Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 76. Wanita berpakaian merah


__ADS_3

Di dalam rumah, ada seorang wanita yang sudah menunggu dengan tidak sabar. Ia memiliki pakaian kasual berwarna merah yang sangat mencolok. Saat melihat Leiya yang masuk dengan pengawalnya, wanita itu akhirnya menunjukkan senyum puas.


Ia menyuruh mereka pergi menjaga di depan, hanya menyisakan satu orang saja.


" Bawa dia ke kamar di lantai atas dan kunci, kita akan membawanya saat hari gelap," perintah wanita itu yang masih dengan posisi duduknya dan menghisap sebatang rokok.


" Baik," jawab pengawal itu dengan hormat lalu dengan paksa menyeret lengan Leiya ke atas menaiki tangga.


Meskipun rumah itu kosong, perabotan di dalamnya bersih seperti dihuni oleh seseorang. Pengawal itu memasukkan Leiya ke dalam salah satu ruangan dan menguncinya.


" Tunggu! Kenapa kamu mengurungku di sini? Siapa wanita itu!? Aku tidak pernah menyinggung kalian, lepaskan aku!" tanya Leiya dengan keras menatap pria itu dan menahan lengannya yang akan menutup pintu.


Pria itu hanya mencibir, dia menatap Leiya dengan cemoohan.


" Kami hanya menjalankan misi, diam dan tenanglah. Jika bos kami merasa buruk karena mu, dia tidak akan sebaik ini hanya mengurungmu. Jadi jangan macam-macam," kata pria itu menghempaskan tangan Leiya sampai dia jatuh terduduk ke belakang.


Mendengar suara kunci diputar, Leiya merasa ini tidak nyata. Bagaimana dia bisa mengalami hari yang begitu sial!


Leiya segera berlari menuju jendela yang menghadap ke luar, tapi tidak ada rumah penduduk yang terlihat. Hanya ada hutan sepanjang ia memandang, dan sepertinya ia mendengar suara ombak. Pasti rumah ini tidak jauh dari pantai.


Melihat ke bawah, ada dua orang yang tetap berdiri di sana. Leiya merasa sangat lemas, tidak ada jalan keluar yang bisa ditemukan.


Leiya melihat sekeliling ruang kamar itu dengan seksama, hanya ada satu tempat tidur, meja kecil, dan sebuah lemari yang terkunci juga ada kamar mandi di pojok ruangan yang untung saja masih berfungsi.


Ia berjalan pelan dan duduk di kasur, entah apa yang akan terjadi padanya nanti. Ia hanya berharap agar Laskar baik-baik saja di sana.


Saat ini perutnya juga menggeram lapar, setelah lelah perjalanan yang jauh ini dan dengan kewaspadaan tinggi. Leiya merasa seluruh tubuhnya kaku, ia merogoh saku jaketnya dan memakan roti yang ia simpan dengan gigitan kecil.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu terbuka, wanita berpakaian merah itu masuk diikuti seorang pelayan yang membawa nampan makanan lalu ia meletakkan nampan itu di meja samping tempat tidur dan bergegas keluar.


Leiya mengamati semua itu dalam diam, ia menatap ke arah wanita berpakaian merah itu yang juga menatapnya dengan tatapan penuh minat.


" Aku tidak menyangka kalau target hari ini ternyata wanita yang lumayan pemberani, kamu masih bisa makan dalam situasi ini. Maka kamu pasti bisa menghabiskan makanan di atas nampan, jangan sia-siakan itu oke," kata wanita itu tertawa dalam suasana hati yang baik.


" Bagaimana dengan anakku? Pria itu bilang dia akan membawanya kembali menemuiku," tanya Leiya menatap wanita berpakaian merah dengan tatapan tajam, tangannya terkepal erat menggenggam sebungkus roti kering itu menunggu jawaban.


Wanita berpakaian merah memiringkan kepalanya dengan main-main, ia menyeringai dan mengangkat bahunya, " Mungkin dibawa oleh pedagang manusia?" kata wanita itu menatap Leiya dengan mata yang membesar.


Melihat wajah Leiya yang begitu tegang, wanita berpakaian merah tertawa dengan keras, "Kenapa kamu masih memikirkan orang lain? Aku tidak punya banyak waktu luang untuk menjemput putramu, jika dia pintar dia bisa menyusul ke sini,"


" Lebih baik pikirkan dirimu sendiri, menurutmu apa yang akan aku lakukan padamu?" kata wanita berpakaian merah memangku tangan seolah berpikir dengan keras.


Leiya sudah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, ia tahu putranya tidak ada ditangan mereka jadi dia lega. Ia mengabaikan celoteh gila wanita itu, Leiya menghampiri nampan makanan dan setelah memastikan makanan itu tidak beracun. Leiya mulai makan dengan tenang.


" Kamu sangat manis, sayang sekali seseorang ingin aku menghancurkanmu. Nak, kenapa kamu menyinggung orang-orang gila itu. Sekarang hidupmu tidak dijamin," kata wanita itu dengan kasihan.


Leiya segera menghentikan gerakan tangannya, ia menoleh ke arah wanita berpakaian merah yang tersenyum, "Itu artinya kamu memiliki cara agar aku tidak dibunuh bukan?"


Wanita itu mengangkat kedua alisnya mendengar pertanyaan Leiya, " Mungkin? Tapi taruhannya terlalu mahal, itu tidak sepadan,"


Wanita itu terkekeh lalu bangkit menuju pintu keluar, " Nikmati makananmu,"


Leiya yang melihat ada kesempatan untuk selamat bagaimana mungkin membiarkannya pergi begitu saja, " Tunggu, aku tidak tahu siapa yang kamu bicarakan. Tapi aku mohon selamatkan aku, kamu bisa mengambil apapun dariku," kata Leiya berdiri menatap wanita berpakaian merah dengan erat.


Wanita itu membalikkan badannya menghadap Leiya dan menyerahkannya sebuah permen, "Apakah menurutmu aku adalah orang yang baik?" katanya tersenyum.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Wanita berpakaian merah pergi keluar dengan tegas. Pria yang menjaga di depan pintu dengan sigap mengunci kembali pintu kamar.


" Bos kenapa kamu berbicara begitu lama dengannya?" tanya seorang pelayan yang berdiri di sampingnya dengan ragu.


Bos jarang sekali berbicara begitu lama dengan target mereka, ia paling hanya mengamatinya sekilas dan tidak berbicara membuat mereka takut. Tapi kali ini, bos berbicara dan tertawa dengan wanita itu.


" Itu urusanku, kenapa kamu menjadi begitu usil sekarang," kata Wanita berpakain merah dengan tidak senang.


" Katakan, apakah kapal pesiar itu sudah disiapkan dengan baik? Jangan sampai asap hitam itu mengeluh pada Raja,"


" Semua aman Bos tenang saja, tapi bagaimana dengan wanita itu? Apakah kita hanya akan melemparnya ke laut nanti?" kata pelayan pria itu karena mereka sekarang dalam perjalanan menuju jamuan acara penting, tidak mungkin mereka membawa wanita tidak dikenal ke sana.


Wanita berpakaian merah menghentikan langkahnya yang membuat pelayan itu terkejut dan langsung mundur.


" Mengapa kamu memiliki begitu banyak pertanyaan? Lebih baik kamu keluar dari sini dan menjadi wartawan saja bagaimana?"


Pria itu segera mengangkat kedua tangannya dengan ketakutan, " Maaf bos, aku akan diam mulai sekarang,"


Wanita berpakaian merah mendengus lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya ke ruang tamu.


" Bos ini tas wanita itu,"


" Letakkan saja di sudut,"


" Baik" kata bawahannya dengan patuh membawa tas milik Leiya dan Laskar ke sudut ruangan.


" Tunggu, berikan itu padaku," kata wanita berpakaian merah saat matanya tertuju pada sebuah gantungan kunci yang ada di tas Leiya.

__ADS_1


Saat menerima tas itu, Wanita berpakaian merah mengamati gantungan kunci itu dengan seksama, ia merasa tidak terduga dan sulit dipercaya.


__ADS_2