
Keempat roda mobilku sudah menapaki halaman parkir sebuah warkop. Huda, memintaku datang ke tempat ini setelah aku menyatakan ingin bertemu dengannya. Langkahku mengayun memasuki pintu, lalu mengedarkan pandangan guna mencari keberadaan sahabat lamaku itu.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Dapat! Itu dia. Duduk di bagian outdoor warkop yang berseberangan dengan kaca pembatas. Aku tahu, pasti dia memilih kursi itu agar bisa menyesap asap kematian yang sesekali dilakukannya jika sedang ingin. Seraya menggelengkan kepala pelan, kutambah langkah untuk menghampirinya.
"Udah lama?" tanyaku mencoba berbasa-basi. Padahal aku sudah tahu bahwa dia sudah standby di sini ketika Ranti baru saja tiba di rumah mama tadi.
Dia tak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya mengedikkan kedua alisnya sebagai tanda bahwa ia mengiyakan pertanyaanku walaupun dengan ekspresi wajah yang sedikit malas.
Aku lantas menghela napas sejenak, sebelum akhirnya mendudukkan diri di hadapannya. "Maaf, membuatmu menunggu lama." Dengan segenap perasaan menyesal kuungkapkan kalimat itu untuk melunakkan hatinya yang mungkin sedang merasa dongkol.
__ADS_1
"Santai aja, kayak gak pernah nyuruh aku nunggu aja," kelakarnya yang membuatku sukses menggaruk kepala walaupun tidak merasa gatal sama sekali. Pasalnya, ia sudah berhasil menyentilku--dengan mengingat momen masa remaja kami yang sudah berlalu.
Dulu, aku memang kerap kali membuatnya menunggu lama jika kami mempunyai janji untuk bermain atau melakukan sesuatu. "Ah, masih diingat aja." Air mukaku mulai tampak tidak enak. Dan hal itu sukses mengundang gelak tawa dari Huda.
Namun, sepersekian detik kemudian pandanganku mulai teralihkan pada sebuah bungkusan yang diletakkannya di atas meja. "Itu apa, Hud?" tanyaku yang tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
"Oh, ini ... barang titipan Sidqia," jawabnya yang membuatku hanya manggut-manggut tanpa melanjutkan pertanyaan. Tadinya aku sempat berpikir itu adalah barang bukti tambahan yang ia temukan.
Huda tampak terdiam sejenak, kemudian menggeser kursinya agar berada di sampingku. "Besok malam kami akan menyergap pelakunya," bisiknya yang membuatku sedikit tersentak. Melihat ekspresi wajahku yang mulai bingung, dia langsung melanjutkan dialognya, "Kamu tenang aja, Sidqia sudah memasang berbagai kamera di markas mereka."
Aku kembali tersentak setelah mendengar kata markas. "Mak-maksudmu markas siapa?" Aku mengerutkan kening dalam-dalam. Kalimat Huda benar-benar membuatku bingung bukan kepalang.
"Kalau begitu, aku ikut!" pintaku yang lebih kepada nada tidak ingin dibantah.
"Kamu yakin?" Huda tampak menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Seratus persen yakin," tuturku dengan tatapan tegas ke arahnya. "Aku benar-benar ingin melihat wajah pelakunya."
...💔...
Aku baru saja tiba di rumah. Samar-samar terdengar suara Ibram bersama papa dan mama di ruang keluarga. Mulut mungilnya yang sudah bisa berkicau ria semakin menambah keimutan dan kelucuannya.
"Anak papa belum tidur rupanya?" Aku mendudukkan diri tepat di samping mama yang sedang membopong tubuh putra kecilku itu. Setelah mengelus sekilas pipi gembulnya, tak lupa kudaratkan kecupan manja juga di sana.
"Gimana perkembangan penyelidikan kasusnya Vida, Ib?" Papa mulai bertanya.
"Besok malam mereka akan menangkap pelakunya, Pa." Aku langsung menumpukan perhatianku pada lelaki paruh baya yang keningnya sudah tampak sedikit keriput itu, namun tetap terlihat gagah dan berwibawa.
"Berarti mereka sudah menemukan pelakunya."
"Positif, Pa."
__ADS_1
"Kamu sudah dibocori informasinya?"
"Tidak, Huda hanya mengatakan informasi yang saat ini perlu kita ketahui."