
Setelah menyadari hal itu, Vida sontak berlari dan menghampiriku yang kini masih bertubuh kaku bak sebuah patung tanpa mengotak-atik kain basah yang menutupi penglihatan. Ia lantas menariknya dariku, dan mengeringkan wajahku dengan tisu yang sudah ia bawa di dalam genggaman.
"Maaf ya, Sayang. Aku benar-benar kaget tadi," tuturnya dengan mimik dipenuhi sesal, sedangkan sebelah tangannya masih menyapu lembut wajah ini. Aku hanya tersenyum tergoda tanpa bisa berkata-kata lagi. Karena saking terkejutnya dengan hal tadi, ia sampai melupakan bahwa saat ini tubuhnya hanya dililiti handuk setengah badan yang sukses mengekspos jelas bagian dada dan kaki jenjangnya.
Vida yang menyadari arah pandangku, lantas terperanjat untuk yang kedua kalinya, lalu bergegas ke dalam. Bisa kutangkap semburat merah yang menghiasi pipinya sebelum ia berbalik badan tadi. Aku hanya bisa tersenyum sembari geleng-geleng kepala.
Kugeret koperku beserta buket bunga yang belum sempat aku berikan padanya, lalu masuk dan mengunci pintu. Pandanganku mengedar ke sekeliling, namun sepertinya Vida sudah naik ke lantai dua untuk memakai pakaiannya.
Aku langsung bergerak ke dapur untuk mengambil air minum, karena tenggorokan ini mendadak terasa sangat kering. Namun, ada sesuatu yang berhasil membuatku berkerut kening. Istriku ... dia sedang berdiri di depan meja--memunggungiku.
__ADS_1
"Aku kira kamu di kamar," tuturku yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.
Ah, aku salah mengambil posisi. Seharusnya aku menempel saja di punggung indahnya. Kenapa tidak kepikiran olehku sebelumnya? Sebuah sesal memukul telak ruang dada. Namun, sudah kepalang salah, jadilah meneruskan apa saja yang sekarang di depan mata.
Dia menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada segelas jus jeruk yang sudah siap untuk kuteguk. Aku masih mengamati pergerakannya, yang saat ini sudah mendekatiku seraya menyodorkan gelas itu ke depan dadaku. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke dekat telingaku, lalu berbisik, "Aku benar-benar terkejut." Hembusan napas hangat darinya membuat jiwa kelaki-lakianku meronta seketika seolah sudah dibangunkan dari tidurnya.
Segera kuteguk air berwarna kuning menyegarkan itu hingga tandas, seraya terus mengunci pandanganku ke arahnya yang sedari tadi hanya menertawaiku. Kuletakkan kembali gelas itu di atas meja, kemudian kembali mendekatkan wajahku padanya. Sebelah tangan kutumpukan di atas tempat yang sama. Sementara yang satunya lagi kugunakan untuk menarik dagu runcing Vida.
"Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membangunkan keris pusakaku," bisikku di dekat telinganya seraya menghembuskan napas berat dengan sengaja. Tentu saja, hal itu membuat tubuh Vida merespon dengan gerakan indah--mengangkat sebelah pundaknya--seolah menandakan bahwa dia sedang merasa geli.
__ADS_1
Ia tidak meresponku dengan kata-kata. Sehingga membuatku terus menyusuri cuping putihnya yang kali ini sudah berwarna agak kemerahan dengan bibirku. Entah, karena merasa malu atau karena efek dari libido yang juga sudah mulai naik, sepasang bibirnya mulai terdengar meracau dengan suara lenguhan kecil.
YES!
Aku tersenyum penuh kemenangan di garis awal.
Tak berhenti sampai di situ saja. Pergerakanku kini mulai turun memasuki ceruk leher sampingnya dengan memberikan kecupan-kecupan kecil hingga tulang selangka. Ia yang mulai terbuai, akhirnya refleks mendongakkan pandangan seolah memberiku ruang lebih untuk berkelana. Matanya terpejam sempurna bak sedang menikmati sentuhan demi sentuhan lembut yang kuberikan padanya. Pinggulnya sudah menempel sempurna pada meja, sementara kedua tangannya ikut bertumpu di atas sana. Posisi yang seperti ini, membuatku lebih mudah untuk mengeksplor semua titik terindah dari tubuhnya.
Ah, aku mulai menggila!
__ADS_1