Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Hanya Mimpi 2


__ADS_3

Aku mencoba mengerjap berkali-kali, berusaha mengondisikan pandanganku yang mungkin sedang dalam mode rabun. Namun, tetap saja, kenyataan di depan mata membuatku sedikit bergidik ngeri, kalau-kalau sosok wanita itu bukanlah makhluk bernyawa sepertiku.


Dengan segenap keberanian di sela-sela tabuan rebana di dalam dada, kuturuni satu persatu anak tangga yang kini terlihat seperti jurang kelam menuju kengerian yang hakiki. Tidak, aku tidak boleh berpikiran yang bukan-bukan. Dia pasti manusia biasa, sama sepertiku. Namun, mungkin dia hanya kelaparan dan kebetulan lewat dan menumpang makan.


Ah, aku mulai berpikiran polos. Namun, hanya itu cara satu-satunya agar aku bisa meneruskan langkah dan memastikan dengan mata kepala terbuka. Apakah benar, yang sedang duduk di kursi sana adalah manusia pada umumnya?


Beberapa detik kemudian, langkah terakhirku sudah menjejaki lantai satu. Tinggal beberapa tapakan lagi menuju ruang makan. Bulu kudukku mulai meremang tatkala mendengar suara isakan pilu yang berasal dari arahnya.


JLEB

__ADS_1


Apa dia masih merasa lapar? Jika memang begitu, aku bisa membantunya untuk mendapatkan porsi lebih. Namun, ketika aku mulai mengayunkan langkah selanjutnya. Sosok itu juga bersamaan menoleh ke arahku. Aku sedikit tersentak. Bukan karena takut, namun lebih kepada tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena tertutupi oleh geraian rambut hitam nan lebatnya.


Tanpa melanjutkan langkah lagi, aku hanya membeku pada posisi. "Siapa kamu?" tanyaku dengan nada penuh tuntutan. Kedua netraku terus mengekorinya yang tak bergeming sedikit pun. Bukannya menjawab, ia malah kembali mengeluarkan suara tangisan pilu versi menyeramkan yang pernah kudengar seumur hidup.


Aku pun mulai menyadari ada hal yang tidak beres. Kulit pucat yang tampak pada tangan dan suara menggemanya sudah cukup membuktikan bahwa dia bukanlah manusia biasa.


Baiklah, kini pandanganku berpindah pada kedua kakinya yang tak tampak sama sekali. Mungkin menggantung di balik gaun putih yang tampak agak sedikit kotor dalam penglihatanku. Hal itu, juga bisa menambah asumsi kuat bahwa dia bukanlah makhluk bernyawa.


Sama seperti sebelumnya, ia masih tersedu-sedu tanpa ingin mengungkapkan sesuatu. Apakah pendengarannya sedang terganggu? Atau mungkin bahasa makhluk ghaib itu berbeda dengan bahasa manusia? Ah, kurasa bukan itu penyebabnya.

__ADS_1


Kugerakkan kakiku perlahan menuju sebuah kursi yang berada tepat di hadapannya, lalu mendudukkan diri. Ia langsung tertunduk malu, namun tetap dengan geraian rambut yang menutupi keseluruhan wajahnya. Dilihat dari jarak sedekat ini, postur tubuhnya benar-benar sangat familiar. Namun, ah, aku tak ingin mempercayai spekulasi apa pun bentuknya. Kecuali sudah terpampang nyata di depan mata.


"Aku siap mendengarkan apa pun keluhanmu," tuturku lagi, memancingnya untuk mau membuka suara.


HENING


"Tolong aku, Ibra!" Dengan nada menggema suara itu seketika menabrak gendang telingaku, masih dalam dekap isak tangisnya. Aku tersentak, hampir terjungkal dari tempat duduk. Suaranya, benar-benar suara yang paling tidak asing bagiku.


DEG

__ADS_1


"Vida ...!"


Aku tersentak dengan posisi tubuh yang seketika terduduk. Keringat bercucuran di sekitar pelipis dan dahiku. Untuk pertama kalinya, aku memimpikan sosok Vida. Dan itu, terasa benar-benar nyata.


__ADS_2