
Kidung malam semakin mendramatisir suasana hati yang sedang lara. Remuk, redam, dan sepi tiada tanding dalam sepanjang perjalanan masa. Seutas ingatan terseret memaksa diri untuk mengingat kembali momen indah di hari bahagia. Hari dimana aku menikahi Vida dalam balutan tatapan cinta yang membara.
Aku ... dengan mata masih terbuka lebar, berdiri di balkon kamar dengan pandangan menengadah ke angkasa. Langit yang gelap gulita seolah menambah kepelikan jiwa yang kala ini sedang berduka.
Aku berjanji akan selalu mencintaimu, lebih dari selamanya!
Masih terngiang ucapan manis berbentuk janji suci yang Vida utarakan kala itu. Membuatku percaya seratus persen bahkan lebih tanpa harus memendam rasa cemburu. Meregang rasa curiga yang selama ini menggerogoti pikiranku. Menghapus semua bukti-bukti kecil yang kadang kutemukan jika kebenaran itu datang menyapaku. Namun, dengan polosnya aku masih tetap percaya. Memegang prinsip saling cinta, maka menurutku ... tidak mungkin ia akan mencetak dusta.
...💔...
Satu minggu kemudian
"Selamat Pagi, Pak!" sapa seorang petugas kepolisian ketika aku sudah keluar dari peraduan.
Mama sempat membangunkanku ketika merasa ada yang tidak beres. Ia memberitahukan bahwa sepertinya ada masalah serius yang harus aku ketahui.
__ADS_1
"Selamat pagi!" responku dengan wajah bantal yang masih kentara. Karena terlalu tenggelam dalam pikiran kalut yang masih merajalela, membuatku terjaga hingga waktu subuh menyapa.
"Mohon maaf, jika mengganggu istirahat Anda." Polisi ini kelihatan sangat sopan. "Apa bapak bisa ikut kami ke rumah sakit sekarang?" tanyanya lagi dengan ekspresi wajah yang tak bisa kubaca.
Aku mengernyitkan dahi, sementara mama yang sedari tadi berdiri di sampingku hanya bisa mencengkeram lenganku lebih kuat dari sebelumnya.
"Maaf, Pak. Saya kurang mengerti dengan maksud, Bapak." Aku berucap setenang dan sesantun mungkin agar aparat negara di depanku ini tidak merasa tersinggung atau sejenisnya.
Ia terdengar menghela napas panjang sebelum melanjutkan dialog yang mungkin menurutnya akan membuat aku dan mama jantungan seketika. "Begini, Pak. Kami menemukan sebuah mayat yang setelah diidentifikasi, sepertinya itu adalah mayat istri Bapak."
DUAAAR
"Maka dari itu, kami mengundang Anda agar datang ke rumah sakit, untuk memastikan kembali--apakah kami tidak salah mengidentifikasi." Kalimat demi kalimat yang sudah dikatakan petugas ini sukses membuatku bagai terseret ke dalam alam mimpi.
Walaupun Vida sudah melakukan hal keji terhadap diri ini, namun tetap saja namanya masih terpahat basah di dalam hati. Aku masih berusaha tenang, dan juga menenangkan mama yang tak kalah sedih.
__ADS_1
"Ma, aku titip Ibram sebentar." Aku pamit untuk berangkat ke rumah sakit, setelah mengambil kontak mobil. Mama hanya mengangguk dengan wajah yang sudah bersimbah air duka. Mungkin ia tidak bisa membayangkan jika itu memang benar jasad dari menantunya.
...💔...
Saat aku tiba di sana, sudah ada kedua orang tua Vida, dan Kak Catur yang kini meringkuk dengan tangis tanpa suara. Mereka bersandar pada tembok dan terkulai di lantai ruangan serba putih yang di dalamnya terdapat beberapa peti dan lemari yang berisi raga yang tak lagi berpenghuni.
Aku belum sempat menyapa mereka, ketika dua orang petugas kepolisian dan satu orang petugas kesehatan, menuntunku untuk mendekati seonggok daging tak bernyawa, yang sudah terbujur kaku di atas pembaringan dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.
DEG DEG DEG
Siapa bilang jantungku tak berdegup kencang?
Tabuannya tetap terdengar sama di saat hati sudah mulai tak lagi tenang.
Ada rasa yang tak bisa dijelaskan dan tidak bisa diterima oleh logika. Walaupun hati masih basah setelah tergores dengan sejuta luka.
__ADS_1
Kedua tanganku mulai bergerak menyentuh ujung kain putih itu. Menyibaknya perlahan dengan perasaan bercampur aduk. Aku bahkan sudah mengenali pucuk kepala yang tampak di depan pelupuk. Semakin turun ... sibakan kain putih itu, semakin membuktikan bahwa yang berada di hadapan saat ini memanglah jasad istriku.
Kedua mataku refleks terpejam menahan perih yang teramat dahsyat di dalam dada. Tak sanggup kupandang wajah pucatnya yang kini penuh dengan luka lebam. Bahkan di beberapa bagian tubuhnya juga terdapat luka tusukan akibat senjata tajam.