
Baltic merasa ingin menangis, ia sekarang menjadi tahanan rumah. Rifa tidak membiarkannya pergi bahkan untuk urusan kerjaan dia harus menyelesaikannya di rumah.
" Sayang biarkan aku keluar ya, lihat lukaku bahkan sudah mengering. Kenapa kamu terus mengurungku"
" Apa yang kau keluhkan, bukankah aku melakukan ini juga untuk kebaikanmu! Lihat luka-luka ini, sangat jelek. Jika kamu tidak memulihkan diri dengan baik maka aku tidak menginginkanmu lagi" kata Rifa memalingkan mukanya.
" Baiklah baiklah jangan marah, aku akan di rumah sampai lukaku sembuh sepenuhnya. Apakah kamu puas sayang" bujuk Baltic memeluk kekasihnya.
" Sangat patuh" ujar Rifa mengelus kepala Baltic
" Oh iya, aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu mengenal baik laki-laki yang kemarin di perkemahan?" tanya Rifa
" Laki-laki mana? Arya maksudmu?" melihat Rifa mengangguk, Baltic mengaitkan jari-jarinya ke tangan Rifa
" Ada apa, apakah kamu sudah memikirkan penggantiku karena aku jelek sekarang? Kamu terlalu tidak berperasaan" kata Baltic dengan sedih.
Rifa memukul kepala Baltic dengan tangannya yang lain.
" Pengganti apa, apakah kamu sudah mati?" kata Rifa kesal
" Arya itu pernah ke rumahku lima tahun lalu saat Leiya baru saja pergi ke negara A"
" Kenapa dia mencarimu? Rifa kamu tidak berselingkuh dengannya di belakangku kan?" kata Baltic memotong ucapan Rifa yang langsung disusul oleh pukulan kedua dikepalanya. Ia mengerang dengan wajah sedih.
" Bodoh! Dengarkan penjelasanku, dia itu mencari Leiya lima tahun lalu. Kau tidak melihat kalau fitur wajah Laskar mirip demgannya? Kau bilang apakah mungkin dia dan Leiya lima tahun lalu?"
Baltic mengingat-ingat dan memang perkataan Rifa benar, mereka mirip.
" Ya mungkin saja, juga sepertinya saat piknik kemarin dia selalu melihat ke arah Leiya. Pikirkan apakah Leiya akan segera melepas masa lajangnya?" kata Baltic dengan tertarik
" Entahlah, Leiya tidak terlalu peka dengan hal-hal berbau cinta. Dia bahkan tidak tahu jika ada rekannya yang menyukainya, semua terserah pada Arya itu"
"Tapi aku juga kesal dengan Arya itu, kau tahu kan Leiya sudah harus mengurus bayi di negeri orang. Apalagi dia dalam keadaan terpuruk waktu itu, semoga saja Arya ini tidak mengecewakan" sambung Rifa cemberut
Baltic melingkarkan tangannya dipinggang Rifa dan berbisik
" Sudah jangan terlalu dipikirkan, mereka semua sudah dewasa. Sudah bisa mengambil keputusan sendiri, lebih baik kamu memikirkan apa yang harus kita lakukan hari ini" kata Baltic menggigit telinga Rifa.
__ADS_1
Rifa memukul lengan Baltic yang diperban dan berkata
" apakah kamu gatal! Merindukan pukulanku? Jangan memanfaatkan kebaikanku akhir-akhir ini padamu ya, apakah kamu lupa rasanya dipukuli!" kata Rifa kesal lalu berlari ke dapur, ia memegang pipinya yang merah dan menepuknya. Sangat berbahaya untuk tinggal di sarang harimau.
Baltic di depan terkekeh ringan melihat Rifa kabur.
......................
Saat masuk ke rumah Arya, Laskar kagum dengan rumahnya yang mewah.
Paman Toni, pengurus rumah tangga Arya terkejut melihat tuannya versi mini. Ia tidak banyak bertanya dan menyapa dengan sopan.
" Paman ini anakku Laskar, mulai sekarang dia akan sering datang ke sini jadi biasakan" kata Arya padanya memperkenalkan Laskar.
" Laskar, ini Pamanku. Kamu bisa memanggilnya kakek Toni"
" Kakek Toni halo" sapa Arya dengan patuh.
Hati paman Toni seketika meleleh melihat anak yang lucu ini, ia mengangguk dan memberinya camilan.
" Kalau begitu paman siapkan makan malam dulu tuan" pamit Paman Toni pergi ke dapur.
Laskar dengan bersemangat mengamati semua benda yang ada di dalamnya.
" Kamu bisa membiasakan dulu dengan alat-alat ini, jangan langsung menggunakannya. Besok akan aku bawakan tutor untukmu" kata Arya lalu duduk di seberangnya untuk melakukan pekerjaan.
....
Leiya yang sendirian di rumah merasa kesepian, ini adalah hari pertamanya tanpa Laskar. Ia melakukan semua pekerjaan rumah sampai semuanya bersih, setelah melihat tidak ada yang bisa dikerjakan. Leiya memutuskan untuk menghubungi teman lamanya untuk balapan.
Leiya meminjam motor Baltic yang dititipkan di parkiran rumah Rifa, ia berkendara dengan bersemangat menuju alamat yang sudah disepakati.
" Hallo guys, bagaimana? Sudah siap balapan hari ini? Eh tapi aku pinjam motormu ya Fal" kata Leiya pada teman-temannya
" Ya boleh saja, asal jangan kau rusak motorku. Baru pertama kali melihat lagi setelah sekian lama kebiasaanmu masih saja sama, katakan apakah kamu tidak bisa membeli motor, biar aku belikan" kata Naufal
" Ck tentu saja aku punya banyak uang, tapi aku tidak sempat untuk membelinya. Lainkali aku harus menghubungimu kalau aku mau membeli" bela Leiya
__ADS_1
Leiya melihat grup balap mereka ternyata sudah berkembang dan resmi menjadi pembalap nasional, ia juga bangga dengan usaha teman-temannya ini.
" Ayo aku sudah lama tidak balapan, mungkin teknikku sudah berkarat. Mau berapa putaran?"
" Ya kalian lakukan tiga putaran dari start dengan 17 tikungan dan trek lurus " jelas Oki pada Leiya dan tiga pembalap lainnya.
" Baiklah ayo" kata Leiya bersiap-siap di garis start dan menunggu aba-aba.
1..2..go!! Duar
Leiya mengendarai dengan kecepatan konstan, ia berada di tengah para pembalap lainnya. saat melewati tikungan, semua pembalap mengurangi kecepatannya. Leiya masih mempertahankan posisi tengahnya.
Saat di trek lurus, ia menambah kecepatan menjadi 185 km/jam untuk memulai putaran kedua dan mulai menyalip lawannya.
Saat putaran kedua, Leiya dengan semangat melaju dan mencapai posisi kedua dalam prosesnya menuju putaran ketiga.
Dalam putaran terakhir, Leiya berakselerasi di tikungan terakhir untuk menyalip lawannya dan menambah kecepatan untuk mencapai finish.
Leiya menang, dia dengan senyum bahagia mengembalikan motor Naufal dan mengajak mereka makan bersama karena waktu balapan yang singkat.
Semua orang setuju dengan gembira karena makan gratis, mereka masuk ke rumah makan yang tidak jauh dari tempat balapan tadi. Total ada enam orang, dan Leiya hanya mengenal Naufal.
" Kakak memang teknikmu sudah berkarat, tapi tetap saja kamu masih bisa menang. Jika kamu mengasah kemampuanmu dalam balapan maka mungkin gelar pembalap nasional nomer satu tidak akan dipegang olehku" kata Naufal sambil makan iga sapi di depannya.
Pembalap lain yang diundang Naufal awalnya juga meremehkan Leiya, tapi melihatnya dengan mata kepala sendiri. Mereka merasa terpukul, bagaimana ada gadis yang bisa balapan dengan sangat baik. Mereka harus berlatih lebih keras lagi!
" Kamu terlalu melebih-lebihkan, aku hanya pembalap amatir bagaimana bisa dibandingkan kalian pembalap profesional. Sudahlah ayo cepat makan, nanti tidak enak jika dingin" kata Leiya tersipu
" Tapi kak memang kamu sangat jago, bagaimana kamu bisa tertarik dengan balapan? Aku baru lihat ada gadis yang sangat baik dalam balapan" kata seorang pemuda di sebelah Naufal
" Tidak ada, hanya karena aku bosan jadi cobalah bermain motor dan ketagihan. Itu sangat menyenangkan saat detak jantungmu ikut berpacu merasakan sensasi kecepatan tanpa batas" kata Leiya dengan senang.
" Kak boleh minta nomor teleponnya?" tanya pemuda di kanan Leiya
Leiya tersenyum canggung dan menolak
" anakku tidak akan setuju, dia biasa meretas teleponku. Aku tidak ingin kalian menjadi korban"
__ADS_1
Semua orang di depan Leiya seketika berhenti bergerak
" Anak?"