Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 71. Cucu menantu


__ADS_3

" Kau yakin akan pergi hari ini?" tanya Arya


Leiya yang sedang mengemas kopernya itu menghempaskan pakaian ditangannya dengan keras.


" Apakah kamu tidak memiliki pertanyaan lain? Sudah sepuluh kali kamu menanyakan hal yang sama, jika kamu terus bertanya maka pergilah dari sini. Kamu hanya mengganggu pekerjaanku" ucap Leiya dengan kesal.


Arya yang memiliki ekspresi cemberut segera tersenyum licik dan berdiri di belakang Leiya.


" Lalu, aku ganti pertanyaanku. Apakah kamu tidak merasa kasihan meninggalkanku sendirian di sini? Bagaimana jika aku merindukanmu?" tanya Arya dengan sudut mulutnya yang terangkat.


Leiya yang dipeluk dari belakang secara tiba-tiba merasa terkejut, apalagi hembusan napasnya yang hangat itu langsung mengenai telinganya yang membuat tubuhnya gemetar.


" Aku tidak tuli! Bicaralah dengan benar," kata Leiya mencoba melepaskan tangan Arya yang melingkar dipinggangnya. Tapi, Arya malah makin mempererat dekapannya.


" Jawab aku dulu, baru aku lepaskan" ucap Arya tersenyum.


Leiya merasa seluruh wajahnya panas sampai ke ujung telinga," Kamu!..Bukankah ada ponsel? Panggil saja aku jika kamu memiliki sesuatu yang harus dibicarakan," ujar Leiya dengan malu.


" Maka itu kesepakatan. Jika aku memanggilmu, kamu harus mengangkatnya, oke!?" kata Arya dengan tegas.


Melihat Leiya mengangguk dengan patuh, Arya tidak lagi menggodanya. Ia dengan enggan melepaskan kedua tangannya dari pinggang Leiya sambil mengacak-acak rambutnya.


" Aku akan melihat Laskar, mungkin dia membutuhkan sesuatu," kata Arya lalu keluar dari kamar.


Leiya segera merebahkan dirinya di atas kasur dengan lemas.


'Apa-apaan ini! Kenapa hatiku berdetak begitu kencang!'umpat Leiya dalam hati.


Setelah menghela napas panjang dan menenangkan diri, Leiya dengan cepat melanjutkan mengemas kopernya.


Setelah semua orang siap dengan barang bawaannya, Leiya dan Laskar menaiki mobil milik Arya yang memang sudah disiapkan untuk mengantar mereka berdua. Arya tidak bisa ikut karena harus menangani beberapa hal di perusahaannya.


" Jaga diri kalian, jangan lupa untuk menelpon setelah sampai," ujar Arya dengan sigap menutup pintu mobil untuk Leiya dan Laskar.


" Aku tahu, lagipula perjalanannya hanya beberapa menit. Bukannya kita pindah negara, kenapa kamu begitu cerewet" gerutu Leiya


Laskar hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang tuanya ini.


" Ayah, aku akan menelponmu nanti, sampai jumpa!" ucap Laskar melambaikan tangannya.

__ADS_1


Arya tersenyum ringan, ia mengangkat tangan kanannya dan menggoyangkannya perlahan. "Sampai jumpa,"


Melihat mobil yang telah hilang dari pandangannya, Arya dengan tidak tergesa-gesa melangkahkan kakinya ke dalam rumah.


" Bos!"


Arya menatap sekertarisnya dan menyerahkan sebuah berkas. " Berikan pada pamanku, jangan lupa minta sample darinya. Ingat, kamu harus memastikan dia tidak memalsukan sample itu,"


" Baik!" kata Kona, sekertaris Arya dengan sigap melaksanakan perintah.


" Bagus" ucap Arya lalu menyuruh Kona pergi.


Tok..tok..tok


Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan dipintu ruang kerjanya.


" Masuk," kata Arya dengan tenang.


Ternyata Paman pengurus rumah tangga yang mengetuk pintu, Arya memberi isyarat dengan tangannya. Paman pun segera mendekat dan berbicara pada Arya.


" Tuan Muda, Tuan Tua menyuruhmu untuk pergi menemuinya," ucap Paman memberitahu pesan yang ia dapatkan.


Setelah dua jam berkutat dengan laptop dan berkas-berkas, Arya bangkit menuju ke luar rumah untuk menemui kakeknya di rumah tua.


Melihat Paman pengurus rumah tangga sedang membersihkan kamar yang telah digunakan Laskar, Arya menatap sebotol yogurt yang ada ditangan pamannya.


" Paman, apakah yogurt itu milik Laskar?"


Paman butler sedikit terkejut melihat kedatangan Arya, ia dengan cepat menjawab, "Tidak, kemarin malam Laskar meminta tiga kotak yogurt. Katanya untuk nona Leiya, aku tidak tahu kenapa mereka menyisakan satu kotak di sini,"


" Berikan padaku Paman," kata Arya mengulurkan tangan kanannya.


Paman butler tidak banyak berpikir, ia menyerahkannya dengan santai lalu melanjutkan pekerjaannya.


Arya yang mendapatkan sekotak yogurt pergi dengan senyum tersungging dibibirnya.


" Tuan," sapa sopir yang duduk di kursi pengemudi.


" Hmm.. Antar aku ke rumah tua," kata Arya mengangguk sebagai balasan.

__ADS_1


" Baik"


Setelah sepuluh menit mobil melaju, Arya dapat melihat gerbang rumah kakeknya terbuka di depannya.


Melihat ke sekeliling halaman yang cukup luas, Arya mengernyitkan dahinya melihat ada mobil Bai terparkir dengan tenang.


Ekspresi Arya menjadi gelap, ia masuk dengan langkah yang tegak.


Melihat Kakeknya bersama Bai dan Raya sedang duduk dan tertawa bersama, Arya menjadi semakin tidak suka dengan Bai. Pria ini sangat licik! Bahkan dengan berani datang ke rumah untuk merebut hati Kakeknya!


" Kakek," sapa Arya pada Kakeknya setelah ia sampai di depan ke tiga orang itu.


" Akhirnya kamu di sini. Cepat duduk! Bai, perkenalkan ini cucuku yang tertua, dan juga kakaknya Raya. Namanya Arya," kata Kakek Noma.


" Aku tahu Kakek, kami sudah saling kenal. Perusahaan kami bekerja sama dengan baik beberapa tahun terakhir." ucap Bai tersenyum.


Arya hanya mendengus lalu duduk di sebelah kakeknya dengan tangan disatukan dan diletakkan di atas perutnya.


" Baguslah kalian saling kenal jadi bisa bermain catur bersamaku setiap hari. Eh..Arya, lihat ini. Bai sangat ahli dalam bermain catur, kalian bisa membandingkan untuk mengetahui siapa yang terbaik!" kata Kakek Noma tertawa, ia dalam suasana hati yang baik.


" Raya, cepat ambilkan sebotol bir! Tidak lengkap jika hanya bermain tanpa minum,"


Arya mengerutkan dahinya tidak setuju, " Kakek, kamu tidak boleh minum."


" Ais..hanya satu cangkir, satu cangkir. Sudah lama aku tidak minum, hari ini jangan melarangku!" ucap Kakek Noma memelototi Arya dengan tidak senang.


" Oke, aku akan membawakan sebotol bir. Tunggu." ujar Raya dengan senang hati beranjak ke tempat penyimpanan bir milik kakeknya dengan langkah kecil.


Arya tidak bisa berkata apa-apa saat ini, ia hanya bisa menuruti kakeknya.


" Bai katakan, bagaimana kamu bisa bertemu dengan cucuku Raya? Kenapa dia menjadi begitu penurut padamu. Kau tahu? Dia bahkan sering membantah perkataanku." tanya Kakek Noma memandang Bai dengan penasaran.


Bai tertawa kecil mendengarnya," Mungkin karena aku tampan?" canda Bai yang membuat dia dan Kakek Noma tertawa.


" Kamu tahu dia suka pria tampan. Maka, jaga wajahmu tetap baik, jangan sampai suatu hari dia mencari yang lain," kata Arya memandang Bai dengan cibiran. Tapi, nada bicaranya tetap tenang.


" Bagaimana bisa! Jika dia melakukan itu, aku akan memukulnya dengan tongkat! Kau tenang saja Bai, cucuku tidak seburuk itu,"


Kakek Noma menjelaskan pada Bai dengan senyum dimatanya. Di bawah meja, tanpa diketahui siapapun. Kakek Noma mencubit paha Arya dan memelototinya karena berbicara omong kosong!

__ADS_1


Bagaimana jika cucu menantunya ini kabur? Setelah sekian lama mentolerir sifat Raya yang tidak bisa diatur, sekarang sudah ada orang yang bisa mengendalikannya. Kakek Noma merasa sangat nyaman!


__ADS_2