Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Kilas Balik 5


__ADS_3

Gerakanku tertahan ketika berpadunya kedua netra. Kemudian, mengayunkan langkah, dengan niat untuk menjelaskan tentang adegan yang sudah ia saksikan beberapa menit sebelumnya. Namun, langkahku terhenti ketika dia memajukan telapak tangannya dengan makna tak sudi jika aku mendekatinya.


Ibra ... dengan wajah semakin berlumur rasa kecewa, sepertinya tak akan bisa lagi membuka hati atau sekedar bertoleransi ria. Sepengetahuanku, kesalahan sebelumnya saja masih melekat basah di dalam hatinya, kini ditambah lagi dengan pemandangan yang tak seharusnya terjamah oleh kedua matanya.


Ah, semakin buruklah aku ini dalam dekap pandangannya. Tanpa permisi lagi, kristal bening itu kembali menjamah kedua pipi. Melihat Ibra yang kembali mengayunkan langkah ke dalam dengan ekspresi wajah penuh rasa benci, membuat tubuhku hanya bisa terkulai lemah di atas susunan paping berbentuk persegi.


Maafin aku! Hanya itu cicitan sesalku.


Vazo dengan sigap menghampiriku dan hendak menolongku untuk bangkit. Namun, aku tak lagi mempunyai kekuatan untuk sekedar menopang berat tubuh. Kegetiran dan keterbuangan ini sungguh sukses menguliti semangat hidupku.


Aku kalah.


Aku hancur.

__ADS_1


Aku tak lagi dianggap.


"Kamu pulang aja! Aku hanya ingin sendiri," tuturku tanpa bisa berekspresi lagi. Hanya genangan air luka saja yang masih betah membasahi pipi.


"Tapi ... aku-" Vazo tak lagi bisa meneruskan dialognya ketika tanganku memberikan isyarat untuk berhenti bicara. Mau tidak mau, akhirnya ia meninggalkan pelataran rumah mama, mungkin dengan sejuta perasaan terabaikan yang sama getirnya.


...💔...


Tungkaiku melangkah gontai menyusuri tepian jalan. Silaunya lampu kendaraan yang berlalu lalang seolah tak lagi tampak di indera penglihatan. Duniaku sudah menghitam. Seolah tak ada lagi seberkas cahaya pun yang ingin menyumbangkan sinarnya.


Ketika pikiran semakin kalut, kucoba untuk menyeberangi jalan raya yang padat akan kendaraan itu tanpa takut terjemput maut. Lebih tepatnya, aku memang ingin mendahului takdir. Namun, baru saja kakiku melangkah pada ayunan kedua, tiba-tiba kurasakan ada sebuah tangan yang sukses menahan pergerakanku dengan sangat tangkas.


Tentu saja aku berontak, tak ingin rencanaku gagal karena kebaikan hatinya. Tanpa mengalihkan pandangan ke arah sosok tersebut, aku tetap bersikeras untuk melangkah maju. Namun, tangan kokoh itu tak juga mau mengenyahkan cekalannya dari lengan kiriku. Hingga akhirnya, ia menarik tubuhku paksa dan membuatku terjungkal ke belakang, kemudian mendarat sempurna di atas tubuhnya.

__ADS_1


Aku mendongak di atas keterperanjatan ini. Sosok itu tak terdengar mengaduh sama sekali. Ia malah tersenyum mengembang di saat sepasang netraku bertubrukan dengan miliknya. Apakah dia menganggap ini adalah scene romantis selama hidupnya?


Sepersekian detik kemudian, aku mulai tersadar. Kupukul beruntun dada bidangnya dan beranjak dari posisi yang menurutku tidak semestinya.


"Akhirnya ... kita bisa bertemu dalam kondisi yang tak terduga. Kamu terlalu berharga jika harus mati dengan cara seperti itu, Vida!" tuturnya dengan seringai menggoda.


Aku yang memang sangat membenci tatapan itu lantas melengos dan hendak meninggalkannya. Namun, lagi-lagi ia mencengkeram erat pergelangan tanganku. Sehingga sukses membuatku memutar rotasi pandang ke arahnya dengan tatapan tajam seperti biasa. Tatapan penuh kebencian yang selalu kutampilkan jika harus berhadapan dengan makhluk yang selalu Deyandra sebut dengan julukan 'Pria Gila'. Padahal pria ini adalah atasannya.


Dia ... hanya tersenyum enteng, lalu menyeretku paksa memasuki mobilnya. "Baron, lepaskan aku!" erangku ketika tubuhku sudah sempurna memasuki kursi di samping kemudinya. Ia tak mengindahkan pekikanku yang sepertinya sudah sukses memecahkan gendang telinga. Lalu, mengitari mobil dan duduk tepat di sampingku.


"Daripada mati dengan cara mengenaskan, lebih baik kamu tenggelam dalam kubangan kenikmatan," tuturnya seraya menyentuh daguku sekilas, lalu melajukan kendaraan.


Aku yang tak bisa lagi melarikan diri, hanya mampu termangu dalam keheningan. Menatap ke luar jendela dengan segenap perasaan yang tak bisa lagi untuk digambarkan.

__ADS_1


...POV LIANA ALVIDA OFF...


...FLASHBACK OFF...


__ADS_2