Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Sudah Seharusnya


__ADS_3

Setelah selesai memberikan kesaksian, aku, Deyandra, dan Ranti ... kami memutuskan untuk undur diri dari kantor polisi. Tak lupa pula kuucapkan banyak terima kasih kepada Huda dan Sidqia yang sudah sukses mengungkap kasus ini.


"Kasi tahu aku, kalo kamu akan kembali ke kotamu. Kita bisa atur pertemuan sebelum itu," tuturku pada Huda seraya mendaratkan sebuah tepukan macho di pundaknya.


"Baiklah, hati-hati di jalan, aku masih mengkhawatirkanmu," respon Huda dengan ekspresi mengejek yang membuat bulu kudukku meremang. Kata-katanya itu membuatku sontak menarik badan.


"Jangan membuatku bergidik ngeri, kata-katamu itu seperti seseorang yang memiliki kelainan, tahu?"


"Kelainan apa?"


"Lain arah!"

__ADS_1


Aku langsung kabur dari hadapannya sembari tergelak karena tak tahan melihat ekspresi kesalnya, lalu memasuki taksi yang sudah dipesan sebelumnya. Karena memang aku tak membawa mobil kala itu, tak enak hati juga jika harus merepotkan Huda lagi untuk mengantarku pulang. Sedangkan, Ranti dan Deyandra sudah terlebih dahulu memasuki taksi mereka masing-masing.


...💔...


"Papa tidak menyangka, jika Vida bisa berbuat sekotor ini," sesal ayah mertuaku ketika kami semua melakukan pertemuan keluarga. Dia tertunduk malu seraya memijit kedua pelipisnya.


Dua hari setelah kejadian penangkapan itu, aku memutuskan untuk mengabari mereka semua tentang fakta yang memang terbilang pahit jika untuk diketahui. Kak Catur dan mama mertua juga tak kalah kecewanya setelah mendengar penjelasan dariku. Mereka semua terlihat seperti orang kebingungan sekaligus frustrasi dengan keadaan. Takdir ini, begitu menyentak hati. Takdir ini juga begitu menekuk perasaan, sehingga terjadi baku hantam yang begitu menyiksa di rongga dada.


"Pa, haruskah kita menghadiri persidangannya nanti?" tanya Kak Catur setelah beberapa saat terdiam. Papa mertuaku masih bergeming. Menatap tunduk kepingan marmer yang dipijaki oleh kedua kakinya.


"Pa ...!" Kali ini mama mertuaku yang angkat bicara seraya menyentuh lembut pundak sang raja. "Walau bagaimana pun Vida itu tetap putri kita, Pa. Kita tidak tahu hukuman seperti apa yang akan ia terima setelah ini. Tapi, sebelum hal itu terjadi, izinkan mama agar bisa memandangnya untuk yang terakhir kali, hiks ... hiks ...." Mama mertua langsung terisak sejadi-jadinya.

__ADS_1


Hati seorang ibu, tidaklah sama dengan hati seorang ayah. Walau sebesar apa pun kesalahan yang diperbuat oleh putra dan putrinya, seorang ibu pasti dengan mudahnya memaafkan.


"Kalian pergilah, aku tidak akan hadir dalam persidangan itu!" tegas papa mertuaku, yang membuat Kak Catur dan mama mertua tertunduk sendu. Mungkin butuh waktu bagi papa mertua untuk bisa menerima kesalahan Vida yang dinilainya begitu fatal. Bukan hanya kecewa, tetapi beliau juga pasti merasakan malu yang teramat sangat ke depannya.


...💔...


"Kamu sudah urus perceraianmu?" Mama bertanya ketika kami sudah tiba di kediaman sendiri.


"Sudah, Ma. Sedang diproses," jawabku seraya menekuk tubuh di atas sofa ruang tamu dengan kepada mendongak.


"Mama harap semuanya cepat kelar, biar kamu bisa memulai hidup normal seperti biasanya," celetuk mama seraya berjalan menuju dapur. Sepertinya ia akan menyiapkan makan siang.

__ADS_1


Mungkin karena kondisi pikiran yang masih terbilang kusut, aku tak merespon apa pun kalimat terakhir yang beliau ucapkan. Hingga kemudian terdengar suara deru mobil--memasuki pekarangan rumah. Aku memanjangkan leher untuk bisa menjangkau tujuan. Bisa kulihat, Ranti dan Deyandra menyembulkan tubuhnya dari balik pintu kendaraan.


__ADS_2