
...POV LIANA ALVIDA PART 5...
Lantas bagaimana dengan Ibram? Bisa kupastikan jika Ibram itu benar-benar darah daging Ibra. Sebab, setelah mengalami keguguran, aku tak pernah berhubungan dengan siapa pun kecuali dengannya. Ditambah lagi, kerena kondisi yang tidak memungkinkan untuk bepergian.
Kalian ingat, dimana Ibra mengajakku berlibur pasca musibah kehilangan itu? Ya, mungkin saat itulah Ibram tercetak di dalam rahimku. Baiklah, intinya kalian tidak perlu meragukan tentang status Ibram, karena di dalam dirinya benar-benar mengalir darah Ibra.
Sementara tentang rahasia kematian Vazo, aku akan menceritakannya sedetil mungkin.
Malam itu, aku memang memintanya untuk pulang terlebih dahulu ketika aku masih berada di halaman rumah mama. Berpura-pura meratapi nasib dan memelas di depan Ibra. Tujuanku adalah agar Vazo tidak perlu menyaksikan dan mengetahui rahasia yang selama ini juga aku tutupi darinya. Namun, perkiraanku meleset, karena ternyata Vazo membuntuti dan tidak membiarkanku sendirian.
Ketika mobil Baron sudah memasuki basement yang terdapat dalam gedung apartemennya, tiba-tiba saja mobil Vazo juga terparkir di sana--tepat di hadapan kami.
Dengan wajah yang sudah memerah, dia lantas keluar dari kendaraan, dan menghampiri kami berdua. Aku yang kala itu tidak tahu harus berbuat apa, hanya memilih diam tanpa kata. Sementara, Baron dia langsung menghalangi Vazo yang kala itu menyeretku untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Hei lepaskan ...! Dia milikku!" klaim Baron seraya menghentakkan tangan kokoh Vazo hingga terlepas dari lenganku.
__ADS_1
"Siapa bilang dia milikmu, dia adalah wanitaku!" seru Vazo yang tak mau kalah dengan wajah menantang sekaligus tidak terima.
"Tidak bisa, mulai sekarang tidak ada yang boleh membawanya lagi, selain aku!" Baron kembali bersuara seraya menatap tajam ke arah Vazo. Kedua tangannya juga sudah mencengkeram kemeja yang Vazo kenakan, setelah mendorongku pelan sedikit menjauh dari mereka.
Merasa tidak terima, akhirnya tanpa bisa diprediksi pria yang sudah lama menjadi sahabatku itu mengayunkan sebuah pukulan yang mengenai wajah Baron--telak. Apalagi, sampai membuat tubuh Baron terhuyung ke belakang.
"Bang-sat!!!" radang Baron dengan gerakan maju, berniat membalas pukulan. Namun, gagal karena Vazo dengan gesitnya menghindar. Kemudian, Baron kembali menyerang sehingga Vazo tak bisa lagi mengelak, karena kepalang kena. Akhirnya, dia tumbang karena Baron tak memberikan kesempatan sedikit pun baginya untuk menyerang balik.
Sedang aku ... yang sedari tadi hanya menjadi penonton, sontak memekik dan menarik tubuh kekasih gelap sekaligus partner bisnisku itu agar menghentikan aksi bengisnya.
Leherku seketika berotasi ke arah Baron, kemudian bangkit dan memukuli dadanya. Walau bagaimana pun Vazo adalah sahabatku. ada rasa empati yang menyelinap ke dalam hati ketika dia harus babak belur seperti itu.
"Dia masih hidup, kamu tidak perlu khawatir," tutur Baron lalu menarik lenganku untuk meninggalkan Vazo yang sudah tak sadarkan diri.
"Kalian urus dia!" titah Baron kepada seseorang di balik sambungan.
__ADS_1
...💔...
Keesokan harinya
"Dia sudah meninggal."
Baron dengan kaki terlipat, duduk di atas sofa seraya menyalakan pemantik dan mengarahkannya pada sepuntung tembakau linting yang sudah bertengger di antara bibirnya.
Aku hanya bergeming, menatap nyalang ke luar jendela kaca. Bukannya terkejut, aku hanya menyunggingkan senyuman enteng--merasa kasihan dengan nasib Vazo. Hal ini sudah kuperkirakan sebelumnya. Lambat laun orang-orang terdekatku pun pasti akan menjadi korban. Namun, aku tak boleh berubah menjadi melankolis, karena ini sudah terencana sebelumnya.
"Baik, akan kuurus segala administrasinya. Pengiriman mungkin akan dilaksanakan besok pagi," tuturku setelah beberapa saat menutup mulut. Aku lantas menghambur ke arah Baron dan duduk di pangkuannya, ketika ia melambaikan tangan ke arahku.
Dengan cekatan, ia mematikan tembakau lintingnya, lalu melahap bibirku dengan begitu lembut. Tentu saja aku membalasnya dengan suka cita. Seraya mengalungkan kedua tanganku di lehernya--kembali lagi--kami berdua hanyut dalam buaian kenikmatan surga dunia yang semakin hari semakin membuat kami tidak bisa untuk menghentikannya.
...POV LIANA ALVIDA END...
__ADS_1