
Pyar !
Irene kaget saat gelas yang tengah di pegang nya tiba tiba saja jatuh terlepas dari tangan nya.
Bukan hanya dia saja yang terkejut Tapi para pelayan juga terkejut dan kaget.
Mereka panik dan langsung membersihkan serpihan kaca yang berserak di lantai, Irene juga terus meminta maaf pada para pelayan karena telah menyusahkan mereka lagi dengan hal seperti ini.
Sebenar nya juga tidak masalah bagi mereka, karena ini tidak sengaja, Jika pun sengaja di lakukan nya, itu juga tidak Maslaah bagi mereka karena memang Irene lah Nyonya dirumah ini.
Tapi kembali lagi pada sikap lemah lembut nya, Mana dia tega menyakiti hati orang lain walau itu hanya seorang pelayan.
" Sekali lagi tolong maafkan aku. "
" Tidak apa Nyonya, Kami baik baik saja. " Jawab pelayan yang bertugas membereskan pecahan kaca tadi.
Sementara Irene, Dia kembali ke kamar anak nya setelah selesai sarapan karena dia akan pergi bekerja hari ini.
Walau ya, Sejak tadi malam dada nya terasa sesak dan seperti ada batu besar yang menghimpit nya, Entah apa yang terjadi, Tapi pikiran nya terus tertuju pada satu pria bernama Max Anderson.
Pria yang telah menjadi ayah dari anak nya, Saat melihat ke arah anak nya yang tengah tertidur dengan sangat pulas nya, Irene semakin merasakan sesak di dada nya.
" Maafkan Mommy nak, Tapi sekali saja, Jika Daddy mu meminta maaf pada Mommy dan kamu, Juga Daddy Nath, Mommy akan dengan senang hati memaafkan nya, Tapi sikap nya, Dia tidak berubah sedikit pun, Tidak ada kata yang terucap dari bibir nya. "
Tes...
Air mata nya jatuh membasahi pipi dan ke jatuh ke tangan Baby Maxim, Bayi itu pun ikut menangis saat melihat dan merasakan kepedihan hati Mommy nya.
" Ssstt...Jangan nangis sayang, Maafin Mommy..." Irene mencoba menangkan putra nya, Dia bahkan juga memberikan ASI pada Baby Max berharap anak nya akan berhenti menangis, Cukup lama Irene menenangkan Baby Max hingga benar benar tenang dan tertidur kembali.
Setelah Baby Max tenang, Irene pun memutuskan untuk pergi ke kantor nya.
Dia bersiap dan langsung menuju ke kantor nya, Namun sepanjang jalan menuju kantor nya, Dada Irene semakin sesak seperti terhimpit bebatuan besar .
" Ada apa pak ??" Tanya Irene saat melihat mobil mereka tidak lagi bergerak sudah 5 menit lama nya.
" Maaf Nona, Seperti nya di depan ada kecelakaan. "
__ADS_1
" Kecelakaan ??" Ulang Irene lagi.
Kecelakaan ?? Kenapa hati nya semakin sesak saat mendengar kecelakaan ?? ketakutan nya semakin mendominasi disini, Apalagi teringat saat kecelakaan nya dulu, Saat berumur 7 tahun.
Pikiran buruk dan bayangan bayangan gelap mulai menyelimuti nya, Kepala nya semakin pusing dan berkurang kunang, Tapi dia mencoba kuat untuk tidak takut lagi pada tragedi itu hingga dia bisa mencoba menenangkan diri nya serta ketakutan nya sendiri.
Saat mobil nya semakin dekat dengan tempat kejadian, Entah apa yang membuat nya ingin turun namun di cegah oleh supir nya.
" Tidak apa pak, Saya hanya ingin melihat nya saja, Mungkin saya mengenal nya. " Irene turun dari mobil dan melangkahkan tungkai indah nya menuju kerumunan, Namun saat melihat mobil merah yang sedang di evakuasi karena terbalik membuat dada nya semakin berdetak tak karuan.
Gemuruh di dada nya semakin menjadi kala melihat polisi lalu lintas yang sedang mencoba membuka pintu mobil dan mengeluarkan korban nya.
Deg !
Dunia Irene seakan berhenti berputar saat melihat polisi mengeluarkan korban kecelakaan di depan mata nya ini.
Pria bule dengan wajah yang berlumuran darah, dan penuh luka.
Tidak ! Irene tidak ingin melihat nya, itu bukan-- Bukan Max ayah dari putra nya, Bukan.
Irene masih terdiam sampai seorang polisi mengatakan identitas korban dari dompet nya.
" MAX !!!!" Teriak Irene saat mendengarkan nama pria yang sangat di cintai nya itu.
Mendengar seseorang yang berteriak soal nama korban membuat polisi langsung melihat ke arah nya, Bukan hanya polisi tapi juga semua orang disana.
" Max,...Kenapa---?" Seakan mendengar suara Irene, Max di sisa sisa kesadaran nya pun berusaha sangat keras untuk bisa membuka mata nya walau sangat berat rasa nya.
Penglihatan nya buram, dan wajah nya berlumuran darah, Walau dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang memanggil nama nya dengan kencang, Tapi dia tau bahwa itu adalah suara Irene.
Itu suara Irene nya, Itu benar benar Irene.
" Irene--" Suara Max terdengar sangat lirih, Dia berusaha kuat namun memang bukit dan berat.
" Irene..."
" Ya, Ini aku--ini aku, Kenapa bisa bisa begini ??"
__ADS_1
" Irene..."
" Iya, Ini aku, Ini aku---"
" Irene...ma-af "
" MAX !!!" Irene kembali berteriak saat melihat tangan Max yang terjatuh saat tidak bisa menggapai wajah nya.
Max tak sadar kan diri dengan berlumuran darah di wajah nya.
Irene semakin menjerit histeris saat melihat Max tak sadar kan diri dan langsung di bawa ke dalam ambulance.
Irene pun langsung berlari dengan Heels nya untuk ikut masuk bersama Max ke dalam ambulance menemani nya.
" Max, Buka mata mu, Ayo buka mata mu, Aku disini...ayo buka mata mu..." Air mata nya terus saja mengalir.
Tim medis pun berusaha membersihkan darah yang menyelimuti wajah Max bahkan kepala nya ada yang bocor, Maka mereka mencoba menghentikan darah nya yang terus saja keluar.
" Aku mohon buka mata mu, Maafkan aku juga, Ayo buka mata mu, Aku janji, Aku janji akan memaafkan mu tapi tolong buka mata mu, Buka mata mu untuk ku, Untuk anak kit, Untuk Maxim, Aku mohon buka mata mu..." Genggaman di tangan Irene semakin menguat.
Max menggenggam tangan Irene dengan kuat seakan tidak ingin terlepas lagi.
" Aku mohon buka mata mu, Bertahan lah...Maxim menunggu mu, Maxim sangat mirip dengan mu, Anak kita menunggu mu, Aku mohon bertahan lah..." Irene terus saja menangis, Begitu juga dengan Max.
Dia menangis dalam tidak kesadaran nya.
Air mata nya juga mengalir dari sudut mata nya, Dia juga menangisi kebodohan nya dan semua kesalahan nya yang telah begitu banyak melukai hati Irene, Hati wanita yang tanpa sadar telah masuk ke hati nya dan mengacaukan seluruh hidup nya setelah kepergian nya.
" Nona, Suami anda menangis .." Ucap salah satu perawat yang bertugas membersihkan wajah Max yang berlumuran darah tadi.
Irene langsung melihat ke arah wajah pria yang di cintai nya itu, Pria yang di katakan suami oleh perawat yang tengah bersama nya.
Dan memang benar ! Max menangis, Air mata nya keluar dari sudut mata pria kejam yang telah menorehkan begitu banyak luka di hati nya, Namun sayang nya Irene sangat mencintai nya pula.
"Bertahan lah, Setidak nya jika bukan aku, Bertahan lah demi Maxim, Dia menunggu mu, Dia menunggu Daddy nya. " Irene tidak melihat respon apapun dari Max selain genggaman tangan mereka yang sangat kuat, Seakan Max tidak ingin Irene meninggalkan nya lagi dan lagi.
Dia berharap agar Irene bisa terus mengamati nya, Memaafkan nya dan ingin hidup bersama nya.
__ADS_1
...🤍🤍...