
Di bawah guyuran air, dua pasang suami istri menuntaskan hasrat masing-masing dalam balutan kenikmatan yang tak tertandingi. Mulai dari posisi berdiri, setengah berdiri, duduk, berhadapan, bahkan membelakangi, semuanya tak luput dari percobaan kami. Setidaknya, pergulatan yang terasa dingin namun memberikan sensasi berbeda dari sebelum-sebelumnya itu, cukup membuat kami sesekali tertawa geli.
"Au ... jangan gitu dong, Sayang. Posisi ini kurang enak, hehehe!"
Ya, begitulah salah satu contoh dialog yang tercetus dari sepasang bibir Vida. Ia akan kembali mengatakannya jika posisi yang aku tawarkan kurang pas dan merugikan dirinya. Maka, kami pun tak segan-segan mencoba posisi ekstrim lainnya, yang bahkan tidak ada dalam panduan kitab kamasutra.
Dan pastinya ... untuk pertarungan kali ini, kami sama-sama unggul dengan skor seri. Mengerang dan mendendangkan nama masing-masing ketika puncak tertinggi dari kenikmatan menghampiri diri masing-masing.
...💔...
Vida tampak masih tertidur pulas di pembaringan, ketika aku berusaha dengan susah payah membuka mata karena sangat terusik oleh getaran ponselnya yang tadi ia letakkan di samping bantal.
Kuraih benda pipih itu, lalu melihat jam analog yang tersedia. "Jam satu malam," gumamku dengan suara khas orang bangun tidur. Terang saja, kami tiba di tempat ini tepat pada pukul empat sore. Setelah melewati adegan basah-basahan tadi, tak terasa kami berdua tertidur dan bergelung di dalam mimpi masing-masing.
__ADS_1
Namun, siapa yang menghubungi istriku malam-malam begini? Dengan pandangan yang masih kabur, kucoba membaca nama yang tertera di layar ponsel. Walaupun, tidak terlalu jelas namun aku masih bisa membacanya. "Yandra," lirihku tak habis pikir. Keningku pun sontak berkerut dalam. Mengingat apa alasan pria beristri itu--menghubungi istri pria lain--tengah malam seperti ini?
Tanpa berpikir dua kali lagi, kugeser tombol hijau bulat ke atas, lalu menempelkan benda itu ke telinga tanpa mengeluarkan suara.
"Kamu kemana aja? Aku telepon-telepon dari tadi, tapi kami gak angkat. Pesanku juga gak kamu balas. Kamu baik-baik aja, 'kan? Kamu dimana, sih? Tadi aku samperin ke rumah, rumahmu sepi."
Berondongan kalimat cerita berseling pertanyaan dari Deyandra sukses membuat dadaku berdegup kencang. Kenapa ia sekhawatir itu terhadap istriku? Kenapa dia tidak melewati malam indah saja bersama istrinya?
Aku masih tak membuka mulut. Kubiarkan ia bermonolog sendiri tanpa memberikan tanggapan.
GLEK
Aku menelan ludah. Apa-apaan ini? Bahkan rasa kantukku sekarang sudah terbang seketika mendengar ungkapannya.
__ADS_1
"Vida ...!" serunya lagi, yang belum juga mendapatkan respon apa pun dariku. "Oke, kalo kamu mau aku yang jadi korban amukan pria gila itu, teruslah mengunci mulutmu seperti ini ...!" lanjutnya dengan nada bicara yang begitu kacau. Kalimat yang baru saja ia cetuskan, seolah menjelaskan bahwa ia sedang berada dalam kondisi yang sangat membahayakan, jika Vida tak segera memberikan pada pria yang dia maksud.
Tetapi, siapa pria gila itu?
"Vida ... bicaralah!" pintanya dengan suara sedikit memelas.
Aku yang sudah kepalang penasaran, lantas menanggapinya. "Vida sudah tidur, panggilanmu benar-benar mengganggu tidurku!"
Setelah aku mengatakan hal itu, tak terdengar suara apa pun dari seberang sana? Apakah Deyandra merasa seperti disambar petir di tengah malam, setelah mengetahui bahwa aku yang mengangkat panggilannya?
Sepersekian detik kemudian.
TUT ... TUT ... TUT ....
__ADS_1
Yah, dia mematikan sambungannya secara sepihak. Sial, aku bahkan belum sempat mengajukan deretan pertanyaan yang sudah tersusun di dalam kepala. Tentu saja, kalimat demi kalimat yang Deyandra sampaikan tadi, sukses membuatku kembali menaruh kecurigaan.