Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Hanya Mimpi


__ADS_3

Sesampainya di pertigaan, kuparkirkan mobilku agak tersembunyi, agar Vida tidak mengetahuinya. Semoga saja taktikku yang satu ini bisa berhasil.


Tertipu, Vida sudah tertipu. Sebenarnya aku tidak pergi kemana-mana. Aku sengaja merekayasa cerita agar dia mengira bahwa aku benar-benar pergi ke luar kota. Padahal, semua ini aku lakukan hanya untuk membuktikan kecurigaanku selama ini dan mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi.


Aku sudah memasang kamera tersembunyi di beberapa titik yang aku yakini sangat berpotensi dalam mendapatkan bukti. Seraya menatap layar ponsel yang sudah terhubung dengan kamera tersebut beserta speaker-nya, aku juga sedang membaca laporan dari beberapa cabang restoranku.


Lama aku berdiam diri, hingga waktu menginjak menit yang keempat puluh. Pandanganku tiba-tiba menangkap sebuah mobil sedan yang aku kenali pemiliknya memasuki pekarangan rumahku.


"Kena kau!" gumamku semangat seolah sedang bersorak hore.


Oh, tidak. Aku tidak bisa membayangkan adegan seperti apa yang akan kusaksikan berikutnya.


Tak lama setelah kendaraannya terparkir sempurna, Deyandra menyembulkan tubuhnya dari kendaraan roda empat tersebut, lalu memasuki rumah kami, tanpa disambut oleh Vida.

__ADS_1


Berarti Vida sudah menghubunginya via telepon sebelum pria itu tiba di sana. Sialan, kukepalkan telapak tangan dengan ketat lalu meluapkan emosiku pada lingkaran setir yang tak berdosa di hadapan dalam bentuk pukulan telak. Baru berasumsi begitu saja, hatiku sudah sepanas ini seolah ditumpuki dengan berkilo-kilo bara. Apalagi kalau melihat adegan mesra mereka nanti?


Namun, aku masih menahan diri untuk tidak melabrak mereka begitu saja. Aku masih butuh bukti yang lebih kuat lagi, bukan hanya sekedar asumsi belaka.


Kali ini layar ponselku berpindah pada kamera berikutnya, yang dimana menampilkan Vida sedang duduk di sofa ruang tamu dalam keadaan masih sama seperti saat kutinggalkan tadi. Menangis tersedu-sedu.


Namun, adegan berikutnya adalah dia langsung menghambur dalam pelukan Deyandra ketika menyadari kehadiran pria tersebut. Pria yang usianya terpaut tiga tahun di bawahku itu, lantas menyambut tubuh istriku serta mengelus lembut pucuk kepalanya. Vida pun masih terus menangis dalam pelukannya.


Kemudian, adegan selanjutnya menampilkan lakon tak berakhlak mereka yang sukses membuatku menyalakan mesin mobil dan menancapkan gas untuk kembali ke rumah.


...🍂🍂🍂...


"Be-de-bah!" pekikku yang baru saja tersadar dari tidur dalam posisi terduduk sempurna. Vida yang kala itu sudah terlihat segar dan menawan seraya menenteng sebuah nampan bermotif buah pisang, lantas meletakkan bawaannya di atas nakas.

__ADS_1


"Selamat pagi, Sayang!" sapanya kemudian sebelum akhirnya bertanya kepadaku. "Kamu mimpi buruk?" Ia merangkak mendekatiku dengan menautkan kedua alisnya seraya merangkum daguku dengan sebelah tangannya.


Aku sempat mengangguk sebagai tanggapan seraya mengondisikan napas yang masih belum beraturan. Vida sontak meraih segelas jus jeruk yang tadi ia letakkan di dalam nampan. "Minum dulu!" instruksinya, seraya menyodorkan gelas itu ke mulutku.


Aku menerima dan meminum jus itu hingga tandas seperti orang yang sudah bertahun-tahun tak mendapatkan penyegaran tenggorokan. "Sekarang hari apa?" tanyaku padanya tiba-tiba.


"Hari sabtu," jawabnya, lalu meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas nakas.


"Berarti tadi malam kita--"


"Kamu udah lupa? Masa' momen indah seperti itu dengan mudah kamu lupain, sih?" tuturnya dengan ekspresi cemberut. Seolah merasa kecewa padaku karena sudah sepikun itu. Ya, aku ingat, kami sudah melewati malam dengan bersenggama setelah kesepakatan tentang keputusannya untuk berhenti bekerja.


Aku masih bergeming. Tak merespon kata-katanya. Bagaimana aku bisa bermimpi sepanjang malam, bahkan sampai menghabiskan beberapa episode dalam ceritaku?

__ADS_1


__ADS_2