Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Luar Kota


__ADS_3

Keempat roda mobil sudah menginjaki pelataran kediaman kedua mertuaku. Aku keluar untuk mengantar Vida masuk sekaligus pamit kepada dua orang tetua. Namun, yang terlihat aneh adalah, istriku yang cantiknya tak tertandingi itu masih saja bergeming di kursinya.


"Ada apa?" tanyaku setelah membuka pintu di sampingnya dan membungkukkan sedikit tubuhku agar bisa menjangkau wajahnya.


Tanpa menjawab pertanyaanku, ia sontak mendongak, dan menatap wajahku sendu. Kemudian, perlahan mendekat dan mencium bibirku dengan lembut. Aku yang merasa mendapat serangan mendadak, tentu saja agak kikuk dalam menyambut tingkahnya. Namun, aku masih berusaha untuk bisa mengimbanginya.


Ciuman Vida semakin lama terasa semakin bringas, seolah ada sesuatu yang hendak dilepaskan dari dirinya. Namun, tidak mungkin aku menuruti kemauannya dalam kondisi seperti ini. Apalagi, kami sedang berada di halaman rumah kedua orang tuanya.


Setelah beberapa saat, kutarik wajahku darinya dan mencium pucuk kepalanya. "Nanti papa sama mama liat, aku gak enak." Dia langsung menampakkan mimik cemberut setelah mendengar penuturanku. Aku tahu, dia kecewa, namun apa boleh dikata.


Seusai mengajaknya keluar dari mobil, aku melihat kedua orang tua itu pun sudah berdiri di depan pintu. Sejak kapan mereka berada di sana? Batinku mulai tidak enak hati.


Vida langsung mendahuluiku dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Disusul olehku di belakangnya.


"Ma, Pa, saya titip Vida, ya. Soalnya saya khawatir kalau meninggalkan dia sendirian di rumah," ucapku yang masih berdiri tegap di teras rumah.


"Iya, Ibra. Kamu tenang saja, Vida pasti baik-baik saja di sini. Semoga konsermu lancar, ya, Nak." Mama menepuk sebelah pundakku. Sementara papa hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

__ADS_1


Seusai berpamitan kepada mereka, aku langsung tancap gas menuju bandara, karena semua teman-temanku sudah menunggu di sana.


...💔...


"Ibra ...!" pekik seorang wanita yang suaranya begitu familiar di indera pendengaran. Bukan hanya aku, semua teman-temanku, termasuk kak Catur juga teralihkan pandangannya pada wanita itu.


Dalam balutan busana muslimah yang cukup modis namun tetap longgar, Ranti mendekat ke arah kami yang baru saja tiba di kota tujuan. Para wartawan dan awak media lainnya tampak berkerumun di depan pintu kedatangan--siap untuk menjepret dan mewawancarai.


"Tak kusangka kita bisa bertemu di sini," ucapnya seraya menenteng satu koper kecil di tangan. Bisa kuyakini bahwa dia juga baru saja mendarat.


"Kamu kerja di kota ini?" tanyaku yang sedari tadi menyimpan pertanyaan itu di benakku. Dia mengangguk lembut dan tersenyum manis.


"Aku Ranti, Kak. Teman sekelasnya Ibra sewaktu di SMA," terangnya yang sudah bisa membaca kemana arah pikiran kak Catur. Kakak iparku itu lantas manggut-manggut, mungkin sudah bisa mengingat dimana ia pernah melihat wanita itu.


"Di luar sudah banyak yang mengantri, apa kalian sedang ingin dikerumuni atau sebaliknya?" tanya Ranti, seolah ingin memberikan jalan keluar agar kami tak harus menghabiskan waktu dengan awak media.


Aku dan teman-temanku saling bertukar pandang, lalu serentak mengangguk. Seolah bahasa isyarat itu meminta Ranti untuk membantu kami agar terlepas dari kerumunan para pengincar berita.

__ADS_1


"Ikut aku!"


Dia lantas memimpin kami menuju jalan pintas keluar dari bandara itu. Lebih tepatnya melewati pintu keluar darurat yang terletak di pojokan kiri ruangan tersebut. Tentu saja, setelah melewati proses pengecekan atas barang bawaan kami.


"Makasih, ya, Ran. Kalau ada waktu, datanglah ke konser tunggal kami, besok malam." Aku mencoba berbasa-basi. Namun, tak terlalu berharap bahwa ia akan datang.


"Aku sudah membeli tiketnya jauh-jauh hari, Ibra." Seraya mengipaskan secarik kertas di samping pipinya, ia menjawab dengan senyuman lebar.


Aku hanya bisa tersenyum sembari menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali. "Baiklah, kami duluan. Kamu udah ada yang jemput, 'kan?"


"Mobilku terparkir di sini, kok." Menenteng sebuah kunci dan mengangkatnya sehingga sejajar dengan wajah. "Ya, udah, hati-hati. Sampai jumpa besok malam. Sukses ya, untuk konser kalian," tuturnya, setelah itu berlalu.


"Mantan pacarmu, Ib?"


"Ah, palingan gebetan yang tak sampai dipacari."


"Kalo dilihat dari gelagatnya sih, si dia cidaha tu ama si Ibra."

__ADS_1


Berbagai celetukan dilontarkan oleh teman-temanku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum renyah. Saling bertukar pandang dengan kak Catur, yang juga tak kalah terheran-herannya dengan kelakuan mereka.


__ADS_2