Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Perang Batin


__ADS_3

Vida masih belum berhenti sampai di situ saja, gerakan erotisnya terus menggerayangi tubuhku hingga aku pun larut dalam sihir cinta. Cinta yang memang awalnya hanya untukku, namun kini sepertinya sudah terbagi dua, pada pelabuhan lain yang melambainya untuk menepi.


TAP


Seketika kewarasanku kembali. Sontak kuhentikan gerakan tangan Vida yang hampir saja menyentuh unggas perkasa yang masih tersembunyi dan hampir meninggi. Kutatap lekat kedua bola matanya yang kala itu terlihat terperangah sekaligus bingung seolah sedang mengatakan kata 'MENGAPA'?


Mengingat ungkapan sayangnya kepada Deyandra tadi, membuat selera bercintaku runtuh begitu saja bak ditelan bumi.


Kutinggalkan ia menuju kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku bahkan tidak turun lagi untuk sekedar mengisi perut. Sulit sekali rasanya berpura-pura bodoh di atas pengkhianatannya. Bagaimana bisa, ia melakukan semua itu di hadapanku, sementara sebagian hatinya sudah ia berikan pada pria selain diriku?


Arrrggghhhhh, ini tidak adil. Aku sudah menjaga hatiku selama ini. Mencintai seorang wanita saja yang kala ini menjadi kekasih halalku. Tapi ... tapi kenapa takdir menamparku lebih keras dari terpaan angin topan? Apa salahku? Apakah aku kurang tampan? Apakah kadar kasih sayangku kurang untuknya? Apakah kebutuhannya tidak kupenuhi selama ini?


Aku bahkan sudah menyerahkan semua yang aku miliki. Hakku adalah haknya. Hartaku adalah hartanya. Hidupku adalah hidupnya juga. Tapi, kenapa dia malah membagi cinta?!

__ADS_1


Erangan di dalam hatiku kian meletup-letup, bagaikan lava panas yang bersarang di dalam perut gunung merapi. Bahkan energi panas luar biasanya bisa melenyapkan benda apa pun yang menyentuhnya dalam sekali kedipan mata, baik itu di sengaja maupun tidak disengaja.


"Sayang ...!"


Tiba-tiba suara itu membuyarkan amukan batin yang berkecamuk di dalam kepalaku. Dengan posisi masih terduduk di tepian ranjang, aku tetap merunduk dengan me-re-mas kuat pucuk kepalaku, untuk melawan rasa nyeri yang memalu telak pusat tubuhku.


"Kamu kenapa? Kalo ada masalah, kamu cerita aja," tuturnya lembut ketika tubuhnya sudah duduk di sampingku. Sentuhan lembut didaratkannya pada punggungku. Aku masih tak mengindahkan kehadirannya, menganggap kata-katanya terbang begitu saja diterpa angin lalu.


Tanpa merespon ucapannya sama sekali, aku bangkit dari ranjang, kemudian berlalu meninggalkan kamar. Aku tak tahu, apa yang sedang Vida pikirkan tentangku saat ini. Yang jelas, aku hanya ingin menyendiri.


Bukan karena tidak gentle dalam hal ini. Namun, waktunya belum tepat jika untuk menyingkap tabir kepalsuan yang sedang ia lakonkan. Berhubung aku belum mempunyai bukti kuat, jadi aku putuskan untuk menenangkan diri saja. Berpisah kamar dari Vida mungkin lebih baik, daripada terus bersamanya sepanjang malam dan mengatakan kalimat menyakitkan yang dia sendiri tidak mengerti.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


"Sayang, tunggu!"


Vida menyusulku dengan langkah tergopoh-gopoh ketika aku sudah memasuki mobil.


"Kamu mau kemana? Gak sarapan dulu?" tanyanya seraya menundukkan kepalanya di muka jendela mobil. Saat itu, aku masih memanaskan mesin mobil, sebelum memulai aktifitas hari ini.


"Aku mau ke luar kota. Nanti bisa sarapan di resto," jawabku sekenanya tanpa memandang wajah Vida.


"Kamu kenapa, sih? Kenapa sikapmu berubah dingin seperti ini? Apa kamu tidak menyukai kejutan dariku tadi malam? Jika memang iya, aku minta maaf, Sayang." Dia masih berusaha mendapatkan perhatianku kembali. Namun, hatiku cukup kalut, sangat sulit rasanya, walau hanya untuk mengukir senyuman.


"Aku berangkat dulu, jangan tunggu aku! Karena aku tidak akan pulang."


Setelah mengatakan kalimat pedas itu, aku langsung tancap gas dan meninggalkannya yang masih mematung di tempat dengan perasaan cemas. Bisa kulihat dari kaca spion di hadapanku, kalau dia sangat terpukul dengan bahasaku.

__ADS_1


__ADS_2