
Genggaman tangan Max yang terus saja menguat di tangan mungil irene.
Bahkan dari dalam ambulance hingga turun bahkan sampai kini di ruangan pertolongan pertama nya pun genggaman tangan yang di lakukan Max pada Irene tidak terlepas sedikit pun.
Seakan, jika Max melepaskan nya Irene akan kembali meninggalkan nya dan membuat kehancuran bagi hidup nya.
Tidak, Max tidak ingin itu terjadi lagi, Cukup sudah dia berantakan selama ini karena kepergian wanita itu dari sisi nya, Sekarang tidak lagi.
Tim medis pun memaklumi sepasang suami istri ini, Yang terlihat sangat kuat cinta di antara mereka.
" Irene..." Kembali nama nya yang di sebut Max.
Walau pria tangguh itu belum sepenuh nya sadar, Tapi Irene tau, bahwa Max mungkin ingin meminta maaf pada nya karena telah banyak melukai hati nya.
" Ya..."
" Irene..." Max terus saja memanggil nama nya hingga dokter memindahkan nya ke ruang perawatan pun dia masih kerap kali memanggil nama wanita itu.
Wanita yang memang pernah begitu banyak di lukai nya, Bukan fisik nya, Tapi hati nya, Hati nya yang begitu tulus memberikan cinta, Malah di balas dengan sangat kejam oleh nya.
Kata kata kasar, Dan kebencian yang mendalam, Bukan kebencian, Tapi pria itu memang tidak tau apa yang di rasakan nya.
" Kenapa hidup mu seperti ini ? Apa masa lalu mu begitu buruk ??" Di usap Irene dengan lembut kening Max yang di balut perban.
" Hingga kau membekukan seluruh hati mu, Bahkan terhadap ku juga yang begitu tulus mencintai mu, Aku tidak membutuhkan balasan atas cinta yang sama seperti yang ku berikan pada mu, Cukup bersikap baik pada ku dan melihat ku dengan baik saja itu sudah cukup bagi ku. " Sesak sekali dada Irene saat mengatakan hal seperti ini.
Memang dia tidak menginginkan hal lebih dari Max, Cukup bersikap baik pada nya saja itu sudah sangat membahagiakan bagi nya.
Merasa genggaman tangan Max sedikit mengendur, Irene memanfaatkan nya dengan baik untuk memeras ASI nya dan mengirimkan nya kerumah, Karena dimana pun dan kapan pun, Irene akan membawa pompa asi nya untuk putra kesayangan nya itu, Maxim Storge Anderson.
Anak hebat nya, Anak tampan nya yang baik hati.
Setelah beberapa saat kepergian Irene, Tak lama Max membuka kedua mata nya yang terasa buram dan kepala nya berdenyut hebat.
Dia melihat ke sekeliling nya, ini dirumah sakit, Dia sendirian, tidak ada siapa pun disini yang menamai nya.
Saat kesadaran nya penuh, Dia kembali mengingat saat saat terakhir di ujung kesadaran nya tadi, bahwa dia seperti melihat Irene dan mendengar suara nya.
Tapi dimana saat ini sudah wanita itu ? Karena dia meyakini hati dan diri nya bahwa dia tadi melihat Irene dan mendengar suara nya Dnegan sangat jelas, Dia juga merasakan menggenggam tangan wanita itu.
__ADS_1
Dia yakin itu.
" Irene, " Max mulai panik saat tidak melihat siapa pun di ruangan nya.
" Irene.." Untuk kedua kali nya Max memanggil nama wanita itu namun tidak ada sahutan apa pun hingga dia melihat bayangan seorang wanita yang melewati depan ruangan nya.
Dia tidak ingin di tinggal lagi, Tidak ingin.
Bugh...
" Irene...." Sekuat tenaga Max berusaha untuk memanggil nama wanita nya hingga jatuh dari tempat tidur.
Sementara Irene yang hendak ke pusat administrasi untuk mengisi data data untuk Max pun seperti mendengar suara yang memanggil mau, Apa itu Max ??
Irene kembali berbalik ke ruangan Max dengan segera, Berharap memang pria itu yang memanggil nya.
Deg !
' Max !!" Panggil Irene saat melihat Max yang tersungkur di lantai dengan keadaan yang cukup memprihatinkan bagi nya.
Pria itu masih memegangi kaki nya yang di tatap nya dengan tatapan kosong, Entah apa yang terjadi Irene tidak tau lagi.
Dia ingin memeluk wanita nya, Tapi dia Tidka bisa, Bahkan kedua kaki nya terasa kebas, tidak bisa di gerakan sama sekali.
Terasa sangat berat, Dan susah di gerakan.
Bukan susah, Tapi tidak bisa di gerakan sedikit pun.
" Max, Kamu kenapa ?? Kenapa sampai jatuh begini ??" Sekuat tenaga Irene berusaha membantu Max berdiri namun dia tidak bisa melakukan nya.
Karena tubuh Max yang besar, Tinggi 186 cm membuat Irene memang sulit membantu nya.
Apalagi dalam keadaan seperti ini.
" Max, Kamu kenapa ??" Tanya Irene sekali lagi saat melihat mata pria yang di cintai nya ini menatap dengan sendu dan penuh penyesalan, dan Irene tau itu.
" Max..."
" Kaki ku tidka bisa bergerak, " Tubuh Irene menegang kaku saat mendengar kata kata yang keluar dari bibir Max.
__ADS_1
Irene tidak tau apa maksud nya tidak bisa bergerak, Apa sakit atau bagaimana ?
" Maksud nya apa ?? Ka-kamu kenapa ??" Irene juga mulai panik, Tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis karena memikirkan keadaan pria ini.
" Max, "
" Kaki ku tidka bisa bergerak, Apa aku lumpuh ??"
Deg !
Ini yang di takutkan Irene, Sejak tadi dia tidak ingin memikirkan hal ini, Tapi Max mengatakan nya sendiri.
" Apa kaki ku lumpuh ? Apa aku pria cacat saat ini ??"
" Max--, Kamu tidak cacat, Kamu --?"
" Hahahaha....." Suara tawa nya menggelegar memenuhi ruangan luas bernuansa putih dimana tempat dia di rawat saat ini.
" Max, Tangan kamu berdarah. " Irene semakin panik saat melihat punggung tangan Max yang berdarah dan terluka karena jarum infus nya.
" Luka ??" Max menatap punggung tangan nya yang memang luka dan berdarah saat ini.
Tapi dia tidak bereaksi apapun .
" Luka ini tidak seberapa dengan luka yang pernah ku rasa kan, Luka kehilangan mu, Luka karena mencari mu dan luka yang telah ku buat di hati mu, Itu jauh lebih sakit dari ini, Tapi saat ini, Bukan hanya tangan ku saja yang luka, Tapi kaki ku juga, Apa aku lumpuh, ??"
" Max, Kamu tidak lumpuh, Percaya pada ku, kamu tidak lumpuh. " Irene tetap berusaha kuat dan tegar demi Max, Demi pria yang masih bertahta di hati nya ini.
" Inikah balasan atas semua yang pernah ku lakukan pada mu ? menyakiti hati mu yang begitu tulus pada ku ?? Ini kah balasan nya ? aku lumpuh ??"
" Max, Jangan seperti ini...aku mohon..." Dia tersenyum getir penuh keputusasaan saat mengatakan hal ini.
Hal yang membuat hati nya sakit saat mengingat bagaimana perlakuan nya terhadap Irene dan membuat nya hidup seperti seorang Jallang.
" Jika iya aku menerima nya, Tapi kenapa tuhan tidak mencabut nyawa ku saja setelah aku mendengar kau memaafkan ku, Kenapa Tuhan memberikan ku hidup seperti ini jika aku lumpuh, Aku tidak bisa melindungi mu, Jangan kan melindungi mu, Melindungi diri ku sendiri saja aku tidak mampu.
" Max, Sudah cukup !!!"
" Apa yang cukup ?? bahkan mungkin seumur hidup ku saja pun aku tidak akan bisa dan pantas mendapatkan wanita seperti diri mu !!" Air mata nya menetes dengan semua ini, semua kesakitan yang di lihat nya dari Max.
__ADS_1
...🤍🤍 ...