Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 41. Foodie kecil


__ADS_3

"Sayang, hari itu waktu kamu ke kantorku kamu membawa gambar-gambar desain. Apakah itu milikmu?" tanya Dio menatap Yami dengan bersemangat


" Hah..oh..desain itu, iya itu aku yang menggambar. Ada apa?" kata Yami merasa gugup dihatinya.


" Oh aku tahu istriku sangat berbakat, kalau begitu bagaimana kalau kamu bekerja di kantorku saja. Bukankah kamu bilang ingin membuka studio desain? Jika kamu langsung bekerja di perusahaan maka kita tidak harus mengurus perizinan dan lainnya" kata Dio memandang Yami


" Aku tidak apa-apa, ikuti saja rencanamu. Ngomong-ngomong untuk apa kamu menanyakan desain itu"


" Oh itu untuk acara perayaan hari jadi seprovinsi ke 87, akan ada peragaan busana dan banyak perusahaan desain yang ikut. Jika pemasaran kita berhasil dalam acara ini maka itu akan menguntungkan" kata Dio


" Ya aku senang bisa membantu, aku akan membuat baju itu dengan baik" kata Yami dengan percaya diri, ya bukankah desain itu hanya dari karyawan kecil. Diriinya pasti dengan mudah membuat baju sesuai desain itu.


" Kalau begitu aku akan berbicara dengan ayah, jika dia setuju kamu bisa langsung ke perusahaan besok" ujar Dio bangkit menemui ayahnya setelah mendapat persetujuan Yami.


Yami tersenyum sombong, pasti di acara itu namanya akan bersinar dan bisa mengungguli Anti di kota ini. Yami masih kesal jika teringat saat dirinya tidak bertemu Anti dalam pesta amal hari itu, Anti pasti sengaja dan meremehkannya, lihat saja nanti dirinya akan lebih bersinar darinya.


......................


Leiya akhirnya sampai di kota Y dan dengan cepat pergi ke rumah Long untuk menjemput Laskar.


" Ayo sayang kita pulang, terima kasih kak Rani merepotkanmu semalam ini" kata Leiya menyalami tangan Rani dengan terima kasih.


" Tidak merepotkan sama sekali, Laskar anak yang patuh dia banyak bermain bersama putriku. Lainkali datang bermain lagi ya" kata Rani tersenyum menanggapi


" Laskar kenapa kamu cepat sekali pulang, ayo menginap satu hari lagi ya" rengek Aning tidak mau melepaskan lengan Laskar.


Long dengan wajah gelap menggendong Aning, bagaimana bisa putrinya seperti itu kepada seorang laki-laki!


" Sayang Laskar juga merindukan ibunya, Aning tidak bisa membuat Laskar terus bersamamu jika seperti itu bukankah kamu menjadi anak tidak baik" kata Long membujuk


Aning dengan wajah menangis membenamkan kepalanya di bahu ayahnya

__ADS_1


" Lalu Laskar bisa menginap bersama ibunya disini" kata Aning lirih


Arya yang mendengar ucapan Aning ingin segera memukul Long! Apakah anaknya ingin merebut sepasang ibu dan anak darinya, tidak mungkin!


" Ini permen hadiah dari paman, lain kali Laskar akan bermain lagi ke sini oke. Dia punya rumah sendiri jadi tidak bisa selalu tidur di rumahmu" kata Arya menyerahkan sekantong permen.


Aning yang mendengar kata permen segera mengangkat kepalanya


" Waah paman kamu baik sekali, terimakasih. Kalau begitu aku tunggu Laskar bermain denganku lagi lain kali, dadah Laskar" kata Aning dengan tangan yang sibuk membuka bungkusan permen itu.


" Ayah aku tidak bisa membukanya!"


Long menghela napas lelah, apakah putrinya seorang foodie. Hanya dengan sebungkus permen dia sangat mudah dibujuk.


Laskar hanya menonton Aning dengan tenang, ya Aning yang sangat menyukai camilan pasti akan teralihkan, ia sangat tidak senang melihat perempuan menangis, sungguh berisik.


" Ayo bu kita pulang"


Setelah berpamitan dengan keluarga Long, mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan Arya langsung mengemudikan mobilnya ke rumah baru itu.


" Kenapa kamu mengantar kami langsung ke sini, aku bahkan belum menyelesaikan biaya pembelian dan barang-barang kita berdua masih di rumah Rifa" tanya Leiya melihat rumah di depannya.


" Jangan khawatir tentang formalitas, aku sudah mengurusnya. Akan aku tunjukkan dokumennya padamu, kamu bisa langsung membayarnya kepadaku" kata Arya tersenyum menuntun ibu dan anak untuk masuk.


Walaupun uang itu tidak seberapa, tapi agar Leiya tidak merasa terbebani. Arya tetap menerimanya.


" Kamu bisa istirahat dulu di sini, semua kebutuhan dasar sudah lengkap. Jika ada yang ingin diambil, bisa kamu ambil besok pagi" ucap Arya dengan tenang lalu membawa Laskar ke kamarnya sendiri.


" Waah baguslah, aku tidak perlu repot membereskan rumah ini. Sangat nyaman jika ada seseorang yang mau membantumu dengan sukarela" kata Leiya dengan senang hati masuk ke kamar miliknya yang bersebalahan dengan Laskar dan merebahkan dirinya.


" Paman kenapa kamu masuk ke kamarku" tanya Laskar yang masih tidak ingin memanggil ayah

__ADS_1


" Kenapa, aku ayahmu. Aku mau bertanya tentang keputusanmu untuk sekolah, bagaimana? Ibumu pasti sudah memberitahu kan?" tanya Arya duduk di sofa dengan Laskar


" Ya aku tahu, tapi aku belum bisa meninggalkan bubu" kata Laskar dengan cemberut


Arya menatap anaknya dengan heran


" Apa yang ibumu butuhkan dari anak kecil sepertimu, bukan kamu yang tidak ingin jauh darinya?"


" Apa yang kamu tahu! Jika aku tidak bersama bubu nanti siapa yang akan mengingatkannya untuk makan, siapa yang bisa menjadi bantal kesayangan bubu selain aku. Dan siapa yang bisa menghiburnya, kami selalu saling bergantung. Jika aku tidak disisinya bubu akan berpikir liar dan selalu menemui teman balapnya itu" kata Laskar dengan marah memalingkan mukanya.


" Aku sangat tidak suka saat bubu ikut balapan dengan teman-temannya, jika dia mengalami kecelakaan aku akan sangat cemas" lanjut Laskar dengan suara lirih


" Baiklah aku minta maaf atas apa yang aku katakan tadi" kata Arya dengan cepat, ya dia terlalu agresif


" Tapi bukankah sekarang sudah ada aku, aku akan menjaganya dengan baik. Apalagi yang kamu khawatirkan, lagipula bukankah itu keinginanmu untuk bersekolah di sana" kata Arya dengan canggung menepuk kepala Laskar.


Laskar sedikit linglung dengan tepukan Ayahnya di kepalanya


"Ya kamu bahkan belum mendapatkan kepercayaan dari bubu bagaimana bubu bisa mendengakanmu, jika kalian bertengkar maka bubu pasti akan pergi menjauh darimu"


Arya yang mendengarnya merasa tertusuk dihatinya, ya yang dikatakan Laskar memang benar.


" Kalau begitu kamu bisa mengikutinya secara daring, aku akan mendaftarkannya. Beri kamu waktu satu tahun setelah itu berangkat ke pulau" kata Arya membuat keputusan, ini juga waktu yang dia tetapkan untuk dirinya. Apakah ia bisa meyakinkan Leiya dalam satu tahun ini.


Jika dalam satu tahun Leiya tidak menerimanya maka Arya mungkin juga menculik Laskar untuk mengikat Leiya ke sisinya.


" Ya begitu juga bagus" kata Laskar setuju


" Mandi dan tidur, besok aku ajak kalian berdua jalan-jalan" kata Arya lalu keluar dari kamar Laskar.


Melihat pintu kamar Leiya yang tertutup, dia pasti sudah tidur. Arya turun ke bawah dan tidur di sana, ya di lantai bawah ada satu kamar tamu. Arya masuk duduk di kursi kerja dan segera menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.

__ADS_1


__ADS_2