
Dengan napas yang masih tersengal-sengal, tubuhku ambruk di samping Vida. Sedangkan ia, kembali melingkarkan lengannya di atas dadaku yang masih terbasahi oleh keringat akibat pergumulan yang begitu hangat. Menyadari hal itu, kuedar pandangan ke arahnya, lalu mengecup sekilas keningnya, sebagai tanda terima kasih karena sudah melayaniku dengan sangat apik dalam bingkai terhormat.
Ia lantas mendongakkan pandangan dan menyatukan bibirnya dengan bibirku tanpa adanya perpagutan. Hanya sebuah kecupan hangat, sebagai tanda bahwa ia sangat menyayangiku sepenuh jiwa.
Bagaimana aku bisa tahu? Ya, karena setelah itu dia langsung mengatakannya. Menyatukan jemari kami dan menatapku lekat dengan manik mata yang berkaca-kaca. "Aku sangat mencintaimu, Sayang. Jangan pernah tinggalkan aku lagi," tuturnya dengan nada sendu.
Aku yang kepalang merasa bersalah karena sudah meninggalkannya beberapa hari yang lalu, langsung merangkul tubuhnya dari samping. Ia terus menempelkan pipinya pada tubuhku hingga bisa kurasakan hawa hangat yang mengalir dari dalam tubuhnya.
"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa aku katakan, namun sepertinya dia tersenyum mendengar dua kata yang menurutku sangat biasa itu.
Apa sebegitu berharganya kata 'Maaf' yang keluar dari sepasang bibir pasangan? Sejauh ini aku sangat jarang bahkan sulit untuk mengatakannya, kecuali didera oleh kondisi mendesak yang benar-benar memaksaku untuk mengutarakannya.
__ADS_1
Namun, menimbang dari ekspresi puas dari wajah istriku, sepertinya kata itu memang tak ternilai harganya dibanding hadiah termahal sekalipun. Bahkan aku sendiri baru menyadarinya.
...💔...
Tiga hari kemudian
"Kamu serius gak mau ikut aku ke luar kota?" tanyaku lagi padanya. Menurutku meninggalkannya sendirian di rumah selama aku bekerja di sana, malah akan membuatnya merasa kesepian.
Saat ini, kami sedang menikmati sarapan bersama dengan menu yang tak kalah spesialnya. Karena makanan apa pun yang tercipta dari tangan istriku semuanya terasa istimewa.
"Bagaimana kalau aku antar kamu ke rumah mama aja? Kalo udah pulang dari luar kota aku langsung menjemputmu di sana," tawarku. Dia lantas mengangguk setuju tanpa mengajukan bantahan sama sekali.
__ADS_1
Setelah selesai dengan pengisian energi, Vida langsung mencuci peralatan makan yang kami pakai tadi dan menyiapkan pakaiannya untuk dibawa ke rumah mama. Sedangkan barang-barangku, semuanya sudah ter-packing sempurna dan sudah dimasukkan ke dalam mobil sejak tadi.
"Udah siap?" tanyaku ketika ia sudah menuruni anak tangga dengan satu koper kecil tertenteng di tangannya.
Dia mengangguk seraya tersenyum sebagai tanggapan. Kami langsung keluar dan tak lupa mengunci pintu, sebelum akhirnya tancap gas menuju kediaman kedua orang tua Vida.
"Kamu bakalan lama, ya?" tanyanya di tengah perjalanan. Seraya me-remasi jemarinya, ia masih terus tertunduk seolah sedang mengatakan bahwa ia tidak siap akan perpisahan sementara ini. Aku mengerti perasaannya yang belum sepenuhnya puas menghabiskan waktu bersama denganku setelah terjadinya tragedi kesalahpahaman itu.
"Gak kok, paling lambat empat hari." Aku menjawab seraya menatapnya sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangan pada jalanan yang masih cukup lengang. Karena ini menjelang weekend, jadi tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang di sana. Karena yang biasa memadati rute ini adalah kendaraan para pekerja dan anak sekolah yang setiap harinya sibuk dengan rutinitas mereka.
"Empat hari, ya?"
__ADS_1
Kurasa dialognya itu bukanlah koreksian kata, melainkan ketidaksetujuannya menerima waktu perpisahan yang lagi-lagi memberi jarak di antara aku dan dirinya.
Sabarlah, Sayang. Akan kuusahakan, setelah menyelesaikan konser tersebut aku langsung kembali untuk menemuimu. Batinku tanpa merespon tanggapannya.