Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Aneh


__ADS_3

Satu pekan berlalu begitu saja. Namun, mimpi buruk itu masih terus terngiang di benakku seolah semuanya tampak begitu nyata.


Ya, ternyata kecurigaan yang selama ini aku jatuhkan atas istriku, tidaklah benar adanya. Deyandra dan Vida tidak pernah ada hubungan spesial. Karena tepat pada hari ini, aku dan Vida akan menghadiri resepsi pernikahannya.


"Kamu sudah si--ap?" Pandanganku seketika terkesima setelah memasuki pintu kamar dan melihat istriku dengan penampilan sempurna bak seorang bidadari. Gaun panjang dengan lengan you can see, berwarna abu-abu gliter membalut tubuh idealnya yang sukses menambah kesan seksi berkali lipat. Bagian belakangnya yang sedikit terbuka sukses membuat otak mesumku mencuat ke level tertinggi. Sementara rambut panjangnya dicepol tinggi dengan sangat rapi.


"Apakah ini terlalu terbuka?" tanyanya ketika melihat ekspresiku yang terpaku.


"Tidak, ini sempurna. Dan ...." Aku berjalan mendekatinya. "Akan lebih efisien," lanjutku sembari menyentuh bagian punggungnya."


"Efisien?" Dia mengoreksi perkataanku dengan terkekeh kecil. Seraya menatapku malu-malu dari pantulan cermin.


Sungguh, kami tampak seperti sepasang kekasih yang sangat serasi. Apalagi, jika ditambah kehadiran Ibra junior di sini. Ah, apa iya aku sudah siap jika Vida membagi perhatiannya pada si kecil? Aku rasa, momen berdua ini masih ingin kunikmati lebih lama lagi. Namun, permintaan dari kedua orang tua yang sama-sama tidak sabar lagi untuk menimang cucu, cukup melekat di benak dan hati. Sepertinya, setelah ini aku dan vida harus berdiskusi.

__ADS_1


...🍂🍂🍂...


Mobilku sudah memasuki pelataran sebuah gedung serba guna terbesar di kotaku. Sebelum memasuki bangunan yang cukup besar itu, kuhitarkan pandangan pada sekitar. Jika dilihat dari banyaknya kendaraan yang terparkir di sana, sudah bisa dipastikan bahwa tamu yang hadir pun pasti sangat ramai.


"Ayo, Sayang!" Vida melingkarkan tangannya di lenganku. Sembari tersenyum padanya, kuikuti langkahnya yang kini sudah hampir memasuki pintu depan.


Dan benar sekali terkaanku. Begitu banyak tamu yang hadir dalam acara ini. Aku memang tak mengenal Deyandra dengan baik, namun dengan beberapa kali bertemu saja, aku sudah bisa menilai bahwa anak itu memang sangat sopan dan ramah. Mungkin karena itulah relasinya juga banyak.


Vida sontak menggiringku menuju meja prasmanan. Tidak sah rasanya jika menghadiri sebuah acara besar, namun tidak mencicipi menu yang sudah disajikan. "Kita gak menemui mempelai dulu?" tanyaku pada Vida.


Ada apa dengannya? Biasanya dia tidak seperti ini.


Tidak ingin mendebati istriku, akhirnya kukabulkan permintaannya yang terbilang aneh itu. "Waaah, aku ke meja sana ya, Sayang." Dia langsung melepaskan tangan dari lenganku. Lalu, berjalan tergesa menuju meja prasmanan yang menyajikan nasi gulai.

__ADS_1


Haaa? Bukannya Vida sangat tidak menyukai makanan yang berbau santan? Aneh, ini benar-benar sangat aneh.


Setelah mengambil makanan, kami langsung menuju salah satu meja kosong. Menyantap menu lezat yang kami ambil dalam piring masing-masing. Kemudian bersantai sebentar seraya menikmati ice cream cup yang sudah dibagi-bagikan oleh panitia tadi, hingga tandas.


"Sayang ... kita pulang yuk!" ajaknya yang saat itu kulihat tengah memijit lembut perutnya.


"Kamu kenapa?" Aku yang panik lantas mendekati Vida sekaligus menggenggam tangannya.


"Gak tahu, tiba-tiba perutku mules banget," rengeknya yang tampak begitu serius.


Tanpa banyak tanya lagi, aku langsung memimpin tubuhnya menuju pelaminan untuk menyerahkan kado serta memberikan ucapan selamat dan do'a untuk Deyandra dan pasangannya.


"Wajahmu tampak pucat sekali, Vida." Deyandra langsung fokus pada wajah istriku yang tampak sedang menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Entahlah, tiba-tiba perutnya nyeri," tuturku mewakili Vida yang tak sanggup lagi menjawab.


Setelah mengucapkan selamat, aku langsung pamit untuk membawa Vida pulang.


__ADS_2