Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 66. Kontrak berakhir


__ADS_3

" Ayo keluar dulu" bisik Kakek Noma pada Laskar lalu menarik tangannya keluar dari bangsal.


Setelah Kakek Noma menutup pintu, suasana bangsal menjadi hening.


Arya berjalan dan duduk di sofa yang ada di sebelah ranjang dengan langkah kaki yang ringan.


Samuel yang tidak mendengar suara apapun lagi kini berbalik keluar dari selimutnya dan duduk.


Melihat masih ada Arya disitu, Samuel tidak memiliki wajah yang baik dan mengacuhkannya.


" Kenapa tidak pulang?" tanya Samuel dengan wajah yang gelap


" Hari ini aku akan menjagamu, apakah paman hanya ingin dijaga kakekku yang sudah tidak muda lagi. Kakek sekarang seharusnya sedang bersenang-senang dengan cucunya" jawab Arya dengan ringan sambil membuka ponselnya dengan tangan kiri.


Samuel hanya mengangguk acuh tidak peduli dengan provokasi dari Arya


" Aku ingin kamu mengambil sample DNA wanita itu"


Arya akhirnya mendongak dan menatap Samuel


" Oke, tapi aku juga ingin sample darimu. Aku akan melakukan tes sendiri"


......................


Leiya kini berada di rumah Baltic, karena orang tua Baltic yang sedang tidak ada di rumah. Leiya bisa masuk dan berbicara dengan Rifa tanpa beban.


Baltic juga sudah berangkat bekerja,


" Ibu peri aku sangat merindukanmu" kata Leiya berlari memeluk Rifa dan mencium pipinya.


" Aku tahu tapi janganlah kau seperti ini" protes Rifa geli karena tingkah Leiya.


" Ayo duduk mau minum apa?"


Mereka berdua berjalan beriringan ke ruang tamu dan duduk


" air putih saja, aku baru selesai sarapan jadi masih terlalu besar perutku" tunjuk Leiya pada perutnya yang buncit


" Olahraga dong, jangan hanya tahu makan saja" ejek Rifa membuat Leiya cemberut.


Rifa hanya menggelengkan kepala dengan tingkah sahabatnya ini, padahal sudah menjadi ibu anak satu masih saja bertingkah manja dengannya


" Ada apa denganmu?" tanya Rifa saat melihat Leiya tiba-tiba memeluk pinggangnya dengan erat.


" Hanya ingin peluk, sangat nyaman" jawabnya tersenyum yang tidak bisa dilihat oleh Rifa karena posisinya.


" Terserah kamu lah, eh kenapa kamu tidak membawa Laskar kesini?" tanya Rifa dengan tangan yang refleks mengelus rambut Leiya yang ada di pangkuannya.

__ADS_1


" Dia bersama ayahnya"


Rifa mengangguk mengerti


" Apa rencanamu selanjutnya, kontrak kerjamu dengan Perusahaan Altic sudah berakhir kemarin kan?"


" Aku tidak tahu, rencananya aku ingin kembali ke negara A bersama Bu Wen. Lagipula siapa yang tidak kenal aku, desainer top se Asia. Jadi tidak akan ada masalah dengan pekerjaan"


" Kamu memikirkan Laskar dan ayahnya?" tanya Rifa yang diangguki oleh Leiya.


" Kamu harus mendiskusikannya dengan Laskar" saran Rifa yang diangguki oleh Leiya.


" Biar aku telepon Laskar supaya kamu bisa melihatnya" kata Leiya bangun dan membuka tasnya untuk mencari ponsel.


" Oh ya, aku akan segera mengirimmu sejumlah uang" kata Leiya yang membuat Rifa bingung


" Untuk apa?"


" Harga ponsel" jawab Leiya dengan cemberut memelototi sahabatnya yang membelikan Laskar ponsel tanpa ijinnya.


Rifa terkekeh tidak merasa bersalah, ia hanya mengangkat bahu pasrah


" Bagaiamana aku bisa tahan dengan tingkah lucunya"


Leiya juga tidak terlalu menyalahkan Rifa karena memang Laskar membutuhkan ponsel untuk bisa berkomunikasi.


" Hallo bu, ada apa kenapa kamu menelponku?" tanya Laskar


" Lihatlah ibu baptismu dan sapa"


Leiya menyerahkan teleponnya pada Rifa di sebelahnya dan ia memperhatikan mereka apa yang mereka bicarakan


" Tunggu nak, apakah ada seseorang di sampingmu? Di mana kamu sekarang?" tanya Leiya yang mendengar suara batuk-batuk.


" Oh ini Kakek bu, kamu mau berbicara dengannya? Lihatlah"


Tanpa pikir panjang Laskar mengarahkan kamera ponselnya ke sebelahnya, ada kakek tua yang sedang duduk.


Leiya terdiam dengan tingkah Laskar, ia sama sekali tidak ingin melihat kakeknya Arya!


" Hallo kakek saya temannya ibu Laskar nama saya Rifa" rifa dengan senyum ramah menyapa Kakek Noma yang juga terdiam di layar


" Ya salam kenal, aku kakeknya Arya. Terima kasih karena kamu sudah menjaga ibu dan anak selama ini" jawab Kakek Noma melihat ke layar.


Kakek Noma juga tidak menyangka Laskar akan melakukan hal tersebut.


" hanya masalah kecil kakek, kalian ada dimana. Seperti di rumah sakit, kakek apa kamu sakit?" tanya Rifa pada kakek Noma

__ADS_1


" Oh hanya menjenguk anak berandalan, aku harus ke kamar mandi kalian lanjutkan mengobrol" kata Kakek Noma tersenyum lalu berjalan dengan tongkatnya ke arah kamar mandi, ia melihat raut muka Leiya yang tidak tenang jadi Kakek Noma memutuskan untuk pergi.


Leiya merasa lega melihat kakek Arya sudah pergi, ia memelototi Laskar yang ada dilayar.


"Kamu di rumah sakit?" tanya Leiya dengan tatapan menyelidik


"Itu..ayah yang mau menemui orang itu bu. Aku hanya bosan dan ikut ke sini, janji tidak akan ada kejadian apapun lagi" kata Laskar dengan cepat mengangkat jari kelingkingnya takut bubu marah padanya.


Laskar menutup mata menunggu ucapan bubunya tapi karena disisi lain tetap diam, ia mengintip dan mendapati layarnya mati.


" Ah bubu mematikan telepon tanpa mengucapkan sepatah katapun!"


Laskar cemas kalau bubu akan memarahinya, ia dengan cepat berlari ke dalam bangsal untuk menyeret ayahnya menjemput bubu.


Di sisi lain, Rifa menatap Leiya dengan bingung


" Ada masalah apa kamu? Kenapa begitu khawatir kemana Laskar pergi, bukankah selama ini saat ia pergi denganku kamu hanya menelpon sekali menanyakan kabarnya"


Leiya juga tidak menyembunyikan kejadian saat Laskar diculik, ia menceritakan semuanya pada Rifa. Itulah tujuannya datang ke sini, untuk berbagi rasa sakitnya sehingga hatinya bisa sedikit lebih baik.


" Huft untung semuanya baik-baik saja, jika yang menculik Laskar benar-benar orang jahat maka aku tidak bisa membayangkan" kata Rifa menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran yang tidak baik.


" Ya apa yang kamu katakan memang benar"


Leiya termenung mendengar perkataan Rifa, jika yang menculik Laskar adalah orang jahat asli maka hari ini ia pasti masih stres mencarinya.


Untung saja sekarang semua baik-baik saja


" Apakah menurutmu aku terlalu berlebihan menghadapi Arya? Haruskah aku meminta maaf dan menjenguk pamannya juga?" tanya Leiya dengan raut muka yang ragu-ragu


Rifa menepuk bahu sahabatnya


" Seharusnya begitu, lagipula hal-hal seperti ini di luar kendalinya. Dia juga pasti mencemaskan Laskar lebih dari yang kamu kira"


" Untuk pamannya, terserah kamu mau menjenguknya atau tidak"


Setelah mengatakan sarannya, Rifa mendengar suara bel pintu. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan untuk membuka pintu.


Melihat pria besar dan pria kecil di depan pintu rumahnya, Rifa terkejut sejenak karena dia baru saja membicarakannya tapi ia segera pulih dari keterkejutannya dan mempersilahkan kedua orang itu masuk.


" Tuan Arya, lama tidak bertemu" sapa Rifa sopan lalu segera menggandeng Laskar


Arya mengangguk canggung mengingat pertemuannya dengan Rifa lima tahun lalu yang tidak terlalu mengenakan.


" Hallo, aku minta maaf atas sikapku yang tidak sopan lima tahun lalu"


" Aku sudah melupakannya" jawab Rifa melambaikan tangan tidak peduli, ia membawa Laskar menemui Leiya meninggalkan Arya di belakang.

__ADS_1


__ADS_2