Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Keberuntungan 2


__ADS_3

Ketegangan yang tadinya menyelimuti ruangan ini seketika menguap entah kemana. Setelah membantuku melepas ikatan sandra, Sidqia lantas bangkit dan menghampiri Vida. Wanita itu masih tampak meringis dan menjerit kesakitan. Tanpa permisi Sidqia langsung memasangkan satu borgol pada dua penjahat itu.


"Kalian pikir semudah itu menangkap kami?" Baron kembali menyeringai dengan senyuman yang sulit diartikan.


Aku dan Huda tampak saling berpandangan, ketika beberapa manusia berpakaian serba hitam memasuki ruangan dan membentuk formasi lingkaran. Mereka mengepung kami seraya menodongkan senjatanya masing-masing.


Oh, tidak! Baru saja aku keluar dari mode menegangkan. Namun, sekarang mode itu kembali lagi tanpa memberikan kode sama sekali sebelumnya.


"Bagaimana ini?" bisikku pada Huda, yang sudah merasa terancam dengan kondisi.


"Ikuti saja permainannya," jawabnya langsung tanpa memandangku.


Sementara Sidqia, wajahnya tampak lebih tenang. Terkadang aku bingung sendiri dibuatnya. Apa karena gadis itu terlalu terbiasa dengan hal-hal berbahaya, sehingga membuatnya tak memiliki rasa takut sama sekali?


"Adikmu luar biasa," tuturku kembali pada Huda di sela-sela pengepungan.


"Berhenti menatapnya!" hardik Huda yang sepertinya sangat tidak suka jika aku memperhatikan saudarinya itu.

__ADS_1


"Hei ... kenapa gelagatmu seperti seorang kekasih yang sedang cemburu?" tanyaku seraya mengernyit keheranan.


Pria berkulit putih itu terdengar menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaanku. Seolah sedang tertangkap basah melakukan sebuah kesalahan besar, tingkah Huda tampak sedikit gerogi.


"Aku ini kakaknya, terang saja aku harus melindunginya dari rayuan lelaki hidung belang! Contohnya dirimu," kilahnya seakan berusaha untuk memutus tali curiga yang aku kaitkan padanya.


Namun, setelah dipikir lagi jawaban seperti itu terdengar begitu lumrah dan masuk akal. Tanpa banyak bicara dan mendebatnya lagi, aku hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Hei ... kalian!" Cepat ringkus mereka!" titah Baron pada cecunguknya dalam kondisi tangan yang masih terborgol, dan tubuh yang tergeletak di lantai. Sedang Vida ... terlihat tersenyum penuh kemenangan, sepertinya dia sedang terbang ke awang-awang. Merasa di atas angin--mungkin. Rintihan dan erangan atas peluru yang mengenai lututnya tadi tiba-tiba hilang bagai ditelan bumi.


"Kalian! Kenapa masih mematung? Cepat tangkap mereka bertiga dan masukkan ke penjara bawah tanah, karena aku tidak ingin kehilangan pundi-pundi dolar yang berasal dari organ tubuh mereka," tutur Baron lagi dengan seringaian licik. Melihat semua anak buahnya yang tak kunjung bergerak dari posisi, akhirnya lelaki itu bangkit dan otomatis menarik tubuh Vida juga bersamanya.


Aku hanya bisa memandangi wajah bos dan anak buahnya itu bergantian. Merasa aneh dengan sikap mereka semua. Sepertinya ada yang tidak beres.


PROK PROK PROK


Tiba-tiba Sidqia menepuk tangannya sebanyak tiga kali, dan membuat semua senjata yang dipegang oleh anak buah Baron tadi, berpindah arah.

__ADS_1


Hah???


Aku hanya bisa melongo menyaksikan ketertegunan Baron dan Vida yang terkesan bersamaan. Mungkin mereka juga merasakan keanehan di sini, begitu juga dengan aku.


"Hei ... kalian! Apa kalian sudah lupa ingatan?! Kalian kerja untuk siapa?!" hardik Baron sekali lagi dengan mata berapi-api. Menghujamkan tatapan tajam ke arah pria-pria berseragam serba hitam tersebut. Tentu saja, geram terhadap kelakuan orang-orang yang selama ini bekerja untuknya.


"Mereka tidak lupa ingatan," ucap Sidqia dengan suara yang cukup menggelegar. Senyuman tipis terukir di kedua sudut bibirnya.


"Tapi ... mereka memang orang-orang kepercayaan kami," sambung Huda yang membuat mulut Baron dan Vida semakin melebar. Seolah-olah ekspresi keduanya menyatakan sebuah pertanyaan yang sama 'BAGAIMANA BISA?'


Jangan lupakan aku yang saat ini sedang memasang senyuman kagum atas rencana dan kerja bagus dari kedua bersaudara itu.


Luar biasa!


...💔...


Kini ... sepasang insan tak berakhlak itu sudah dibawa ke kantor polisi. Tak ketinggalan juga, orang-orang kepercayaan mereka yang sebelumnya sempat dilumpuhkan oleh para anggota kepolisian bawahan Huda dan Sidqia.

__ADS_1


Berdasarkan bukti-bukti yang sudah terkumpul selama ini, ditambah lagi dengan penemuan jasad Vazo, semakin memperjelas tindak kriminalitas yang mereka jalankan.


Aku, Deyandra, dan Ranti, juga ikut ke kantor polisi dan berperan sebagai saksi atas kasus ini. Entah sudah berapa banyak manusia yang menjadi korban keganasan dan kebejatan n-a-f-s-u mereka berdua, aku pun belum begitu mengetahuinya. Namun, untuk saat ini aku sudah bisa bernapas lega, karena akhirnya tindakan biadab mereka terungkap sudah. Tinggal memikirkan bagaimana caranya menyampaikan fakta mengejutkan ini kepada pihak keluarga.


__ADS_2