
Aku memang buruk dalam hal berkomunikasi, tapi aku bukanlah sosok yang bisa berdiam diri begitu saja, jika sudah dikhianati. Setelah Vida pergi, aku pun langsung meraih kontak mobil beserta ponselku untuk membuntutinya.
Dia lebih memilih untuk memesan ojek online ketimbang diantar olehku. Baiklah, aku tidak masalah. Dengan begitu, akan lebih mudah bagiku untuk bisa membuntutinya.
...💔...
Mobil yang kukendarai masih melaju santai mengimbangi pergerakan taxi online yang hanya berjarak sepuluh meter di hadapan. Aku sengaja agak memasang jarak, karena khawatir kalau-kalau Vida menyadari keberadaanku.
Lima belas menit kemudian, taxi itu tampak menepi, dan memasuki pelataran sebuah restoran bernuansa chinese. Apa iya, mereka berdua akan memadu rindu di tempat terbuka seperti ini?
Aku mengernyit keheranan, sembari terus memantau keadaan. Setelah mobil yang Vida tumpangi telah berpindah tempat, kucoba sedikit mendekat, tanpa memasuki area parkiran restoran. Kupanjangkan leherku untuk melihat ke dalam. Sangat mudah bagiku untuk mengawasi Vida hanya dari luar, karena dinding restoran itu di-designed full glasses.
__ADS_1
Kenapa pria itu masih belum muncul juga? Aku mulai tidak sabar ingin membuktikan kecurigaan. Namun, beberapa menit kemudian, muncullah seorang wanita dengan gaun selutut berwarna cokelat tua, menghampiri Vida, dan duduk di hadapannya.
Lah, kenapa jadi tante-tante yang muncul? Apa aku terlalu berburuk sangka kepada istriku? Tapi, bukankah tadi itu yang kulihat benar-benar Deyandra?
Lama ku perhatikan pergerakan mereka berdua, hingga menginjak menit ke sepuluh, keduanya masih asik berbicara. Bisa kulihat juga Vida tampak menjelaskan sesuatu dengan menunjukkan beberapa lembar buku yang persis seperti katalog.
Hingga menginjak menit kedua puluh, tidak ada tanda-tanda keberadaan Deyandra di sana. Agaknya, acara pengintaianku kali ini kurang tepat. Mereka tidak bertemu di sana. Ketika aku masih fokus pada Vida, tiba-tiba ponselku berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk.
"Kamu dimana? Anak-anak udah nungguin kamu dari tadi buat latihan, Ib." Fedi terus nyerocos dengan suara nyaring yang sukses menembus rongga telingaku. Mungkin jika ponsel ini tidak segera kujauhkan, gendang telingaku bisa robek begitu saja.
Ah, aku mengepalkan sebelah tangan seraya memejamkan mata. Pengintaian kali ini membuatku lupa akan agendaku sendiri. Kuberikan tanggapan segera pada Fedi. Memutar balik mobilku, kemudian menuju tempat latihan kami.
__ADS_1
...💔...
Saat aku kembali dari latihan, istriku sudah berada di rumah. Dia sudah menyiapkan berbagai jenis menu untuk makan malam kami. Namun, ada yang berbeda dari dirinya malam ini. Dia tampak berseri-seri dalam balutan gaun ketat berwarna merah marun tanpa lengan. Rambut panjangnya di sanggul satu, kemudian anak rambutnya sengaja dijatuhkan pada dua sisi di dekat telinga.
Definisi, surga!
Ketika melihatku memasuki ruang makan, ia langsung mendekatiku. Menenteng segelas anggur merah dalam genggaman tangannya. Ketika tubuhnya berdiri sejajar denganku, sebelah tangannya lantas bergerak perlahan melingkari leherku. Sebelah tangannya yang menenteng gelas sloki, diarahkannya ke wajahku. Sepertinya ia ingin aku menyesap nikmatnya minuman menyegarkan itu.
Namun, karena aku tak kunjung membuka mulut, Vida malah mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Apa harus bibirku yang bekerja, sehingga kamu mau membuka mulutmu, Sayang?"
Aku tersenyum geli mendengar ocehan tak jelasnya. Ia tampak sekali sedang menggodaku kali ini. Entah, apa yang sedang ia rencanakan, namun aku masih saja berpura-pura bodoh seakan tidak mengetahui fakta tak bermartabat yang sedang ia sembunyikan.
__ADS_1