Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Harapan Baru


__ADS_3

Sejurus seruan kedua darinya semakin sukses membuat pandanganku berpindah arah. Pasalnya, ada suara bariton yang menyusulnya dari belakang. Cukup tersentak dengan kehadiran mereka berdua, namun jika mengingat profesi keduanya, hal ini bisa saja terjadi.


Di hadapanku saat ini, sudah berdiri dua pasang insan yang setahuku tidak jadi berjodoh karena permainan takdir yang akhirnya menempatkan mereka kembali pada posisi masing-masing. Bagaimana ceritanya? Jika di antara kalian ada yang pernah membaca novel yang berjudul RAHASIA ISTRI SEMENTARA--karya Penulis Jelata--maka kalian pasti sangat mengenal baik dua tokoh utama di bawah ini.


"Sidqia ...!" Kemudian pandanganku berpindah pada sosok yang kini sudah berdiri di belakangnya. "Huda ...!" Keduanya tampak tersenyum serentak.


"Lama tidak bersua, Bro." Pria dengan paras tampan dan bermata tajam itu, memposisikan diri di sampingku. "Bagaimana kabarmu?" Sebuah tepukan ia layangkan di pundakku. Tentu saja, aku akan menjawab diri ini baik-baik saja, walaupun sebenarnya ada sesuatu yang sedikit mengganjal, namun tak bisa lagi untuk diungkapkan.


"Kalau dilihat dari senyumanmu itu, kamu tidak sedang baik-baik saja, Ib." Tembakan telak dari seorang anggota intelkam wanita di sampingku ini, membuatku tak lagi bisa mengelak.


Ya, Huda dan Sidqia adalah kakak-beradik yang sama-sama berprofesi sebagai aparat negara. Zainul Huda adalah Kasat Reserse Kriminal di salah satu satuan kepolisian di negara ini. Sementara Sidqia yang merupakan adiknya, adalah seorang anggota terbaik satuan intelkam di ibu kota. Ia sudah sukses mengungkap kasus pengedaran narkotika terbesar di kota ini. Ditambah lagi kasus perdagangan wanita yang tak kalah biadapnya. Jadi, sudah pasti aku takkan bisa berbohong di hadapan dua manusia dengan bakat luar biasa dalam menginterogasi dan mengintimidasi lawan bicaranya ini.

__ADS_1


"Kalian ngapain di sini?" Pertanyaan tak menyambung itu sengaja kulontarkan agar perhatian keduanya teralihkan. Namun, bukan Sidqia dan Huda namanya, jika tak bisa mengorek informasi apa saja yang mereka inginkan. Benar-benar perpaduan dua saudara yang menjengkelkan.


"Kami hanya berkeliling saja," jawab Huda sekenanya.


"Ya, berkeliling mencari mangsa," kelakar Sidqia setelahnya.


Aku hanya bisa memandangi keduanya secara bergantian. Senyuman tak terbaca dari keduanya menandakan bahwa mereka sedang berada dalam sebuah misi pemburuan.


Sidqia hanya tersenyum enteng. Sementara Huda, ia tampak berpura-pura membuang muka, seolah sedang menyembunyikan sesuatu saja. Aku hanya bisa melipat kening agak dalam, mencoba menebak gerak-gerik keduanya yang tampak begitu kompak. Apa ada yang sedang mereka sembunyikan?


Kusandarkan gitar kesayanganku di samping kursi besi panjang yang kududuki. Pasalnya, saat ini aku sedang duduk di tepian danau favorit yang selalu menjadi tempat ternyamanku saat ingin menenangkan diri. Ada tiga anak kursi lagi yang tersusun melingkar--mengelilingi--satu meja bundar di tengah kami. Huda duduk di sampingku, sedangkan Sidqia duduk tepat di hadapan kami.

__ADS_1


"Kebetulan bertemu di sini." Huda langsung membuka suara setelah beberapa menit berdiam diri. Tadinya, kami hanya sibuk dengan asumsi masing-masing. Mendengar hal itu, sontak kupusatkan perhatian padanya. "Mengenai kasus kematian istrimu, sekarang sedang ditangani oleh Sidqia," tuturnya seolah sedang memberikan prolog pada penjelasannya.


Sejurus pandanganku berpindah pada Sidqia yang kali ini sedang sibuk dengan gawainya. Namun, ia masih sempat tersenyum tipis karena mendengar perkataan kakaknya. "Lalu, kenapa kamu bisa berada di sini?" tanyaku yang memang tak sabaran, menatap Huda penuh tanya. Karena setahuku, ia tidak bertugas di kota ini lagi.


Namun, alih-alih menjawab, ia malah mengedikkan dagunya ke arah sang adik. Membuat gadis itu menghela napas pelan, karena sebelumnya sempat melirik. "Zain diminta untuk mendampingiku kali ini," tutur Sidqia dengan wajah seriusnya. Setahuku, 'Zain' adalah panggilan khusus yang ia sematkan untuk Huda. "Kasus kali ini sepertinya bukan hanya melibatkan pelaku domestik, melainkan seorang mafia manca negara," lanjutnya seolah sedang membocorkan informasi terbaru yang mereka punya. "Tapi ... keterlibatanku dan Zain di dalam kasus kematian istrimu ini, tetap menjadi misi rahasia, Ibra. Jadi, kamu tidak boleh memberitahukannya pada siapa pun."


DEG


Baru saja aku berniat untuk tidak lagi bermain dengan asumsi dan halusinasi. Namun, sepertinya Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi. Dengan mengirimkan dua manusia berbakat untuk mengungkap kasus kematian mendiang sang istri, yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat lamaku sendiri.


Ya, Huda adalah teman sejawatku di masa SMP. Sementara Sidqia, aku mengenalnya karena memang dulunya kami adalah tetangga. Bahkan rumah kami hanya bersebelahan. Namun, karena perpindahan tugas papa, aku dan keluarga harus pindah ke ibu kota. Tidak kusangka, mereka berdua sama-sama tumbuh dan mendewasa sebagai aparat negara.

__ADS_1


__ADS_2