
Tanpa mengulur waktu lagi, kami langsung bergegas menuju kediaman Deyandra. Sebenarnya, aku tak mengetahui informasi apa pun tentang sahabat lama Vida itu, beruntung Kak Catur mengetahui alamatnya.
"Aku udah lama gak kerja ama Baron, Ib. Lagi pula setahuku, dia udah pindah ke luar negeri," tutur Deyandra dengan penuh penyesalan.
Apa? Luar negeri? Lalu siapa pria yang kulihat tadi malam? Aku malah sangat yakin kalau dia adalah Baron.
"Maafkan aku ... aku gak bisa bantuin kalian." Pria muda yang usianya terpaut dua tahun di bawahku itu mendaratkan sebuah tepukan di pundakku. "Dan aku turut berduka atas kematian Vida. Aku benar-benar tidak mendengar kabarnya sama sekali karena aku sedang berada di luar kota waktu itu," lanjutnya lagi dengan ekspresi wajah yang seketika berubah sendu.
Ya, benar. Deyandra memang tidak hadir pada hari dimana kami mengantarkan jasad Vida ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku dan Kak Catur tentunya sangat memahami dan memaklumi. Namun, pandanganku kini terarah pada pria senior yang duduk tepat di hadapanku. Di sana ... bisa kutangkap raut kecewa terlukis jelas di wajah kakak iparku itu. Entah, karena Deyandra tidak bisa memberikan petunjuk apa pun, atau mungkin karena hal lain, aku pun tidak tahu.
...💔...
__ADS_1
"Sepertinya kita memang harus memasrahkan kasus ini pada pihak kepolisian, Kak." Dengan pandangan yang masih fokus ke depan, dan dua tangan menggenggam erat stir mobil, aku mengungkapkan isi hati. Bukannya putus asa, namun aku lebih ingin berpikir sesuai realita tanpa harus berhalusinasi dan bermain dengan segala bentuk asumsi lagi.
Kak Catur sontak menoleh ke arahku, seolah tidak terima, namun apa boleh dikata. Dia juga pasti memiliki pemikiran yang sama. Sedari tadi kami berdua hanya bergeming, sibuk dengan dunia masing-masing. Hingga aku mengungkapkan kalimat itu pun Kak Catur tampak tak ingin menanggapi. Diamnya itu kuanggap sebagai persetujuan. Lagi pula, tidak ada yang bisa kami lakukan lagi selain ... menunggu.
Aku pun langsung menambah kecepatan mobil menuju restoran, karena mobil Kak Catur sengaja ditinggal di sana tadi.
"Kamu mau kemana lagi?" tanyanya ketika kami sudah sampai di tujuan.
...💔...
Bertemankan sebuah gitar kesayangan. Di sinilah aku. Merangkai kata di atas alunan melodi senja. Menghibur dedaunan dan burung-burung yang masih setia menemani kerisauan jiwa.
__ADS_1
Kegundahan hati ini bukankah sudah saatnya untuk pergi? Seiring dengan meleburnya rasa pahit yang terseret curah hujan tempo hari. Namun, kenapa masih terasa mengiringi pergerakan diri?
Akhir-akhir ini aku merasa terlalu tegang dalam berpikir. Bukankah awalnya aku sudah tak peduli lagi? Lalu, kenapa harus ada rasa penasaran yang kembali meninggi?
Tidak, tidak mungkin aku mempercayai sebuah halusinasi. Orang yang sudah mati, tidak akan bisa hidup lagi. Jadi, mulai hari ini, kuingin menanamkan kekokohan hati. Tak ingin ambil pusing bahkan turut andil di dalamnya lagi. Sudah cukup, fokusku sekarang hanya untuk membesarkan sang buah hati.
Ya, aku harus segera berpindah pada dimensi kenyataan. Sebelum kembali terjebak dalam lingkaran masa lalu yang takkan pernah mengizinkanku untuk maju dan berkembang. Biarlah semuanya berjalan sesuai alur yang semestinya, tanpa aku harus terlibat di dalamnya.
"Ibra ...!"
Sebuah seruan bernada lembut tiba-tiba hinggap di rongga telinga. Membuyarkan semua lamunan yang sedari tadi menggerogoti jiwa di dalam raga.
__ADS_1
Aku mengerjap tanpa memindahkan haluan pandang. Suara ini ... aku sangat mengenalinya. Tanpa harus melihat wajahnya pun aku bisa mengetahui siapa pemiliknya.