
Setelah hari itu, tiga hari aku tidak pulang ke rumah. Tiga hari pula aku tak menjalin komunikasi dengan Vida. Semua aktifitas kulakukan tanpa adanya kendala. Latihan dengan anak-anak band, atau pun pengauditan terhadap kinerja semua karyawan di setiap cabang restoran, berjalan dengan lancar.
Dan hari ini aku merasa lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Jadi, aku memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum akhirnya benar-benar pergi ke luar kota. Ya, konser tunggal kali ini diselenggarakan di luar kota. Tiga hari lagi kami sudah harus berada di sana. Semoga saja, semua berjalan mulus sesuai rencana.
CEKLEK
Pintu lebar dua sisi itu tersibak sempurna dan menampilkan wajah anggun yang beberapa hari ini tidak tampak di pelupuk mata. Aku masih bergeming di hadapannya, karena tidak tahu harus berbuat apa. Namun, tanpa kusadari ia bergerak melesat--menelusupkan--kepalanya ke dada bidangku, membuatku sedikit terhuyung ke belakang karena kehilangan keseimbangan. Untung saja, kekuatanku masih bisa menopang berat tubuh kami berdua.
__ADS_1
Bisa kudengar cicitan kerinduan terlontar nyata dari sepasang bibirnya ketika tubuh kami bersentuhan dalam dekapan mesra. Seperti layaknya sepasang kekasih yang sudah sekian lama tidak berjumpa. Aku yang juga sudah lama menahan rindu di dalam dada lantas merangkulnya balik seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang."
Kalimat itu selalu diucapkannya seiring pergerakan tubuh kami yang merangsek masuk ke dalam rumah. Bisa kurasakan kemejaku sedikit basah karena lelehan air mata harunya. Mungkin ia merasa sangat bahagia karena aku sudah kembali tanpa menghakiminya sedemikian rupa.
Ya, sebelum pulang, aku sudah memutuskan untuk percaya penuh kepada Vida. Walaupun kehadiran Baron tempo hari sempat menciutkan pertahananku, namun sebagai pasangan halal yang sudah berkompromi untuk saling percaya, aku tak ingin menafikan semuanya. Yang aku ... haruslah mempercayai istriku ketimbang orang asing yang bisa saja sedang memanfaatkan situasi ini untuk menciptakan perpecahan di antara kami berdua.
__ADS_1
Tanpa kusadari, kedua sudut bibirku sudah tertarik ke atas membentuk lengkungan atas rasa bangga. Berarti aku tidak salah mengambil keputusan untuk mentolerir masalah yang sudah menerpa kami berdua.
"Sudahlah, jangan menangis lagi ...!" pintaku padanya ketika sebelah tanganku mengusap lembut pucuk kepalanya. Kukecupi puncak tertinggi dari tubuhnya itu berkali-kali, menandakan bahwa aku tak lagi menaruh curiga dan yang pasti ... aku sudah memaafkannya.
Biarlah semua yang sudah terjadi menjadi bagian dari serpihan sejarah dalam kehidupan rumah tangga, yang bisa kami petik hikmahnya. Bagaimana pun aku tidak bisa menyalahkan istriku. Memiliki tubuh ideal layaknya gitar spanyol dengan tampilan wajah bak super model sudah pasti akan menjerat banyak hati--siapa pun yang memandangnya. Keramahan dan keanggunan yang menghiasi perangainya juga patut diacungi jempol dalam setiap menjalin komunikasi dengan siapa pun yang dijumpainya.
Jadi, kupikir wajar saja, baik Baron atau pun pria yang lainnya bisa tergila-gila bahkan sampai nekat melakukan hal-hal di luar batas kewajaran jika perasaannya tak disambut baik oleh Vida.
__ADS_1
"Aku juga mau minta maaf, karena sempat meragukanmu," tuturku ketika wajahnya sudah kurangkum di dalam genggaman. Dia hanya mengangguk tipis tanda memaklumi kekalutan hatiku waktu itu.
Mungkin dia juga berpikir, jika dirinya berada di posisiku saat itu, maka tak akan semudah ini dia bisa melupakan tuduhan yang berlabel pengkhianatan di masa hangat-hangatnya pernikahan.