Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Kecurigaan Ketiga


__ADS_3

"Selamat pagi," ucap Vida ketika aku membuka mata. Dengan menimang nampan bermotif pisang di tangannya, ia tersenyum merekah layaknya bunga mawar peliharaan yang baru saja mendapatkan siraman air kehidupan dari tuannya.


"Pagi, Sayang!" responku dengan suara parau namun tetap terdengar bariton. Ia meletakkan nampan yang aku yakini berisi sarapan itu di atas meja, lalu merangkak mendekatiku yang masih bergulung di dalam selimut. "AC-nya terlalu dingin, bisa minta tolong naikin temperaturnya?" pintaku padanya, karena memang aku tak terlalu menyukai kedinginan. Berbeda dengan Vida, yang senantiasa kebal akan terpaan udara dengan temperatur di bawah dua puluh derajat celcius.


Tanpa mengindahkan permintaanku, ia langsung menerobos masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuhku dengan ketat. "Gak perlu ubah temperatur AC, Sayang. 'Kan udah ada aku." Ia tampak tersenyum lembut. Aku bisa dengan jelas merasakan ekspresi istriku, karena wajahnya tertempel lekat pada dada bidangku.


"Kamu itu ...!" Kutundukkan pandangan, lalu mencubit mesra ujung hidungnya yang bangir. Ia hanya tersenyum manja dan kembali mengkusukkan wajahnya, mengendus telak aroma tubuhku yang sudah lama dirindukannya.


Ya, beginilah suasana pagiku, jika Vida sedang berada di rumah. Berbeda dengan jika kami sedang berjauhan dan hanya bantal guling yang bisa menjadi pelampiasan pelukanku.


Ketika kami berdua masih bergelung di dalam selimut yang sama, mentransfer kehangatan pada tubuh masing-masing, tiba-tiba ponsel Vida berdering--menandakan adanya sebuah panggilan masuk. Ia menarik tubuhnya dariku, meraih benda pipih yang terletak tak jauh darinya, lalu melihat layar ponsel itu sekilas. Ekspresi wajahnya berubah kikuk, kemudian pamit keluar untuk menerima panggilan tersebut.


Aku sedikit mengernyit keheranan, kenapa ia harus berbicara di telepon dengan menjauhiku? Apakah pembicaraannya serahasia itu? Apakah aku tidak berhak untuk tahu?

__ADS_1


Seperti halnya aku yang tidak pernah menerima panggilan dengan menjauhinya. Bagiku, tidak ada lagi yang harus disembunyikan antara kami berdua. Apa pun yang ada padaku adalah haknya, termasuk urusan pekerjaan dan teman-temanku.


Ah, kenapa aku harus berpikiran seperti itu? Seposesif itukah sebenarnya hatiku? Tetapi ... mengapa sangat sulit untuk mengungkapkannya langsung? Aku memang payah!


...🍂🍂🍂...


Aku turun lantai setelah membersihkan diri dan mencoba menemukan keberadaan Vida. Namun tak kutemukan gelagat apa pun darinya di setiap ruangan.


Mungkin dia sedang keluar sebentar, batinku mencoba berpikiran positif. Aku lantas meraih surat kabar yang tergeletak di atas meja sofa ruang tamu dan membaca berita terbaru. "Kasus pembunuhan akibat perselingkuhan?" gumamku dengan nada seakan tidak terima.


Ketika pandanganku masih serius pada tragedi berdarah di depan mata, tiba-tiba Vida masuk dari pintu depan, menenteng kresek hitam yang tidak aku ketahui isinya. Ia tampak terperanjat ketika melihatku sudah dalam keadaan bugar dan duduk santai di atas sofa.


"Eh, kamu udah tampan aja, Sayang." Ia meluncurkan kalimat romantisnya, yang biasa dia ucapkan setiap bersamaku. Bisa kuakui, Vida sangat pintar mencuri hati. Hanya dengan kata-kata simple namun bermakna dalam, dia selalu sukses membuatku semakin disayang dan diperhatikan.

__ADS_1


"Kamu darimana? Kok gak bilang kalo mau keluar? Apakah ada masalah?" tanyaku beruntun, ketika tubuhnya sudah berada di sampingku. Kresek hitam yang ditentengnya tadi, diselipkannya di bawah meja kaca di hadapan kami.


"Ketemu temen sebentar tadi, di depan situ." Dia mengelus lenganku yang berotot, lalu menyandarkan pipinya pada pundakku. Seperti adegan-adegan manis nan manja, yang sering ditampilkan dalam serial drama romantis populer. "Sarapannya udah dihabisin?" tanyanya, yang mencoba memutar topik pembicaraan.


"Sudah, tadi abis mandi." Kuelus pucuk kepalanya setelah meletakkan surat kabar itu kembali di atas meja. "Miris banget." Tiba-tiba saja sepasang bibirku mengatakan dua kata yang sukses membuatnya menegakkan kepala.


"Maksudnya?" tanyanya dengan wajah bingung.


"Aku baru aja baca berita terkini tentang kasus pembunuhan terhadap pasangan." Kusandarkan punggungku dengan nyaman pada muka sofa. "Dan kamu tahu apa masalahnya? Hanya karena pasangannya selingkuh."


Mendengar penuturanku, wajah Vida tiba-tiba saja berubah ekspresi. Mimik manja dan senyuman manisnya digantikan oleh tampang tegang dan kaku. "Kamu kenapa, Sayang?" tanyaku yang memang sudah menyadari ekspresi anehnya.


Ia tampak salah tingkah, lalu pamit menuju dapur dengan membawa kresek yang tadi sempat ia selipkan di bawah meja, tanpa menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


Dia kenapa?


__ADS_2