
Beberapa saat kemudian, bisa kutangkap raut berbeda dari wajah Vida. Istriku itu kembali menggeliat kesakitan karena mungkin kontraksinya kembali menyerang.
"Suster, saya mau ke kamar kecil," ujar Vida kepada salah satu asisten dokter yang berjaga di ruangan.
"Ibu mau ngapain?" tanya si suster dengan mode penasaran tingkat tinggi.
"Pe-perut saya tiba-tiba mu-les, Sus." Vida masih berusaha menjawab walaupun dengan suara terbata.
Tanpa aba-aba aku langsung memapah tubuh istriku menuju kamar kecil yang ditunjukkan oleh si suster. "Kamu bisa sendiri?" tanyaku seolah sedang menawarkan bantuan.
Mungkin karena rasa sungkan, dia mengangguk dan memintaku untuk keluar. Kuturuti permintaannya, lalu menutup kembali pintu bilik termenung itu. Beberapa menit berlalu, Vida tak juga keluar dari ruangan tersebut, pun tak ada suara siraman air dan sebagainya. Kugedor pintu itu, untuk memastikan keadaannya.
"Sayang, belum selesai, ya?" tanyaku
"Gak bisa keluar, Sayang." Dia mengonfirmasi dengan suara tertahan.
Suster yang mungkin sudah mendengar suara Vida, lantas mendekatiku yang masih setia berdiri di depan pintu. "Bu, kalau tidak ada yang keluar, sebaiknya ibu kembali ke brangkar aja, ya. Kasian bayinya, takut lahir di dalam." Instruksi dari suster lantas diindahkan oleh Vida.
Wajahnya tampak meringis lagi seperti sebelumnya. Aku yakin, rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya saat ini lebih hebat. Terbukti dari mimik wajah yang semakin menyayat hati kala dipandang.
__ADS_1
Aku kembali membawanya menuju brankar. Melakukan terapi sentuhan yang kuharap bisa mengurangi penderitaannya. Ternyata, setelah keluarnya air ketuban tadi, masih ada sesi pedih yang mesti ia lewati. Membuatku salah menerka. Yang tadinya berpikir bahwa, ia tidak mungkin mengalami kontraksi ulang.
"Suster, apa bayinya akan baik-baik saja, jika air ketubannya sudah pecah?" tanyaku di sela-sela suara rintihan Vida. Karena kekhawatiranku semakin naik level, membuatku berpikir sedikit berlebihan.
Suster itu tersenyum ramah, sebelum menjawab, "Yang pecah itu, hanya ketuban pada kantong pertama, Pak. Masih ada satu kantong ketuban lagi. Tenang, bayinya pasti akan baik-baik saja."
Entah, memang seperti itu kenyataannya, atau hanya sedang berusaha memberikan suntikan penenang kepadaku, suster itu berkata dengan wajah tenang.
"Sayang, sakiiiiit ...!"
Erangan Vida terdengar semakin memilukan, dan membuatku benar-benar tidak tahan mendengarnya. "Tulang-tulangku terasa patah, dan urat-urat di tubuhku terasa putus, Sayang. Aku bisa mati kalau seperti ini," lirihnya seraya terus menggenggam tanganku erat. Pandangannya sudah tak fokus lagi. Posisi tubuhnya hanya bisa mengarah ke samping--menghadapku.
Entah, mendapatkan ilham dari mana, lidahku yang biasanya selalu kelu, kini bisa berbicara dengan lancar. Vida tampak mengangguk, walaupun rasa nyeri terus menghujami tubuhnya.
...💔...
"Suster, seperti ada yang ngasi dorongan dari dalam," ucap Vida beberapa menit kemudian. Kami sudah berada di dalam ruangan persalinan sekarang. Suster itu langsung beranjak memanggil dokter yang tadinya masih menunggu di dalam ruangannya.
Sesuai kesepakatan, Vida ingin melahirkan secara normal. Beruntungnya adalah tidak ada masalah sedikit pun dengan kandungannya. Semoga saja, proses ini bisa berjalan sesuai harapan.
__ADS_1
Dokter dan pasukannya datang menghampiri, meminta Vida untuk memposisikan kaki seperti semestinya. Aku bergerak menepi, tepat di sebelah kanan kepala sang pujaan hati. Mengelus kepalanya sesekali, sembari mengamati tindakan dari dokter dan asistennya, yang dilakukan untuk Vida saat ini.
"Tarik napas ya, Bu. Lalu hembuskan kembali." Dokter itu tampak menyuntikkan sesuatu pada paha kanan Vida. "Kemudian cobalah untuk mengedan," perintah sang dokter dengan senyuman yang sedikit ditahan. Bisa kulihat ada sedikit raut ketegangan juga di sana.
Vida pun mengangguk, lalu melakukannya untuk yang pertama kali. "Aaaa ...!" Pekikannya seolah menjadi backsound pada usaha pertamanya.
"Ibu, giginya dirapatkan, ya. Jangan sampai mengeluarkan suara. Karena kalau ibu mengedan sambil bersuara, dorongannya tidak kuat."
Si dokter masih saja bersikap tenang. Sementara aku, hanya bisa diam seraya membuang pandangan ke sembarang arah, saking tidak teganya melihat ekspresi wajah Vida yang berlumur penderitaan.
Namun, di luar dugaan, istriku itu mulai melakukan usaha keduanya. Mengikuti instruksi dari sang dokter dan mencoba mengedan lagi. Saking penasarannya, kukembalikan lagi pandanganku ke arah sana. Melihat sebuah kepala kecil yang mulai menyembul dari tubuh ibunya, membuatku bergidik ngeri. Hatiku ikut teriris bahkan menangis. Bisa kubayangkan seperti apa sakitnya Vida saat ini.
"Bagus, Bu. Lagi, coba lakukan lagi!" titah si dokter yang mulai membalik kepala kecil itu ke atas. Vida kembali berjuang, hingga setelah tiga kali dorongan, tubuh bayi mungil itu keluar sempurna, dan terdengar menangis dengan gemasnya. Akhirnya, aku bisa bernapas lega, tanpa harus menahan sesak di dalam dada.
Vida tersenyum ke arahku, tanpa meneteskan air mata sedikit pun. Sedangkan aku, mulai mengeringkan keningnya yang sudah bermandikan keringat.
"Cewek?" tanyanya.
"Jagoan," jawabku seraya tersenyum.
__ADS_1
Selamat datang, Ibra Junior!