di sini untuk berlibur.
" Tapi aku sudah ada janji dengan Bai, kamu bisa pergi bersama Laskar. Kita bisa pergi bersama-sama besok" kata Leiya mengingat pesan Bai yang sepertinya sangat mendesak.
Arya menjadi lebih kesal mendengar Leiya akan bertemu dengan Bai, ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
" Tidak apa-apa, aku dan Laskar akan ikut denganmu. Kami tidak akan mengganggu, kalian hanya akan berbicara sebentar bukan? Setelah itu kita bisa pergi bersama" kata Arya dengan tersenyum paksa.
__ADS_1
Leiya pikir yang dikatakan Arya masuk akal, ia mengangguk menyetujui sarannya.
" Kalau begitu aku akan menghubungi Bai" ujar Leiya mengambil ponselnya tapi dicegah oleh Arya.
" Tidak usah memberitahu Bai, dia dan aku juga termasuk teman. Jika dia tahu aku akan datang, dia pasti menyambut dengan senang hati. Anggap saja seperti kejutan untuknya" ucap Arya dengan wajah serius membuat Leiya percaya kata-katanya.
" Kalau begitu kau bersiap-siaplah, aku turun dulu untuk memberitahu Laskar" kata Leiya keluar kamar setelah mengambil tasnya.
Arya tersenyum setelah berhasil membodohi Leiya, ia mengutuk Bai di dalam hatinya karena terus mengganggu Leiya agar bertemu. Lihat saja nanti, tak akan ia biarkan Bai berduaan bersama Leiya.
Arya turun ke bawah menuju garasi, ia mengeluarkan mobil yang akan dibawanya lalu pergi bersama Leiya dan Laskar menuju kafe yang menjadi tempat janji temu mereka.
Sesampainya di sana, mereka bertiga masuk melihat sekitar untuk mencari Bai yang ternyata ada di meja paling pojok yang tidak banyak orang.
Arya mengerutkan keningnya melihat Bai yang tidak ke sini sendirian melainkan bersama seorang wanita yang ternyata adalah adiknya!
Saat sampai di depan Bai, Raya belum menyadari kedatangan Arya karena dirinya sibuk bermain game di ponselnya.
" Ah sial! Dasar rekan setim babi! Kalah lagi kan aku!" umpat Raya kesal
Bai menyambut Leiya dan Laskar dengan ramah, ia tidak menyangka Arya akan ikut juga. Untung saja meja yang dipesan Bai cukup luas jadi bisa menampung mereka semua.
" Duduklah Ay, hallo Laskar apa kabarmu? Mau pesan apa?" sapa Bai dengan senyuman
Melihat pamannya Bai yang membawa seorang wanita dan juga tatapan pamannya Bai yang tidak cemburu melihat ayahnya datang bersama bubu, Laskar berpikir kalau tebakannya pasti salah.
Pamannya tidak menyukai bubu seperti pria dan wanita tapi seperti cinta saudara, layaknya kakaknya Sime pada dirinya sendiri.
" Aku ingin kentang goreng paman"
" Baiklah tunggu sebentar paman pesankan"
"Oke"
Sementara Leiya yang melihat Arya tetap berdiri di belakang wanita itu tidak merasa terkejut, ia pernah melihatnya saat di mall. Dia adiknya Arya, entah apa hubungan adiknya Arya itu dengan Bai.
__ADS_1