
Irene menangis, Terus terusan menangis, Apalagi saat dokter mengatakan bahwa dia tengah mengandung, Baru 3 Minggu.
Dia baru mengingat nya, Karena dia hanya sekali menjalani suntik KB itu saat Max membawa nya ke Paris untuk bekerja.
Dan setelah itu memang dia tidak ada melakukan suntikan itu lagi.
Bagaimana ini ? Dia hamil anak nya Max, Lalu bagaimana dia menjalani semua nya ??
" Katakan siapa ayah anak yang kamu kandung saat ini Nia, "
" Jangan panggil aku Nia, Aku takut dengan nama itu, Tolong jangan..." Ucap nya dengan tangisan..
Demi Tuhan dia tidak ingin mengingat nama itu lagi, Dia tidak ingin.
" Jadi siapa ayah anak itu Irene ? Jangan bilang jika ayah anak mu itu Pria bajingan itu. "
" Max tidak bajingan !!" Bantah nya marah.
Dia tidak terima Jika Nathan mengatai Max bajingan.
Walau memang benar, tapi ada rasa tidak terima jika Nathan mengatakan Max bajingan seperti itu.
" Lalu aku harus menyebutnya apa Irene ?? Kau adik ku ! Lalu kenapa kau ---Aaahhhk !" Nathan berteriak frustasi dengan semua ini.
Bagaimana bisa Irene mengandung anak Max ? sementara dia sangat membenci pria itu.
Bahkan dia sudah membatalkan kerja sama mereka walau Nathan harus rugi besar, Itu semua demi Irene adik nya.
" Gugurkan kandungan itu dan kita akan tinggal di Swiss ! " Irene langsung mengangkat pandangan nya, Dia menatap tajam pada Nathan yang ingin membunuh anak nya.
Hasil buah cinta nya bersama Max, Walau Max tidak mencintai nya, Setidak nya dia memiliki diri Max yang sedang tumbuh di dalam rahim nya saat ini.
Tidak akan Irene mengugurkan nya, Lebih baik bunuh saja dia bersama anak nya, Dari pada dia harus kehilangan sebagian diri Max yang kini sedang tumbuh.
" Bunuh saja aku jika memang begitu, "
" Apa maksud mu Irene ?? Kau itu adik ku, Bagaimana bisa aku membunuh mu ! Kau adik yang selama ini ku cari, Kau adik ku Irene, Kau adik ku. " Tekan Nathan lagi .
Dan hal itu semakin membuat Irene semakin menangis, Dia menangisi keadaan nya yang seperti ini.
" Jangan pisahkan aku Dan anak ku, Tolong jangan..." Pinta Irene dengan sangat.
__ADS_1
Dia benar benar menyayangi anak ini, Walau mungkin Max tidak menginginkan nya sama sekali.
Jadi biarlah dia hidup bersama anak nya, Berdua saja.
" Baik, Jika itu yang kau inginkan ! Kau ingin tinggal di pulau ini atau di Swiss ? itu terserah mu, Pilihan ada di tangan mu. " Irene menatap dalam pada kakak nya saat ini.
Bisa kah dia menerima Nathan sebagai kakak nya ? Semoga bisa karena memang Nathan kakak nya.
Dengan berani Irene menatap wajah Nathan, Begitu juga Nathan yang melihat gurat kesedihan di wajah adik kesayangan nya ini
" Percaya pada ku, Bahwa aku hanya ingin melindungi mu, Aku tidak akan membuat mu ketakutan lagi di luar sana. " Nathan duduk di pinggir ranjang adik nya dan mengusap lelehan air mata yang berlinang di pipi Irene.
" Jika begitu biarkan dia hidup bersama mu, Tidak dengan nya pun aku mau, Tapi biarkan anak ku tetap hidup. Aku mencintai Ayah nya, Jika aku Tidak bisa bersama ayah nya, Biarlah dia bersama ku, Ku mohon..." Ya Tuhan...
Sakit sekali rasa nya hati Nathan melihat keadaan Irene yang seperti ini, Menangisi pria bajingan seperti Max.
Apa yang bisa di lakukan Irene saat ini ??
" Baik, Aku akan membiarkan nya hidup jika memang itu mau mu, Tapi bisa berjanji pads ku untuk tidak bertemu dengan nya dan menghubungi nya ??" Irene menganggukkan kepala nya.
" Aku janji..." Jawab nya dengan air mata yang kenali turun dari mata hitam milik nya.
Sungguh ini sangat menyakitkan bagi nya, Tapi mau bagaimana lagi ? Sudah seperti ini memang.
" Jadi dimana kau ingin tinggal ? Aku akan membawa mu kesana. " Irene masih berpikir.
Dimana dia akan tinggal, Dia pernah berpikir akan kembali kuliah melanjutkan S2 nya, Tapi dimana ?
" Aku ingin tinggal di Swiss saja, Biarkan aku hidup disana. " Nathan mengangguk.
" Baik, Jangan menangis lagi ku mohon, Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu, Itu saja. " Irene kembali mengangguk.
" Aku sangat menyayangi mu Irene, Kau adik kesayangan ku. " Nathan memeluk tubuh Irene yang masih menyisakan tangis di wajah nya.
Dia juga merasakan bahwa kemeja yang di kenakan nya saat ini pun basah karena air mata dari Irene.
" Sudah, Ayo makan, Keponakan ku pasti lapar. " Akhir nya Irene ikut dengan Nathan untuk turun ke bawah dan makam malam nya.
Sementara di Canada sana, Ada pria yang tengah marah marah saat ini.
__ADS_1
Bagaimana bisa dia muntah dan mual seperti ini tapi dokter mengatakan nya baik baik saja,.
" Kau ingin ku lenyap kan hah ??! Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku baik baik saja sementara kau melihat sendiri bagaimana aku muntah sialan !!" Maki nya lagi sambil mencengkram jas yang tengah di gunakan dokter tersebut.
Boy, Anak buah kepercayaan Max langsung menghentikan bos nya yang terlihat semakin emosi.
" Sudah Tuan, Biar saya antar kerumah sakit lain nya. Mungkin dia tidak berkompeten. "
Brugh...
Max mendorong dokter tadi hingga terjerembab ke lantai.
" Bawa dia pergi dari sini, Aku tidak ingin melihat wajah nya lagi. " Boy mengangguk dan membawa dokter tadi pergi.
Sementara Max ? Dia menjambak rambut nya karena merasa frustasi.
Bagaimana bisa Irene adalah Joanathania ? Thania yang di cari nya selama ini ? Kenapa bisa dia menyakiti gadis kecil itu hingga seperti itu ?
Tapi tunggu, Joanathania Rhys Broiler? Bukan kah nama itu ???
Ya, Max ingat itu adalah nama belakang keluarga Jonathan, Berarti Irene adik nya ??
Ya, Max harus cepat kesana , Dia harus mencari Irene dan meminta maaf pada nya.
" Irene...." Ucap nya lagi sambil menahan perut nya yang terus bergejolak.
Max benar benar Tidak tahan, Ini sangat menyiksa bagi nya, Benar benar sangat menyiksa bagi nya.
Akhir nya dia memilih pulang di antar Boy, dan saat dia membuka pintu kamar nya, Max hanya di sambut hembusan angin yang menerpa wajah nya, Apalagi saat ini aroma kamar nya masih menyisakan aroma Parfume Irene.
" Kau dimana ??" gumam nya sambil menuju ranjang dan mengusap bantal yang biasa di pakai Irene saat tidur.
" A-aku merindukan mu..." Max merebahkan tubuh besar nya di tempat bias Irene tidur, Bahkan dia menciumi bantal Irene juga.
Dan ajaib, Dia bisa tidur dan memejamkan mata nya dengan tenang saat menggunakan bantal milik Irene.
Dia benar benar tidur dengan nyenyak dan damai, Seakan ada yang membelai kepala nya seperti biasa dia tidur.
" Irene...." Gumam nya lagi dalam tidur nya.
...🤍❤️...
__ADS_1