
"Terima kasih, Mas."
Kubayar total pembelian, kemudian menandatangi tanda terimanya. Kurir salah satu aplikasi online yang mengenakan jaket khas warna hijau kombinasi hitam itu lantas tersenyum ramah dan pamit undur diri.
"Udah datang?" tanya Vida ketika langkahku sudah menginjak ubin dapur, tepat di samping meja makan. Dengan hanya mengangguk, kuletakkan bungkusan paper bag berisi makanan itu. Vida yang sudah menyiapkan piring di atas meja, langsung memindahkannya ke dalam piring.
Aku sudah duduk sempurna pada posisi, ketika istriku menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan capcai seefood yang terkenal sangat enak di kota ini. "Coba aja tadi gak gosong, kita--"
"Sayang ...!" tegurku padanya agar menyudahi penyesalannya yang tak sebanding dengan rasa.
Kulihat ia pun hampir siap pada posisinya, namun tiba-tiba bel kembali berbunyi. Vida yang belum duduk sempurna, lalu turun dari kursi, lalu bergerak ke depan untuk membukakan pintu.
Lama kutunggu ia yang tak kunjung kembali dari depan. Karena rasa penasaranku yang terlalu tinggi, akhirnya kususul dia ke ruang tamu.
Samar-samar kudengar percakapan seorang wanita dan seorang laki-laki yang terkesan suaranya tertahan agar tidak kedengaran. Kuintip keberadaan mereka berdua dari celah engsel pintu, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat wajah Deyandra tampak jelas di pelupuk mata. Yang paling membuatku terperanjat adalah ia sedang menggenggam erat kedua tangan istriku.
Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?
__ADS_1
Kenapa anak itu tidak diajak masuk saja oleh Vida?
Karena tak ingin mengganggu mereka berdua, dan ingin membuktikan kebenaran dibalik kecurigaanku selama ini, akhirnya aku memutuskan untuk terus menguping.
"Bukannya aku udah bilang, kamu jangan pernah ke sini, kalau suamiku ada di rumah," tutur Vida dengan menggebu-gebu.
"Tapi aku kangen banget sama kamu, Yang." Deyandra berkata setengah berbisik.
Yang?
"Iya aku tahu, aku tahu, Sayang!'
Apa? Vida juga memberikan julukan yang sama padanya? Berarti mereka berdua bukanlah sekedar sahabat lama? Ah, ternyata aku tertipu selama ini. Kedua tanganku mengepal ketat seolah ingin rasanya kulampiaskan kemurkaan itu saat ini juga. Namun, aku harus tahan dulu, akan kurang tepat rasanya jika aku keluar sekarang.
"Ya udah, nanti aku temui kamu di tempat biasa. Kamu duluan aja ke sana!" pinta Vida setengah mengerang namun ditahan.
Setelah itu Deyandra langsung pergi dari sana. Mungkin akan menuju tempat dimana mereka akan saling melepas jerat kerinduan bersama.
__ADS_1
...💔...
"Maaf lama ya, Sayang." Vida memasang senyuman tidak enak hati.
"Siapa yang datang?" tanyaku mencoba mengetes kejujurannya.
"Oh, itu ... anu ... apa ...." Dia tampak gelagapan. "Itu loh, tetangga sebelah, nawarin produk kecantikan. Tapi, aku lagi gak mood belanja hari ini. Jadi, dia pulang, hehe."
Oh, tidak. Dia benar-benar berbohong padaku. Padahal sudah jelas aku melihat bahwa yang datang tadi bukanlah tetangga, melainkan selingkuhannya. Pantas saja, tadi pagi ia merasa begitu takut ketika aku bercerita tentang berita terkini yang tertulis di koran.
Aku sudah kembali ke tempat duduk, sebelum Vida tiba di meja makan. Dengan memasang ekspresi biasa-biasa saja, aku mencoba dengan susah payah menghabiskan makanan yang saat ini ada di hadapan.
Sebenarnya jika menuruti emosi diri, rasanya ingin sekali kuporak-porandakan semua yang ada di atas meja ini, lalu menodong Vida dengan kalimat mengejamkan sehingga membuatnya bergidik ngeri. Namun, pikiran warasku masih menguasai kepala ini. Aku harus bisa menahan segala bentuk emosi negatif yang menghantam bagai hujaman jutaan belati, hingga aku menemukan cukup bukti untuk memergoki pengkhianatan sang istri.
...💔...
Seusai makan siang, Vida lantas meminta izin untuk keluar sebentar. Katanya, ingin menemui salah satu customer-nya yang kebetulan juga sedang berada di kota ini. Tanpa banyak tanya, aku langsung mengizinkannya dan dia pun tampak begitu bahagia.
__ADS_1