
Max melajukan mobil nya dengan kecepatan dia atas rata rata.
Bahkan dia tidak bisa berpikir apapun lagi saat ini selain pergi ke makan Daddy nya.
Makan keluarga Max sendiri, Dimana disana juga ada Makan ibu nya Marcel yang langsung bersebelahan dengan Daddy nya.
Tidak ada kata takut lagi bagi Max saat ini, Yang penting dia bisa mencurahkan isi hati nya yang begitu terluka dengan semua beban hidup yang di tanggung nya selama ini.
Langkah kaki nya semakin melemah dan berat saat dia sudah memasuki gerbang makam tersebut.
Bahkan dada nya semakin terasa sesak saat dia hampir sampai di makan Daddy nya.
Brugh...
Max jatuh ke bersimpuh di dekat makan Daddy nya, Tangis nya langsung pecah begitu saja, Bahkan dia menelungkup kan wajah nya di nisan sang Daddy.
" Kenapa sesakit ini Dad ?? Kenapa Daddy meninggal kan ku sendirian ?? Jika boleh Max memilih, Tolong bawa Max bersama Daddy, Max tidka kuat menghadapi ini Dad, Jika pun ibu berubah, Itu sudah tidak berarti apapun lagi pada Max Dad, Karena hati Max telah hancur, Dan ibu lah yang menghancurkan nya, Ibu lah yang menyumbang luka terbesar dalam hidup Max, Ibu lah yang bersalah atas semua ini. " Tangis nya terus terdengar di malam yang gelap ini, Bahkan hujan sebentar lagi akan turun, Tapi itu tidak berpengaruh apapun lagi pada pria yang terlihat begitu rapuh saat ini.
Luka hati nya yang telah menyakiti Irene saja belum sepenuh nya sembuh, Malah ibu nya kembali melukai hati nya dengan membenci Irene, Bukan hanya itu saja, Tapi ibu nya juga ingin memukul Irene dengan tangan nya.
Yang bahkan Max saja tidak pernah melakukan itu pada Irene, Dia takut menyakiti hati bidadari surga nya, Dia tidak ingin melihat air mata bidadari nya jatuh dan membuat nya gagal dalam menjaga nya.
Ibu nya membuat Max merasa semakin bersalah dengan diri nya yang tidak bisa menjaga Irene dengan baik.
Max benar benar kembali merasa sangat bersalah dengan istri nya.
Setidak nya jika tidak perduli dengan nya, Lakukan itu dengan baik, Jangan mengusik hidup nya lagi.
Apalagi kini Max sudah memiliki kehidupan yang baru bersama istri dan anak nya, Jangan mengganggu nya lagi.
Itu lebih baik, Tapi ini ibu nya bahkan hampir menyakiti istri yang sangat di cintai nya.
" Sakit Dad, Sakit hati Max, Ibu tidak pernah berubah, ibu tidak akan pernah berubah, Dia bahkan semakin menjadi, ibu semakin menyakiti hati Max dengan ingin menyakiti istri Max, Berikan Max alasan untuk bisa terus menganggap nya sebagai ibu. "
__ADS_1
Jeder..
Petir mulai terdengar dan terlihat menyambar, Rintik rintik air yang turun dari langit pun mulai turun membasahi bumi.
Saat hujan semakin deras, Max pun mengeluarkan semua rasa sesak di dada nya selama ini.
Dia menangisi takdir yang seakan mempermainkan nya saat ini..
" Aaahhhhkkkk !!!!" Teriak Max semakin kencang di bawah guyuran air hujan yang membasahi tubuh nya.
Dia terus saja memukuli Dada nya yang terasa sangat sesak.
Sementara Irene yang berada di rumah mereka bersama Nathan dan Cristine pun menatap kasihan pada Irene yang terus saja mondar mandir dengan wajah yang terlihat begitu khawatir dan tak tenang itu.
Merkea tidak menyalahkan nya, Wanita mana yang tidak khawatir dengan keadaan suami nya yang bahkan belum juga pulang.
Belum lagi di luar sana hujan turun dengan begitu deras nya membuat wanita blasteran surga itu semakin tidak tenang memikirkan suami nya.
Tenang lah Nia, Kakak yakin suami mu baik baik saja. " Nathan mencoba memenangkan adik nya yang belum juga tenang sejak tadi.
Irene mulai menangis memikirkan keadaan suaminya, di mana suaminya itu ? kenapa hingga jam segini juga belum ke terlihat pulang.
" Kakak memang tidak tahu apa yang kau rasakan, tapi alangkah lebih baiknya kamu berdoa untuk keselamatannya bukan ??" Irene pun tersadar.
Benar kata kakaknya, seharusnya dia berdoa bukan malah berpikiran tidak tidak seperti ini yang semakin mengotori beban pikirannya.
Ceklek...
Pintu utama terbuka, dan Iran pun langsung berlari ke arah pintu saat mengetahui bahwa suaminya yang baru saja pulang.
Tapi saat dia melihat keadaan suaminya yang begitu berantakan dengan wajah pucat, baju basah dan bahkan celana yang dikenakannya berlumpur.
Dari mana suaminya ini ? ke mana perginya mas hingga terlihat begitu sangat berantakan.
__ADS_1
" Sayang kamu sudah pulang ? ke mana saja aku mengkhawatirkan mu. " Max hanya menata piring sekilas, dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Tujuannya saat ini adalah kamar mandi karena dia ingin segera membersihkan tubuhnya dan merebahkan tubuh lelahnya.
Dia benar-benar ingin melupakan malam ini, malam yang menurutnya kembali membuka luka lamanya.
Luka yang benar-benar ingin dilupakannya kini terbuka kembali oleh perlakuan ibunya terhadap Irene.
" Sayang. " Panggil Irene lagi pada suaminya.
Tapi Max tidak mengindahkannya, dia malah semakin melajukan langkah kakinya menuju kamar mereka.
Melihat Max yang bersikap begitu padanya membuat hati Irene terasa sakit.
Apa salahnya cinta masih bersikap seperti itu padanya, dia hanya ingin mengetahui keadaan suaminya lalu di mana kesalahannya ?
" Siap kan saja teh hangat untuknya dan pakaian bersihnya juga, Mungkin dia sedang lelah dan jangan tanyakan apapun lagi saat ini. Temani dia karena dia saat ini hanya membutuhkan teman. " Irene menganggukan kepalanya dan segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk suaminya.
Sementara Max yang berada di dalam kamarnya, dia pun segera langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dia membasahi seluruh tubuhnya dengan air yang keluar dari shower, Di biarkannya air-air itu membuat air seluruh tubuhnya berharap apa yang dirasakannya saat ini bisa luntur dan hilang bersama air air itu.
Tapi lagi-lagi bayangan-bayangan masa lalunya kembali berputar di kepalanya.
Bagaimana saat-saat ayahnya akan menghembuskan nafas terakhirnya, di mana saat itu juga ibunya tidak ada di sana.
" Ahhggkkkkkkkkk... Aku membencimu !!!" teriak met lagi sambil memukuli dinding kamar mandinya.
Karena dia kembali melihat dan mengingat bagaimana saat-saat ibunya bergandengan tangan dengan banyak pria di luar sana.
Sementara dia ? dia harus bersusah payah dan berjuang keras untuk membangkitkan perusahaan Daddy nya, makan rela untuk menjadi pembunuh bayaran dan keluar masuk penjara seperti yang pernah diceritakannya pada Irene.
" Maafkan Max dad, Maafkan Max . " Ucapkan lagi dengan air mata yang kembali mengalir dari kedua matanya.
__ADS_1
...🤍🤍🤍...