
Satu jam setelah latihan selesai. Di sinilah aku ... menumpukan pandangan pada titik paling jernih dari segala unsur di muka bumi. Mencoba menenangkan diri dan pikiran di tepian sebuah danau kecil dengan hamparan air berwarna hijau toska.
Di atas kursi besi berukiran bunga berwarna putih, akhirnya kusandarkan tubuh bugar namun lelah secara batinku. Menatap nyalang ke depan dengan berpangku dagu pada kedua tangan yang kutumpu pada kedua lutut sendiri. Dalam kondisi seperti ini--menyendiri adalah pilihan terbaik bagiku. Rasa-rasanya aku belum ingin kembali ke rumah dan bertemu langsung dengan Vida.
Oh, Tuhaaan. Aku bahkan masih bingung akan bersikap seperti apa ketika bersitatap dengannya nanti.
Aaaarrrrgggh.
Kepalan tanganku menyatu ketika ingatan ini terseret kembali pada sosok Baron. Haruskah aku menemui laki-laki itu sekarang dan menghajarnya habis-habisan?
Tetapi, tunggu dulu! Vida sempat mengatakan bahwa aku tak boleh mempercayai perkataan pria asing itu begitu saja. Atau mungkin....
Belum selesai batinku berkicau, tiba-tiba kehadiran seseorang menyadarkanku bahwa kini aku tak lagi seorang diri di tempat ini. Dengan santai, ia mendudukkan tubuhnya di sampingku. Sontak leherku berotasi kearahnya, diiringi ekspresi wajah terperangah yang membuatku benar-benar tak habis pikir.
__ADS_1
"Gak baik ngelamun, Ib. Apalagi saat sendirian begini," tuturnya dengan suara lembut yang tak pernah berubah dalam indera pendengaranku.
Ia tak langsung menatapku, namun lebih memilih untuk tersenyum ke arah danau yang tadinya menjadi sasaran pandangku.
"Kamu ... bukannya kamu sudah pindah ke luar kota?" tanyaku dengan wajah melongo. Masih belum percaya bahwa sosok wanita di sampingku ini benar nyata adanya.
Dia hanya tersenyum simpul, lalu merunduk dengan menggoyang-goyangkan kakinya secara bergantian. Persis kelakuan anak kecil yang sedang asik bermain di ayunan. Sejak tiba di sini, ia belum memandang ke arahku sedikit pun. Mungkin takut tak bisa mengondisikan hati, atau bahkan takut jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya.
Miranti Eka Pratiwi, apa kalian masih mengingatnya?
Ya, teman sekelasku ketika duduk di bangku SMA. Dia memutuskan untuk pindah ke luar kota setelah menghadiri pernikahanku dengan Vida. Entah, karena benar dia mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan di sana, atau memang tidak sanggup untuk menjalani hari-hari tanpa sosok lelaki yang merupakan cinta pertamanya?
__ADS_1
Bukannya bermaksud ingin berbesar kepala, namun itulah yang dikatakan Ranti padaku sebelum akhirnya ia benar-benar meninggalkan kota.
Mata sipit yang terkesan kecina-cinaan itu seringkali kujadikan modal untuk mengejeknya dulu. Padahal, Ranti bukanlah wanita ketutunan cina. Bahkan wajah ayunya itu diwarisi dari kedua orang tua yang berdarah jawa tulen. Maka dari itu, dia selalu marah ketika aku menjulukinya dengan sebutan 'Amoy'.
Namun, aku tak menyangka, wajah ini tidak berubah sama sekali bahkan tampak lebih cantik dari sebelumnya, kecuali penampilannya yang terlihat lebih muslimah.
"Aku baru kembali, dan langsung ke sini. Eh, gak nyangka aja bisa ketemu ama orang yang lagi galau," cetusnya seraya terkekeh kecil.
Dia sedang mengejekku. Ya, benar, sebelum mendapatkan serangan awal dariku, dia malah memulainya terlebih dahulu.
"Jangan bilang kalau kamu galau karena berantem sama istrimu!" ejeknya lagi. Aku hanya bisa tersenyum tak enak hati seraya membuang pandanganku ke sembarang arah. Menyembunyikan kegetiran jiwaku yang saat ini memang sedang berada pada titik rapuh.
Namun, aku tak ingin kehadiran Ranti malah membuat hatiku menjadi condong. Aku harus tetap sadar diri. Karena sepengetahuanku, setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, dan setiap kehadiran seseorang pasti ada maksud dan tujuannya.
__ADS_1