
Setelah malam itu, aku semakin dihantui rasa penasaran. Memang benar, isyarat tersebut hanyalah datang lewat bunga tidur. Namun, tetap saja, hatiku mulai meyakini sesuatu. Jika benar mimpi itu adalah petunjuk tak langsung yang diberikan oleh Vida, lalu kenapa dia minta tolong padaku?
Sungguh, hal ini membuatku semakin berempati dan mencurigai bahwa peristiwa pembunuhannya memanglah kasus nyata dan bukanlah rekayasa. Karena begitu jelas kudengarkan bahwa dia sedang bersedih hati dan seolah ingin sekali untuk diselamatkan.
"Aku harus menemui, Huda!" titahku pada diri sendiri. "Aku harus memastikan kemajuan dari penyelidikan mereka." Kakiku mengayun cepat menuju halaman depan. Mama yang sudah tahu arah tujuanku, tak lagi banyak bertanya. Ia hanya mengangguk setelah aku pamit akan keluar rumah.
Namun, baru saja telapak tangan ini hendak membuka pintu mobil, suara deru mesin mobil lainnya tampak memasuki pelataran rumah mama. Aku refleks menoleh ke arah sumber suara dan belum bisa mengenali pemilik dari kendaraan tersebut. Dengan pandangan yang masih menilik pemiliknya, aku membalikkan badan dan mengurungkan niat awal.
Tadinya sempat tidak percaya, namun sepersekian detik kemudian, aku sedikit tersentak ketika tubuh tinggi nan ramping yang dibalut dengan busana muslimah itu menyembul dari sela pintu.
"Ranti ...!"
Ia langsung menerbitkan sebuah senyuman indah yang hampir saja membuatku tak memercayai bahwa itu adalah dirinya. Pasalnya, kali ini Ranti terlihat sedikit berbeda dengan sebelumnya. Apakah hanya penglihatanku saja?
"Apa aku datang pada waktu yang tidak tepat, Ib?" tanyanya seraya menenteng sebuah paper bag dan itu cukup menarik perhatianku. Logo yang tercetak pada paper bag tersebut membuat memoriku terseret kembali pada toko kue yang kala itu menjadi saksi tragedi pahit dalam rumah tanggaku.
"Ibra ...!" Ranti menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajahku yang saat ini sedang berada dalam mode lamunan. Tentu saja, hal itu membuatku mengerjap berkali-kali.
__ADS_1
"Oh, maaf, Ran. Ayo, masuk!"
Aku mendahului langkahnya. Menuntunnya untuk duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu. Lalu, beranjak ke dapur untuk meminta ART mama--membawakan minuman dan camilan untuknya.
"Loh, gak jadi pergi?" Mama tiba-tiba muncul di belakangku.
"Kebetulan ada temen, Ma." Aku hanya menjawab sekenanya karena ingin segera kembali ke ruang tamu.
"Siapa?" Mama masih saja penasaran, tak mengizinkanku beranjak sebelum menjawab pertanyaannya. Tampak sekali dari ekspresi wajah menuntutnya. Sebelah tangannya menahan pundakku dengan ketat.
"Temen SMA dulu," jawabku singkat kemudian berlalu.
"Nama kamu siapa, Sayang?"
"Ranti, Tante."
"Ranti ... Miranti?
__ADS_1
"Iya, Tan."
"Owalah ... kamu kok cantik banget sih, tante sampai pangling deh. Kok baru sekarang main ke sini?"
Mama mulai menginterogasi Ranti dengan berbagai pertanyaan lainnya yang hampir membuatku tak mendapat jatah sedikit pun untuk mengambil peran dalam percakapan di antara mereka.
Lima belas menit kemudian
Dengan terus memainkan gawai, aku sontak mengerjap ketika telapak tangan mama mendarat di lenganku. "Kamu ini, teman lagi bertamu kok malah sibuk sendiri, sih?"
Apa mama bilang? Aku sibuk sendiri? Aku hanya mencari kesibukan, Ma. Pekikan dalam hatiku mungkin tak akan terdengar oleh mama. Namun, mimik wajah datarku sudah cukup membuktikan bahwa aku mulai bosan dengan situasi ini.
"Ibra ... aku turut berduka atas meninggalnya istrimu," tutur Ranti yang sudah bisa membaca situasi sedikit lebih cepat dari mama.
Aku tersenyum, lalu mengangguk. "Makasih, Ran. Kamu kok ada di sini?" tanyaku yang sudah sedari tadi ingin menanyakan hal itu.
"Oh, aku kebetulan lewat, makanya mampir," jawabnya yang belum sempurna mengobati rasa penasaranku.
__ADS_1
"Em ... maksudku bukan itu, tapi--"
"Oh, aku udah pindah kerja, Ib. Maksudku ... dipindahkan ke sini."