
Tentu saja kami semua terperangah dengan sikap papa mertua yang sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya. Beliau yang dikenal dengan sosok cuek dan tak banyak bicara itu, ternyata bisa menjelma menjadi sosok lain jika sudah dikuasai oleh emosi jiwa.
"Papa ...!"
Mama mertuaku sontak berdiri menahan lengan suaminya yang hampir kembali mengayunkan tangan ke arah Vida.
"Tujuan Ibra dan keluarganya datang kemari untuk bicara baik-baik, Pa. Bukan seperti ini caranya."
Pujukan mama mertuaku sepertinya sangat ampuh, sehingga membuat suaminya terkulai di atas sofa, dan m-e-n-d-e-s-a-h pelan nyaris tak bersuara.
Sejujurnya kami bertiga sangat bisa memaklumi. Orang tua mana yang tidak malu, jika putrinya melakukan kebiasaan tidak terpuji seperti yang sudah dicetak sempurna oleh Vida? Jadi, aku paham betul seperti apa perasaan papa mertua.
Ketika dirasa suasana di sana sudah lebih tenang dari sebelumnya, aku pun mulai angkat suara. Menjelaskan tujuan kami datang kemari dan menawarkan solusi yang tepat untuk kelanjutan hidup kami masing-masing ke depannya.
Dari beberapa episode sebelumnya, kalian pasti sudah tahu bahwa aku tak akan bisa lagi mengarungi biduk rumah tangga bersama Vida. Kisah kami hanya cukup sampai di sini. Jika pun ada komunikasi yang terjalin ke depannya, itu pasti hanya menyangkut tentang Ibram, tidak lebih.
Mama dan papa mertuaku pun dengan sangat menyesal memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada aku dan keluarga. Mereka berdua merasa sangat bersalah, bahkan merasa gagal mendidik Vida, sehingga putrinya itu bisa melakukan hal buruk di luar dugaan mereka. Padahal sampai usia yang sudah tak lagi muda, secara tidak langsung keduanya sudah memberikan teladan agar bisa memegang prinsip saling setia. Terlepas banyaknya masalah yang melanda selama menjalani biduk rumah tangga.
__ADS_1
Hem ...!
Kami bersatu dengan cara baik-baik, maka berpisah pun harus dengan cara yang baik pula. Terlepas dari apa yang sudah menjadi penyebabnya, aku berharap keputusan ini adalah yang terbaik untuk kami berdua.
...💔...
"Aku akan mengurus administrasi perceraian kita secepatnya," tuturku ketika kami hanya duduk berdua di sebuah gazebo yang terdapat di depan rumah orang tua Vida.
Wanita yang masih berstatus istriku itu tampak tersentak tak percaya. Pasalnya selama di dalam tadi aku tak mengatakan sepatah kata pun tentang perpisahan. Merasa tidak terima, Vida mulai beringsut mendekatiku dan meraih telapak tangan. Namun, dengan sigap kutarik kembali agar bisa mengendalikan perasaan.
"Apa kamu benar-benar yakin dengan perkataanmu itu? Pikirkan tentang Ibram!" Ia menuntut jawaban dengan nada bicara yang sedikit tertahan. Mungkin khawatir akan menarik perhatian beberapa tetua yang masih asik berbincang di dalam kediaman.
"Seharusnya, jika ada yang kurang dari diriku ini, kamu bisa mengatakannya. Dimana letak salahnya, dimana letak kurangnya? Bukan malah mencari sandaran lain yang memiliki kelebihan sempurna untuk menutupi kekuranganku!" tegasku dengan napas memburu.
"Aku hanya manusia biasa Vida, tak luput dari kekurangan. Begitu juga dengan kamu. Namun, aku masih bisa tetap bertahan karena aku mencintaimu. Kekuranganmu itu tak ada artinya bagiku, karena cintaku lebih besar dari itu." Kalimat terakhirku kembali sukses membuat Vida sesegukan. Pasalnya aku jarang mengungkapkan perasaan secara gamblang. Namun, malam ini entah mengapa lidahku begitu lihai dalam keheningan malam. Sudut mataku pun ikut mengalirkan cairan. Pertahananku gagal karena sebuah pengkhianatan.
Telak. Vida tak lagi bisa mengelak. Semua pertanyaan dan pernyataanku sudah menyihir lidahnya menjadi kelu bahkan hanya untuk berdecak.
__ADS_1
"Sudahlah. Tidak ada lagi yang bisa dibahas. Ini sudah menjadi pilihanmu, maka terimalah dengan lapang dada walaupun sebenarnya hatikulah yang paling terhempas."
Aku bangkit meninggalkannya yang masih mematung di sana. Tak ingin tahu lagi dengan apa yang ada di pikirannya. Semuanya sudah jelas, tak perlu lagi bertele-tele atau pun dilema. Jurang pemisah sudah terbentang di depan mata. Jika salah melangkah sedikit saja, aku khawatir malah akan celaka.
...💔...
...💔...
...💔...
Halo, sudah lama Author tidak menyapa. Terima kasih untuk semuanya yang masih setia membaca kisah Ibra dan Vida, ya. Aku cukup terharu karena akhir-akhir ini banyak silent readers yang unjuk komentar bahkan berbaik hati menekan tombol like dan ngasi vote.
Jujur, aku sangat senang. Apalagi like dan komentar kalian itu udah kayak suntikan semangat untuk aku terus nulis, bahkan akhir-akhir ini suka double up, 'kan?
Makanya, jangan sungkan-sungkan untuk pencet tombol like dan bikin demo di kolom komentar ya, karena dukungan kalian itu saaaaangat berharga bagiku.
Oh iya, aku juga mau bilang; sejak episode kematian Vida, kita udah masuk pada unsur misteri dari novel ini ya. Jadi, aku mohon maaf kalau alurnya akan sedikit lambat kayak jalannya kura-kura. Karena semuanya harus diceritakan secara detil agar tidak ada yang ganjal atau pun terlewatkan, demi menghasilkan ending yang memuaskan. Jadi, banyak-banyak bersabar dan nekan dada, ya.
__ADS_1
^^^Salam hangat,^^^
^^^Novi Artikasari^^^