
Luar biasa!
Lakon yang mereka perankan berdua benar-benar sempurna. Membuat semua urat di setiap titik wajahku mengeras seketika mendengar ceritanya. Mencetak rahang keras yang benar-benar melukiskan bentuk kemarahan yang sebenarnya. Masih kuingat, betapa naturalnya ekspresi Vida ketika meyakinkanku untuk mempercayainya tatkala Baron datang ke rumah. Betapa seriusnya ia berkata bahwa tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka berdua. Dan dengan bodohnya, aku mempercayai semua bualan manisnya yang mengatasnamakan cinta.
Apa? CINTA? Apa benar dia mencintaiku?
"Bagaimana? Apa kamu hanya akan menahan sumpah serapahmu di dalam sini?" Vida semakin mendekati wajahku ketika melontarkan pertanyaan itu.
Sungguh, ingin sekali rasanya kukeluarkan semua jenis umpatan atas nama semua hewan, termasuk hewan melata sekali pun. Namun, apalah gunanya? Itu hanyalah akan mengotori mulutku saja.
"Katakan sesuatu, Ibra! Apa kamu sudah berubah menjadi lelaki bisu?!" hardik Vida sembari mencengkeram ketat kerah bajuku dengan wajah berapi-api. Mungkin dia sudah termakan umpannya sendiri. Niat hati ingin menyulut api emosi pada diri sang suami, namun kenyataannya dia malah terbakar sendiri. Kasihan sekali.
__ADS_1
Sedang aku hanya tersenyum miring--merasa menang--karena sudah berhasil memancing emosinya melalui kebungkaman. Ya, salah satu cara melawan orang gila seperti Vida dan Baron adalah dengan mengabaikan segala ucapan gila mereka. Maka, bisa dipastikan emosi negatif itu akan kembali pada diri mereka sendiri.
Baron yang mungkin merasa sangat setia dengan kekasih gelapnya itu, dengan cekatan menarik rambutku dengan sebelah tangannya hingga aku meringis kesakitan dan spontan mendongak.
"Katakanlah sesuatu, sebelum peluru ini benar-benar menembus telak kepalamu!" titahnya dengan suara yang terdengar begitu menyeramkan saat ini.
Bayangkan saja, todongan senjata api yang sedari tadi masih bertengger di pelipisku, kini sudah siap menerjunkan amunisinya dan memecahkan kepala ini. Seketika keringat dingin pun mulai membanjiri tubuhku. Napasku pun terdengar pendek-pendek seolah sedang kekurangan asupan oksigen dalam sekejap.
Beriringan dengan helaan napas kasar, aku memejamkan kedua mata ketika merasa Baron benar-benar ingin menarik pelatuk senjatanya. Di dalam ketidakberdayaan aku hanya bisa berdo'a di dalam hati semoga adanya bala bantuan yang tersesat dan masuk ke dalam ruangan ini.
Dan ... benar sekali, tiba-tiba terdengar suara pintu terdobrak dan menyebabkan daun pintunya melayang ke sembarang arah. Aku yang tadinya menutup kedua netra sontak terlonjak dengan kedua bola mata terbuka.
__ADS_1
Tampak Huda dan Sidqia yang kini sudah berdiri tegak di ambang pintu dengan senjata api dalam genggaman masing-masing. Namun, anehnya Baron dan Vida tampak tidak gentar sama sekali. Mereka berdua hanya tersenyum kecut seolah dua insan di depannya itu adalah anak kecil yang sedang bermain tembak-tembakan.
Lelaki dengan wajah oriental kesayangan Vida tersebut lantas menarik tubuhku dengan sekali hentakan, lalu membuatku berdiri di hadapannya. Jangan lupakan, todongan pistol yang sedari tadi tak kunjung ia halau dari pelipisku.
"Silakan pilih, mau menyerah dan jatuhkan senjata kalian atau sahabat kalian ini lenyap dari muka bumi?!" ancamnya mungkin dengan seringaian mengejek. Karena samar-samar bisa kudengar kekehan kecilnya seolah sedang menarik sebelah sudut bibir.
Huda dan Sidqia tampak saling silang pandang, mungkin sedang dilema antara mau maju atau malah menjatuhkan senjata. Namun, bisa kulihat langkah Huda tampak bertambah walaupun terkesan pendek. Hal itu membuatku sontak mengernyitkan dahi, seolah paham dengan kode yang baru saja dia berikan.
Ya, itu bahasa kode. Aku baru ingat. Perlahan Huda bergerak menunduk seperti sedang berpura-pura ingin meletakkan senjatanya di lantai, begitu juga dengan Sidqia. Namun, belum total benda hitam dengan moncong ganas itu tergeletak, aku pun langsung menyentak dagu Baron dengan kepalaku, sehingga membuat lelaki itu terhuyung ke belakang.
Kesempatan itu tentu saja tidak aku sia-siakan. Sontak aku mengambil posisi tiarap agar bisa memberikan ruang kepada Huda untuk mengambil peran. Melihatku yang begitu cekatan, membuatnya mendongak dan langsung melesatkan satu tembakan yang berhasil mengenai lengan Baron.
__ADS_1
Berhasil. Senjata yang Baron genggam kini sudah tergeletak di lantai. Namun, Vida dengan insting penjahatnya lantas berlari ke arah pria itu dan mengambil alih senjata apinya. Sayangnya, Sidqia tidak membiarkan wanita itu berhasil begitu saja. Dengan sekali tarikan, peluru yang berasal dari senjata adik Huda itu dengan lajunya menembak telak lutut Vida hingga wanita itu meraung kesakitan dan melepaskan senjata apinya.