
Jika sudah dalam kondisi seperti ini, ketidakmahiranku dalam mengendalikan situasi, akan semakin menjadi-jadi. Apalagi, sejak hamil Vida lebih sering sekali tersulut emosi diri. Membuatku semakin serba salah setiap hari.
Hem ... rasanya aku ingin sekali menenggelamkan diri ke dasar sungai yang tak bertepi. Seakan hal tersebut terasa lebih baik, dibandingkan harus menghadapi kemurkaan seorang istri.
"Sayang ... ayolah," bujukku bagai tak punya lagi rasa malu karena telah berkali-kali diusirnya dari hadapan. Jika dilihat dari raut wajahnya, sangat tidak mungkin bagiku untuk mendapatkan pengampunan.
Dia masih saja diam tanpa kata. Semakin membuat otakku setengah berputar, memikirkan solusi--apa sekiranya yang bisa kulakukan untuk meredam amarahnya?
Kucoba mendekati istri hamilku itu untuk yang kesekian kali, menempelkan bibirku di pundaknya, dan mengecupnya dalam-dalam. Saat ini, tak ada yang bisa aku lakukan lagi, selain diam dan bertingkah lembut padanya. Semoga saja, ini bisa menyejukkan hatinya yang sedang dikuasai amarah, dalam sekejap mata.
Seperti dugaanku, ia terdengar menghela napas panjang, seolah sedang melepaskan jeratan rantai murka di dalam dadanya yang sempat terasa terhimpit. Tentu saja, emosi negatif bisa membuat jiwa tak terkendali dan mudah sekali untuk meletup-letup. Dia masih duduk pada posisinya, tanpa bergerak sedikit pun.
__ADS_1
Aku pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Wajahku berpindah mendekati cupingnya, dan membubuhkan sebuah kecupan di sana. Ia masih tampak tenang, walaupun napasnya terdengar sedikit memburu. Seolah sedang menahan sesuatu yang indah agar tidak keluar dari mulutnya.
Melihatnya yang berusaha menahan diri, akhirnya kulingkarkan lengan kekarku pada perutnya yang sudah mulai tampak membesar, walaupun tak seberapa. Kutempelkan kembali sebuah kecupan pada pipinya, yang sukses membuatnya merotasikan pandangan menghadap wajahku. Tentu saja, hidung bangir kami saling bertemu dan terjadilah pertukaran napas hangat yang sama-sama memburu.
Kedua manik matanya mengunci pandanganku, sementara sebelah tangannya sudah menyentuh rahangku yang sedikit ditumbuhi rambut-rambut halus. Menggerakkan jari-jemarinya turun-naik, seolah sedang mengatakan bahwa dia sudah tak lagi murka saat ini.
Di saat yang bersamaan, kurenggut bibir tipisnya dan membawanya tenggelam dalam permainan lembut yang memabukkan. Melebur semua kejadian yang tidak mengenakkan dan sempat menciptakan atmosfer tidak nyaman di antara kami berdua, beberapa menit yang sudah terlewatkan.
"Sayang ...! Aku 'kan udah pernah bilang, simpan handuk itu pada tempatnya," erang Vida yang sudah mulai naik pitam karena kebiasaanku yang suka meletakkan handuk sembarangan jika selesai membersihkan diri.
Aku sedikit terperanjat, karena mendengar suara emasnya yang menggelegar seantero kamar.
__ADS_1
Matilah aku!
Sebelum-sebelumnya, ia tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Namun, semakin ke sini, kesalahan-kesalahan kecilku sedikit demi sedikit dijadikan bahan amukan. Bahkan kadang ia tidak segan-segan mencubit atau memukul salah satu bagian dari tubuhku--sebagai bentuk hukuman.
Jika hanya dihukum dengan hal seperti itu, aku malah hanya akan menanggapinya dengan kekehan kecil atau gelak tawa, seolah tak merasa berdosa. Namun, jika dia sudah mulai bungkam tanpa ekspresi, di situlah aku tak bisa berkelakar lagi.
Semua yang aku lakukan hanya akan terbilang sia-sia, karena Vida tidak akan menanggapinya. Bagiku, lebih baik dia mengomel sepanjang hari karena kesalahan yang sudah aku perbuat, dibanding harus didiamkan seharian bahkan berhari-hari. Aku sungguh tidak bisa.
"Hehe, 'kan ada Sayang yang beresin," ujarku dengan wajah cengengesan. Vida tampak semakin berang, dan mengambil handuk itu, lalu melemparnya ke arahku.
"Kebiasaan! Aku gak suka tau, kalo liat rumah berantakan. Seharusnya kamu ngerti dong," celotehnya kembali.
__ADS_1
Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal, seolah sedang memperkirakan omelan seperti apalagi yang akan menghantam diri. Bisa-bisa aku tidak jadi berangkat bekerja jika sudah seperti ini.