
Hari ini benar-benar hari yang sangat membahagiakan bagi Irene di mana dia kembali bertemu dengan ayahnya yang sudah terlihat sehat dan lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
Apalagi kini mereka juga tinggal bersama Hanya Satu atap bersama lagi di rumah suaminya rumah ini akan menjadi tempat tinggal mereka semua.
Dimana ada Max, ayahnya dan Ada Maxim juga yang akan menemani hari-harinya.
Irene sangat bersyukur pada Tuhan karena telah memberinya kebahagiaan yang begitu luar biasa Seperti ini.
Bukan hanya bisa menikah dan bertemu dengan Max, Tapi dia juga bertemu kembali dengan kakaknya dan memiliki Maxim.
" Apa baby maksud dah tidur sayang ?" Tanya Max saat melihat istrinya baru kembali dari kamar putranya.
Beginilah Irene setiap malam nya. Dia akan memastikan putranya benar-benar tertidur baru dia akan kembali ke kamarnya, Kamar diri nya bersama suaminya.
" Sudah, Akku ganti baju dulu oke " Max pun menganggukkan kepalanya.
Dia membiarkan istrinya pergi untuk berganti pakaian dia juga mengetahui kebiasaan irian setiap malamnya yang memakai skin care untuk wajah cantiknya.
Kini istrinya sudah kembali dan setelah bergabung bersama di atas tempat tidur dengan segera pula mic membentangkan kedua tangannya dan Iran pun masuk ke dalam pelukannya pelukan hangat seorang Max Anderson.
Cup
Max mencium kening istrinya yang baru saja datang padanya.
Dia juga memeluk tubuh seksi itu. Tubuh yang selalu menghangatkan yang dulu. Tubuh yang selalu memuaskan hasratnya dan kini sudah berada di dalam pelukannya dalam status halal.
" Ada apa ?" Tanya Max yang mengerti seperti ada kegundahan yang dirasakan istrinya.
" Tidak ada, Aku hanya belum percaya jika aku memiliki kehidupan yang seperti ini. " Tutur Irene pada suami nya.
Max pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya.
" Kehidupan seperti apa yang kamu maksud sayang ??" Tanya Max pada Irene.
" Kehidupan seperti ini. Kehidupan bahagia yang kurasakan saat ini. Di mana ada kamu ada baby Maxim dan ada Ayah juga Kak Nathan dan Kak Christine. Aku bersyukur karena Tuhan telah mengembalikan hidupku, bahkan mungkin lebih indah dari hidupku yang dulu. Karena aku tidak tahu sama sekali bagaimana hidupku di saat dulu sebelum aku tahu bahwa aku sudah berada di tempat yang lain. " Max membelai wajah lembut istrinya dan memberikan kecupan di seluruh permukaan wajah Irene, Berharap Apa yang dilakukannya bisa meredakan kegundahan hati istrinya.
" Jika kamu merasa hidupmu Saat ini lebih bahagia, lebih baik lagi l, Aku mohon jangan ada kesedihan seperti ini lagi " Ucap Max pada Irene.
" Akku tidak sedih sayang, Aku benar-benar bahagia saat ini. Di mana di hidupku, Aku merasa menjadi wanita yang paling sempurna, wanita yang paling beruntung di dunia ini karena aku bisa memilikimu. "
" No ! Bukan kamu yang beruntung sayang,
__ADS_1
Tapi aku yang paling beruntung di sini. Aku adalah pria yang paling beruntung yang bisa mendapatkan wanita blasteran surga sepertimu. " Mendengar jawaban dari suaminya yang menyebutnya blasteran surga membuat Irene terheran-heran.
Apa maksud suaminya mengatakan yang blasteran surga ? Lagi pula dapat dari mana suaminya kata-kata seperti itu ?
Kata-kata blasteran surga yang sama sekali tidak pernah didengarnya.
" Boy yang mengatakannya padaku dia bilang aku bodoh karena telah menyia-nyiakan wanita berdasarkan surga sepertimu. dia juga mengatakan padaku bahwa aku tidak akan bisa mendapatkan wanita lain sepertimu karena wanita sepertimu hanya ada satu, yaitu dirimu dan tidak ada yang lainnya lagi." Jelas Max pada istrinya.
Dan jawaban dari Max membuat Irene bukan lagi terheran-heran tapi dia merasa aneh.
Bagaimana bisa suaminya itu terpengaruh dengan Boy yang mengatakannya wanita blasteran surga Bahkan dia sendiri juga tidak mengerti wanita blasteran surga itu seperti apa ?
" Sudah Jangan dipikirkan lagi yang terpenting saat ini aku mencintaimu dan itu sudah valid. !"
" Terima kasih karena telah mencintaiku sayang " Irene kembali memeluk tubuh kekar suaminya yang memberinya kehangatan seperti ini.
Harum, nyaman, hangat dan menenangkan, itulah arti kehadiran Max saat ini.
Tubuh kekarnya begitu sempurna di mata Irene, bahkan bongkahan-bongkahan otot yang dulu Irene tidak berani memegangnya karena dia takut dimaki dan di umpati kata-kata kasar oleh suaminya.
Dan kini saat statusnya sudah menjadi istri Max bolehkah dia mau memegang bongkahan otot itu bongkahan otot yang tercetak begitu sempurna di matanya seperti kotak-kotak coklat.
" Jangan nakal Honey !" Max mulai menggeram tertahan saat tangan istrinya dengan lembut memulai satu persatu bongkahan ototnya.
" Sekarang, lakukan sesukamu pada tubuhku, karena saat ini seluruh tubuhku adalah milikmu Honey. "
" Benarkah ?? Apa aku boleh ]emegang ini ??" Tanya Irene lagi sambil terus melakukan nya.
Dimana tangan mungilnya mulai bekerja sebagaimana mestinya, membelai rahang tegas suaminya, memegang jakun yang begitu menantang baginya, lalu turun turun dan turun lagi sampai ke perut suaminya yang berbentuk kotak-kotak mengagumkan itu.
" Sayang Irene, " Max mulai mengeram tertahan saat kembali merasakan jari-jari mungil itu mulai berselancar Di atas kulit tubuhnya.
" Apa begini cara menggoda mu sayang ??" Tanya Irene yang kini sudah mengubah posisi duduk depan nya, berhadapan dengan suaminya.
Keduanya saling duduk berhadapan di mana Irene dengan manjanya mengalungkan kedua tangan yang di leher kekar suaminya.
" Jangan memancingku jika tidak ingin berakhir tragis besok pagi sayang " Ancaman terdengar begitu ambigu bagi Irene tapi rasanya cukup menantang karena sudah lama mereka tidak menyatu bukan ?
Apalagi kemarin saat penyatuan itu heran dan sama sekali tidak menyampaikan kepuasan mereka karena membuang nya di luar.
" Sayang Jangan bergerak, Aku tidak tahan ." Max semakin menggeram saat merasakan bokong Irene Yang bergerak-gerak di atas belalai gajah Canada nya.
__ADS_1
" Apa begini ?" Tanya Irene yang Semakin menjadi menggerak-gerakan bokongnya.
Bahkan dadanya juga kini menempel sempurna di dada bidang nan kekar suaminya.
" Irene, Aahahhhh... jangan seperti itu sayang. " Max mulai mendesah saat merasakan bibir Irene yang menelusuri rahang tegasnya hingga ke leher.
Bukan hanya itu saja tapi Tangan Mungil itu kembali menggodanya dengan meraba bongkahan otot yang terpatri jelas di perutnya.
" Sayang honey Jangan lakukan itu. " Max merasa sangat dipermainkan Saat ini.
Apalagi gesekan yang dilakukan Irene di bokongnya membuatnya semakin panas.
" Aahhh...sayang " Pekik Irene kaget saat tubuhnya dihempaskan oleh suaminya ke tempat tidur mereka.
" Sudah kukatakan jangan nakal bukan ? maka terimalah hukuman mu ini Honey. " Max langsung membungkam bibir Irene dan **********.
Bahkan lidah mereka juga sudah berselancar saling membelit dan menelusuri rongga mulut mereka satu persatu.
Bukan hanya itu saja tapi tangan mereka sudah mulai bekerja dia meremas dada iren dengan penuh kelembutan dia ingin menikmati dada itu lagi tapi tidak bisa karena saat ini pemiliknya adalah Maxim bukan dirinya.
Permainan tangan Max semakin panas dan menggairahkan apalagi saat dia membuka dan mencampakkan pakaian Irene begitu saja ke lantai.
Dan kini tinggallah Irene yang hanya mengenakan segitiga hitam miliknya.
" Max...Jangan sayang..." Irene mulai mendesah saat merasakan jari-jari Max yang merambah permukaan bolu kukus miliknya.
Srek !
Max pun langsung menarik kain segitiga hitam itu begitu saja hingga terpampang nyata sudah bolu kukus milik istrinya itu.
" Sayang Malu..." Ucap Irene saat melihat bahwa tubuh nya sudah benar-benar full naked .
Apalagi Max yang terus menatapnya tanpa mengedipkan Mata sedikit pun.
" You are so sexy honey " Max berbisik di telinga Irene.
Dia kembali melancarkan aksinya hingga bibirnya mulai beraksi di permukaan bolu kukusnya yang membuat Irene semakin menggelinjang tak tertahan.
" Aahhhh... Sayang sudah, aku ingin tumpah. " Irene mulai menggila dan meminta Max untuk menghentikan nya.
Tapi Max tidak menghentikannya karena dia memang menginginkan pertumpahan itu dia menginginkan Irene tumpah dan dia ingin merasakan tumpahan itu.
__ADS_1
Sampai di mana di ambang batas ketahanannya akhirnya pun tumpah karena permainan lidah dan bibir suaminya.
...🤍🤍🤍...