
Setelah mendapatkan kabar dari Boy, Max terus saja termenung di tempat tidurnya.
Seharusnya tadi, mereka mungkin aja akan memulai pertempuran, Tapi kini Max terus saja terdiam, Bahkan sudah 5 menit lamanya sejak Boy mengakhiri sambungan telepon mereka.
Irene yang mengerti keadaan suaminya pun langsung berganti pakaian, Dia kini berlutut di hadapan suaminya yang masih saja diam tanpa sepatah kata pun.
Irene tau sebenarnya Max menyesal, Tapi penyesalannya tertutup dengan rasa kecewanya yang terlalu besar.
Bukankah tidak seharusnya dia bersikap demikian pada ibunya ??
" Sayang..." Irene menganggap lembut tangan kekar suaminya.
Tangan kekar yang selalu memberikan perlindungan untuknya dan anak anak mereka.
" Aku tau kamu kecewa, Tapi tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini, Ibu sudah menanggal, ibu mungkin menginginkan mu di saat saat terakhirnya, Setidaknya lihat beliau, " Max menatap sendu pada istrinya, Dia tidak tau harus berbicara apa saat ini.
Apalagi rasanya sulit sekali mengungkapkan apa yang di rasakan nya saat ini, Terlebih terlalu sesak dadanya hingga dia tidak bisa bernafas dengan baik.
" Jika kamu tidak bisa menjenguk ibu, Biarkan aku dan anak anak saja, Kami akan menyampaikan salam mu pada ibu nantinya. " Irene sudah berdiri dari posisinya, tapi Max menahan tangan istrinya.
Irene pun tersenyum, Dia tau bahwa suaminya tidak sekeras itu, Hanya saja keadaan yang membuatnya harus keras melebihi batu.
" Tunggu aku, Kita akan pergi ke rumah sakit bersama. " Max pun mencium kening istrinya dan pergi ke ruang ganti mereka.
Irene berharap suaminya bisa memaafkan ibunya, Dan mereka akan hidup lebih baik lagi.
" Sudah siap sayang ??" Tanya Irene saat melihat suaminya yang baru saja keluar dari ruang ganti mereka dan sudah memakai mantel miliknya, Tak lupa juga dia membawakan mantel untuk di kenakan Irene juga.
" Terima kasih sayang..." Ucap Irene dengan tulus setelah Max memakaikan mantel tadi pada tubuhnya.
Walau suaminya masih diam dan hanya tersenyum padanya.
__ADS_1
Mereka keluar dari kamar, dan langsung menuju mobil, Tapi Max tidak membawa mobil sendiri, melainkan supir yang membawanya.
Bahkan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Max terus saja diam, hanya Irene lah yang menyemangatinya.
Irene terus menggenggam tangan suaminya, Berharap Max kuat menghadapi semua ini.
Mereka telah sampai di rumah sakit, Dan Max pun dengan berat hati melihat ke ruang jenazah,.
" Masuklah sayang, Aku menunggu disini. " Tanpa menunggu lagi, Max pun masuk ke ruang jenazah, Dimana di sana hanya ada jenazah ibunya saja.
Ibunya sudah di bersihkan, Dan siap untuk di makamkan malam ini juga, Karena Max yang memberi perintah.
" Kenapa tidak pernah meminta maaf pada ku dengan tulus ?? Kenapa tidak pernah melakukan tugasmu sebagai ibu ?? sekali saja, Sekali saja lakukan tugas mu sebagai ibu, Paling tidak anggap aku ada di dunia ini, Anggap aku anak mu, Bukan sebagai tempat kau meminta uang !" Max berdiri di sisi peti jasad ibunya, Dia merasakan dadanya yang semakin sesak.
Berada di ruangan ini hanya dengan Jasad ibunya saja, Dan dulu juga dia merasakan hal seperti ini.
" Apa kau tau ?? Dulu juga aku merasakan hal ini, Dimana aku sendirian menangisi Jasad Daddy, Dan sekarang kenapa aku tidak bisa menangisi Jasad mu ?? apa kau tau jika aku ingin sekali memanggil mu ibu ? Seperti yang di rasakan teman teman ku yang pergi dan pulang sekolahnya di antar kan ibunya, Aku juga ingin seperti mereka. ". Dadanya semakin sesak.
Sumpah demi Tuhan, Max tidak ingin lagi merasakan hal seperti ini.
Dimana dia harus kembali berhadapan dengan sebuah kematian, Dan kini yang di hadapinya adalah kematian ibunya.
" Kenapa pergi meninggalkan ku sebelum aku memaafkan mu ?? Apa sebegitu tidak berartinya aku ? hingga kau pergi tanpa maaf dari ku ??" Air matanya jatuh untuk pertama kalinya.
Max menangis, Dia menangisi jasad ibunya yang sudah berada di dalam peti.
" Kau sebegitu tidak menginginkan ku kau ?? hingga kau benar benar tidak perduli dengan ku ?? bahkan kau tidak pernah mengelus rambut ku sekali pun, Kau tidak pernah menyambut ku saat aku pulang dengan piala di tangan mu, Bahkan saat aku terjatuh dari sepeda pun kau tidak mengulurkan tangan mu untuk ku, Kau benar benar tidak memiliki hati untuk ku ! Kau memang ibu paling jahat di dunia ini. " Air mata Max semakin turun dengan deras.
Dia mengabsen dan mengingat kembali satu persatu kesalahan ibunya, Dia kembali mengingat bagaimana dulu dia sangat sangat ingin merasakan kasih sayang seroang ibu, Paling sederhana saja, Max ingin tidur dengan sebuah kecupan penuh cinta, Tapi dia tidka pernah mendapatkannya sekali pun.
Tidak sekali pun, Karena saat dia terbangun, Dia tidak mendapati siapa pun di sana selain Daddy-nya yang selalu membangunkannya setiap pagi dan membantunya bersiap untuk sekolah.
__ADS_1
Sementara ibunya sudah duduk di meja makan dengan sarapannya, Bahkan juga Max pernah ingin mencium ibunya, Tapi ibunya langsung menolak dan meninggalkannya begitu saja.
Sejak saat itu pula lah Max menjadi takut, Dia takut di kecewakan ibunya, Dia takut kembali mendapatkan penolakan hingga membuat hatinya sakit.
" Apa kau merasa bahwa hidup ku sudah bahagia dengan istri dan anak anak ku ?? maka kau tidak perlu meminta maaf pada ku ?? atau malah kau merasa tidak bersalah sedikit pun pada ku ??"
" Miris sekali hidupku, Menginginkan sesuatu yang sama sekali tidak menginginkan ku, bahkan kehadiran ku. " Boy datang, Karena waktunya pemakaman akan segera di mulai.
Dan Max juga memilih untuk memakamkan ibunya di Makan keluarganya, Tepat di samping Daddy-nya.
" Pemakaman sudah siap Tuan, Kita hanya tinggal membawa Nyonya besar ke pemakaman saja. " Lapor Boy pada Max.
Dia hanya melihat Boy sekilas dan kembali pada jasad ibunya.
" Aku menempatkan mu di samping Daddy ku, dan aku berharap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian, dan berharap kau sadar, bahwa kau masih berhutang maaf pada ku. " Max pun langsung pergi begitu saja meninggalkan jasad ibunya bersama Boy yang memang akan mengurus segala nya, dan Max ??
Dia tidak akan mengantarkan jasad ibu nya ke pembaringan terakhirnya.
Dia tidak sanggup lagi untuk itu semua.
Hatinya sudah terlalu sakit mengingat semua yang pernah di ingin kan nya, Tapi tidak satu pun yang di berikan oleh wanita itu.
Jika Max bisa bicara lebih, Dia akan mengatakan bahwa dia sangat kecewa, Dia juga ingin ibu nya meminta maaf sekali saja, Sekali saja katakan maaf padanya dengan tulus, Maka Max akan memaafkannya.
Max akan membangun kehidupan mereka lagi dari awal dan saling mengasihi.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Baik dia atau pun ibunya, Mereka sama sama egois hingga tidak menemukan titik terang dari apa yang menjadi permasalahan di keduanya.
...🤍🤍🤍...
__ADS_1