
Aku tersentak. Tidak mengerti dengan perkataannya.
Sontak kukikis jarak di antara kami berdua dengan memegang kedua pundaknya. Kutatap wajahnya yang kini sudah bersimbah air duka. "Sebenarnya ada apa, Sayang? Aku gak ngerti maksudmu."
Lagi-lagi ketololanku timbul ke permukaan. Seharusnya aku sudah bisa membaca raut mukanya tanpa harus menagih penjelasan lagi ketika ia merasa terpukul hebat seperti itu.
"A-ada segumpal darah yang berbentuk mirip bulatan daging yang keluar dari tubuhku. Aku takut, Sayang." Dia kembali membenamkan wajahnya ke dalam dada bidangku.
Oh, Tuhan. Sungguh tak kusangka secepat itu Engkau mengambil makhluk mungil itu dari kami. Padahal aku sudah meminta istriku untuk mengambil cuti hanya untuk menghindarkan dirinya dari berat dan sibuknya pekerjaan kantor. Namun, takdir yang menghampiri tidak sejalan dengan harapan hati.
Aku masih memeluk istriku dari samping, mencoba menenangkannya dengan melontarkan beberapa kalimat ajaib, yang aku sendiri pun sadar bahwa itu tak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Tapi setidaknya, kami berdua sudah berusaha untuk menjaganya.
"Sayang ... kita harus ke dokter sekarang. Kita pastikan dulu, apakah janin itu masih berada di dalam sana atau tidaknya." Kusentuh perut Vida yang masih tampak rata. Mencoba menanamkan sugesti positif di dalam benaknya dengan nada bicara yang sangat antusias.
Namun, Vida hanya menggeleng lemah dan terus terisak pilu. "Dia udah gak ada, Sayang. Tadi aku udah tes urin lagi, dan hasilnya negatif." Tangisannya pecah kembali beriringan dengan raungan kedukaan yang mendalam.
Aku yang sudah tak lagi bisa berkata-kata, hanya bisa mencoba untuk sok kuat saja di depan Vida. Padahal, hatiku sendiri rasanya seperti dicabik-cabik hingga berdarah-darah.
__ADS_1
Kugiring tubuhnya perlahan menuju tempat tidur. Kubaringkan ia dengan hati-hati, lalu kembali mendekapnya setelah posisi kami berdua sejajar di atas ranjang. "Kita ikhlaskan aja, ya. Semoga Tuhan segera memberikan penggantinya," tuturku seraya mengecup kening beningnya.
Sakit? Tentu saja, suami mana yang tidak berduka cita ketika janin di dalam rahim istrinya yang baru ia ketahui dalam hitungan waktu empat hari itu, kini sudah tiada?
Bohong.
Bohong kalau aku tidak bersedih hati. Bohong kalau aku tidak ikut menangisi kepergiannya. Bohong kalau aku mengatakan bahwa diriku sedang baik-baik saja. Namun, sebagai seorang kepala rumah tangga, aku harus bisa mengayomi dan melindungi istriku. Memberikan rasa aman dan nyaman ketika dia berada bersamaku dan menjadi penguat di kala lemah datang menghampirinya tanpa belas kasihan. Itulah yang aku lakukan sekarang.
Disesali tidak boleh.
Diratapi juga tidak baik.
...💔...
Setelah kejadian itu istriku tak lagi tampak ceria seperti biasanya. Sikap manja dan senyuman indah yang selalu terpancar di bibir mungilnya, kini sudah menguap bersamaan dengan duka. Celoteh, sifat cerewet, dan banyak bicaranya, semua seakan sirna ditelan masa. Tak ada lagi gurauan dan canda tawa. Yang ada hanyalah linangan air mata setiap harinya.
Semua keluarga inti padahal sering menemaninya ke rumah. Memberikan wejangan positif agar ia kembali bersemangat lagi menjalani hari-hari. Namun, melupakan dan mengikhlaskan itu memang tak semudah mengganti kartu memori pada ponsel. Yang jika hilang atau pun rusak, kita bisa membeli yang baru lagi.
__ADS_1
Tidak. Tidak semudah itu.
Keadaan ini cukup memeras hati dan pikiranku. Bagaimana aku bisa meninggalkannya dalam kondisi yang terpuruk seperti itu?
Maka dari itu, terkadang aku mengantarkan Vida untuk menginap di rumah kedua orang tuanya, jika aku harus pergi ke luar kota.
Dalam kondisi seperti ini, aku sangat khawatir jika meninggalkannya seorang diri. Pikiran bodohku selalu mengira bahwa istriku bisa melakukan hal-hal di luar kendali jika hanya seorang diri.
...💔...
"Terima kasih atas kerjasama dan pengertiannya, Pak." Aku pamit kepada atasan Vida setelah mengantarkan surat pengunduran dirinya.
Vida memang sudah lama menyiapkan surat itu. Namun, karena terhalang cuti dan lain sebagainya, ia sampai tidak punya waktu untuk menyelesaikan urusan pemberhentian diri.
Setelah selesai, aku langsung tancap gas untuk kembali ke rumah. Aku harap keputusan ini adalah yang terbaik untuknya dan juga untuk keluarga kecil kami ke depannya.
...💔...
__ADS_1
"Ibra, sebaiknya kamu ajak istrimu untuk liburan. Siapa tahu, dengan begitu dia bisa sedikit mengurai beban pikiran dan batinnya," ucap mamaku ketika aku baru saja tiba di rumah. Dengan sesekali memandang ke arah Vida yang kini sedang berdiam diri, menatap kosong ke luar jendela.
Aku tersenyum penuh makna. Sepertinya ide mama tidak buruk juga. Sudah kuputuskan bahwa aku akan mengajak istriku bersuka cita. Siapa tahu, dengan memberikannya suasana baru, suasana hatinya pun bisa kembali mencair setelah sekian lama membeku karena hujaman duka.